Sabtu, 21 Oktober 2017

Jualan Dawet Lele Untungnya Nagih

Profil Pengusaha Lele Eka 



Siapa sangka lele bisa dijadikan minuman. Siapa sangka wanita satu ini mampu mendulang omzet dari bisnis minuman dan camilan lele Rp.70 juta per- bulan. Ditangan Eka, daging lele diolah jadi aneka camilan hingga es dawet. Bagaimana rasanya ternyata sudah menjadi minuman khas juga loh.

Minuman khas Boyolali ini membangun kesadaran. Bahwa kita harus rajin mengkonsumsi ikan, dan khususnya masyarakat Boyolali, Jawa Tengah.

Konsumsi ikan rendah, pasalnya orang Indonesia sukanya digoreng, dibakar dan dikukus. Lalu ada ide Eka merubahnya menjadi es dawet. "Jadi orang tidak merasa sedang makan ikan," imbuh Eka. Ia mangatakan selain segar, melepaskan dahaga, kandungan tinggi protein tentu berbeda dengan dawet biasa.

Omega tiga nya juga tinggi loh. Kalau dibanding dawet tepung beras tentu jauh. Itu cuma ada karbo tidak ada proteinnya.

Dengan menjual 200 gelas sehari, satu gelas dijualnya Rp.5000, bisnisnya mampu mengantungi satu omzet juta per- hari. Satu kilogram butuh 300 gram daging lele. Eka sudah memiliki trik khusus agar lele tidak bau amis.

Pertama lele dipisahkan dari tulang dan kepalanya. Kemudian daging filet itu direndam di jeruk nipis selama satu jam. Lalu bersihkan dan diaduk memakai tangan langsung. Adonan dawet itu dibuat memakai tangan tidak blender. Alasannya agar masih terasa ada tekstur daging ikan lelenya ketika diminum.

Tahun 2010 usahanya tidak berjalan lancar. Banyak orang meragukan karena ia tergolong nekat yaitu bahan baku amis mau dijadikan makanan manis.

"Orang dulu pada bergidik. Mereka jijik lho kok lele dijadikan es dawet pasti bau amis, enek, tidak enak...," jelasnya.

Imej ikan lele jadi semakin buruk karena itu. Namun, sekarang sudah berbeda, aneka olahan lele sudah bisa kita jumpai maka kenapa tidak minuman cendol. Dia dan kawan- kawan memang pantang menyerah. Mereka tidak capek menginformasikan produk ini menyegarkan dan penuh gizi bukan menjijikan.

Eka tidak cuma berbisnis es dawet, ia mengolah daging lele menjadi abon, dendeng, kerupuk, bakso, sosis, otak- otak, kaki naga, tahu bakso, galatin, lalu lele crunchy. Adapula Lestari yakni lele segar tanpa duri, kerupuk kulit lele hingga nugget lele ada.

Bisnis sederhana


Produk bikinannya dijual dengan harga Rp.10.000 sampai Rp.35.000. Abon lele menjadi jajanan satu jajanan paling diburu. Bahkan produknya ini sudah pernah dibawa ke Moskow, oleh Kementrian Perdagangan. Dibawa 200 pak, alhamdulillah habis semua, "...mudah- mudahan bisa diekspor," ia menuturkan.

Eka bercerita pernah bercerita ditawari ekspor satu kontainer keripik kulit lele. Dia cuma bisa untuk menyanggupi 200kg- 300kg saja. "..kulit lele itu kan susah, ya mudah- mudahan ada jalan lain untuk ekspor," ia menambahkan.

Hanya berbekal jualan aneka olahan lele, dia mampu mengantungi omzet Rp.60 juta sampai Rp.70 jutaan. Margin omzetnya 25%, itu sudah termasuk biaya listrik dan air, karyawan, dan mereka itu cuma bekerja dengan 15 orang.

Awalnya dia memberdayakan tetangga yang menganggur, pada 2010 silam,"...Alhamdulillah terus sampai sekarang" tutur Eka. Abon lele miliknya juga sudah berstandar nasional (SNI) sejak 2015. Ia melakukan hal tersebut agar usahanya makin meyakinkan, untuk bisa lebih membuka jalan lebih luas pemasaran.

Artikel Terbaru Kami