Senin, 04 September 2017

Biografi Pengusaha Kue Kering Yorya

Profil Pengusaha Liche Lidiawati



Ia tidak pernah berpikir akan menjadi pengusaha. Sukses baginya adalah mengikuti cita- citanya. Selepas lulus SMA, Liche Lidiawati, berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Tapi siapa sangka justru dari berbisnis aneka kue kering dia menghasilkan miliaran rupiah per- tahun.

Bakat memasak sudah menurun kepada Liche. Ibunya memang hobi memasak. Secara tidak langsung telah membawa kesukaan memasak kepada Liche kecil. Kecintaan akan memasak menjadi ketika dia sudah jadi ibu rumah tangga. Apalagi dia sudah memiliki seorang anak, dia rajin membuat aneka kue kering sehat.

Awal ia cukup mengkreasikan ulang jajanan anak. Sebut saja coco crunch dijadikan kue olehnya. Lanjut ia membuat kue kering berdasarkan resep ibu. Perempuan 30 tahun yang juga bekerja sebagai dokter gigi di Pertamina ini, menerangkan lebih lanjut tidak pernah mengikuti pelatihan khusus membuat kue.

Bisnis resep keluarga


Penggemar kue bikinan Liche tidak cuma tiga putranya. Banyak teman kantor berminat dengan kue bikinan Liche. Sejak 1996 dia resmi jualan terbatas kue kering toplesan seharga Rp.5000. Setiap kali pulang kerja dia akan membuat kue dari pukul 18.00 sampai 01.00, kue pesanan teman- teman kantornya.

Ketika pesanan sudah banyak, dia dibantu dua orang pembantunya sebagai karyawan. Lantaran enak dan juga gurih peminat kue Liche menjadi. Padahal ia mengaku tidak membuat marketing khusus ke orang- orang.

Banyak pembeli datang ketika Lebaran. Meski harga naik entah kenapa kue Liche tetap laris terjual. Kue Liche rajin ditawar- tawarkan pelanggan sendiri. Ketika krisi moneter datang dia sempat kaget. Harga jual bahan kue kan naik. Ia sempat berpikir mengerem laju produksi kue miliknya.

Meskipun harga naik, orang bela- belain membeli kue bikinan Liche, pesanan tetap membludak apalagi jika masuk Lebarran. Menyadari bahwa kesempatan terbuka luas. Kebutuhan akan kue- kue lebaran begitu tinggi maka ia tetap berproduksi sama bahkan meningkat.

Ia mengankat keryawan baru sampai 10 orang. Tidak mau tanggu dibelinya rumah sebelah buat tempat produksinya. Di tahun 2000 -an sistem keagenan diterapkan Liche. Karena bisnis hobi, meskipun pesanan membludak, dia tidak begitu pedulikan manajemannya. Agan pertama adalah orang- orang yang dia kenal sekitarnya.

Agar bisnis tetap digemari aneka varian diluncurkan. Bahan bakunya bermacam seperti buah- buahan, lalu kacang hijau, dan cokelat. Ia meraciknya sendiri menjadi varian kue kering. Kakak iparnya yang juga kerap membuat kue sering memberi masukan kepada Liche.

Bisnis serius


Semakin besar bisnis semakin besar kebutuhannya. Kapasitas produksi meningkat dibanding sebelumnya. Ia, pada 2002, mendirikan pabrik seluas 600 meter untuk menampung 80 karyawan. Tidak tanggung dia menginvestasikan Rp.1 miliar untuk membeli 3 oven besar.

Sukses berbisnis membuatnya semakin sadar. Dia kemudian membeir nama bisnisnya Yorya, yang diambil dari nama ketiga anaknya, Adya Kamara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Tahun 2009 berulah ia mematenkan nama usahanya. Liche mengaku usaha kue kering memang sifatnya musiman tidak setiap hari.

Dia membuat untuk kebutuhan hari raya kita semua. Puncak penjualan ada di Lebaran dan Natal. Namun ia meyakinkan kue kering sudah seperti kebutuhan pokok ketika musimnya tiba. "Orang yang tidak punya uang bela- belain membeli kue kering," jelasnya.

Wanita kelahiran 29 April 1955 ini, mengatakan pertumbuhan bisnisnya melonjak ketika musim tiba, sampai 15% itupun di Yogyakarta saja. Bulan biasa dia mampu menjual 50 lusin stoples kue kering. Dan ketika Lebaran- bisa mencapai 9000 lusin dalam sebulan saja. Pada hari Natal mencapai 2000 lusinan.

Ia tidak sendirian, tahun belakangan, anak- anaknya ikut membantu perkembangan bisnis Yorya Cookies. Utamanya anak kedua Ryan membantunya bidang pemasaran. Sambil berkuliah di Australia, dia membantu membangun website Yorya Cookies. Ryan jugalah menjadi sosok kunci perubahan sistem keagenannya.

Sistem agen Yorya ada tiga: Silver, Gold, dan Platinum. Untuk menjadi agen Liche tidak mengajukan syarat- syarat tertentu. Semenjak punya eCommerce sendiri, bisnisnya sampai ke Aceh hingga Papua. Ia menyebut ada 200 agen. Harga jual per agen antara Rp.45- 52.200 per- toplesnya. Harga ritelnya Rp.70- 75 ribu.

Bisnis kue kering sekarang berbeda. Tidak sama ketika dia merintis Yorya. Pesaingnya banyak jadi butuh perbedaan signifikan. Seperti ia mengembangkan bentuk- bentuk kue baru. Varian rasa yang sudah ada 100 buah. Kompetisi ketat membuatnya rela menurunkan margin untungnya, dulu 125% sekarang cuma 40%.

"Margin berkurang tidak apa- apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas," imbuhnya.

Artikel Terbaru Kami