Minggu, 10 September 2017

Kisah Pengusaha Muda Berbisnis Limbah Kulit Ikan

Profil Pengusaha Putu Ary Dharmayanti 


 
Layaknya pengusaha muda lain, Putu Ary Dharmayanti, memiliki hasrat besar untuk produknya. Bagaimana agar produk buatanya diakui masyarakat. Adalah kisah co- owner Yeh Pasih Leather, menyulap limbah kulit menjadi produk bernilai jual tinggi. Prosesnya yang ramah lingkungan membawanya hingga ke Eropa.

Dalam praktiknya industri penyamakan sapi masih bermasalah. Limbah dihasilkan mencemari lingkungan jika tidak dikelola benar. Merupakan salah satu penghasil devisa dari segi non- migas. Penggunaan bahan- bahan kimia berbahaya ditambah meningkatnya perburuan liar untuk kulit hewan tertentu.

Wanita 27 tahun, lulusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Gajah Mada, yang ingin mengajak kita sebagai konsumen meninggalkan budaya buruk. Meninggalkan pemakaian fashion kulit yang prosesnya ini tidak ramah lingkungan, mengancam kelestarian satwa, maka bergabunglah dengan Yeh Pasih Leather.

Bisnis ramah lingkungan


Berawal dari keprihatinan akan limbah kulit ikan, di Pelabuhan Benoa, Denpasar, maka Putu Ary kemudian berpikir bagaimana merubah itu menjadi barang komersil. Tahun 2009- 2012, anak pertama dari tiga bersaudara ini, bersama sang ayah I Wayan Aryana melakukan riset, dan cocok karena latar belakangnya teknik kimia.

Putu Ary mendapati bahwa bisnis penyamakan kulit menggunakan kimia berbahaya, contohnya formalin atau krom. Kemudian pewarnanya juga, maka Putu Ary memilih menggunakan pewarna alami dan juga mencari pengawet nabati aman, seperti getah tumbuhan bakau.

Kerja sama antara anak dan ayah ini sangat tidak disangka. Menghasilkan produksi kulit ikan sama yang berkualitas tinggi dan diakui Badan Standarisasi Nasional (BSN). Di tahun 2012, beberapa tahun selepas dia lulus kuliah, dia fokus menggarap bisnis penyamakan kulit ikan sebagai co- owner dan co- foundernya.

Gadis berambu panjang ini memang dikenal sebagai pengusaha muda. Dia juga berbisnis budi daya lobster, restoran, juga bekerja sebagai public speaker di sebuah perusahaan, pernah dilakoni. "Namanya juga anak muda yang sedang mencari jati diri, saya akhirnya menemukan passion di bisnis keluarga ini," jelasnya.

Kenapa kulit ikan? Jawabanya gampang, karena Indonesia merupakan negara maritim, produksi ikannya sampai 47,6 juta ton atau setara 52 persen produksi dunia versi Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Bali sendiri merupakan sentra filet ikan terbesar kedua di Indonesia, dengan sekitar 23 unit usaha di Benoa.

Ada 40 persen bagian tubuh ikan yang dipakai, sisanya berupa kepala, tulang, ekor, dan kulit terbuang menjadi limbah. Satu usaha filet ini menghasilkan 3000- 4000 lembar limbah kulit per- hari.

Kulit ikan kan unik memiliki guratan- guratan. Bekas sisik itu sangat eksotis jika dijadikan produk fashion. Seratnya kuat juga cocok menjadi produk samakan. Tren melihat bahan kulit eksotis dan ekslusif memang tidak bisa dipungkiri. Pemain utama kulit ikan ada Australia, Islandia, Kanada, Rusia, dan Indonesia.

Keunggulan Indonesia adalah tidak mengenal musim. Ikan melimpah ruah hingga menunggu kita mampu atau tidak memanfaatkannya. Jika negara lain bahan bakunya tunggal yakni salmon, negara kita memiliki aneka ikan untuk disamak kulitnya.

Usahanya menggunakan tiga jenis ikan: ikan kakap, barramudi, dan mahi- mahi. Kakap memiliki ukuran sedang dengan permukaan kulit rapi. Cocok buat bahan baku tas, dompet, alas kaki, ikat pinggang, dan juga aksesoris.

Ikan barramudi ukuran sisik sedang, permukaan lebih panjang. Mahi- mahi punya sisik kecil, halus, jadi ini sangat potensial menggantikan kulit sapi, atau kulit sintetis untuk lapisan kulit sebuah produk. Dia dan ayah mengembangkan tiga unit mesin sendiri.

Meskipun sekala produksinya masih rumah tangga, Yeh Pasih Leather, sudah menjangkau luar negeri seperti ke Rusia, Prancis, dan Jepang. Mereka dibantu 10 pengrajin, dan 6 orang diantaranya merupakan tetangga mereka.

Besarnya publikasi dan mengikuti aneka pameran membuat pesanan lembaran kulit ikannya terus meningkat. Ia mengatakan untung diraih bisa sampai sekitar Rp.30 juta per- bulan. Kesuksesannya tidak mengalami kendala berarti. Kenaikan permintaan membuat dampat siginifikan dalam biaya operasi dan profit tentunya.

Permintaan dari luar negeri memang paling besar. Pembeli luar membeli hingga 10 ribu lembar dalam setiap bulannya. Bersyukur ada bantuan kredit Jamkrida Bali hingga kapasitas produksi sudah mencapai 3000 lembar. Putu Ary membeli kulit ikan sisa filet Rp.5 ribu per- kg di Benoa.

Jika dijual di dalam negeri, lembaran kulit ikan yang sudah ia proses seharga $3, maka jika dikirim ke luar negeri harganya $14 per- lembar. Prinsip bisnis Yeh Pasih Leather adalah bebas limbah. Sisik ikan yang tidak terpakai masih bisa dijadikan cangkang kapsul. Daging ikan yang menempel bisa diolah abon atau pakan ternak.

Pemanfaatan kulit ikan merupakan solusi untuk Indonesia. Bagaimana kita nanti bisa menjadi pemain besar di industri kulit dunia. Putu Ary mengajak semua anak muda untuk menjadi wirausaha, bukan cuma duduk dan menjadi pekerja semata. "Bisnis terbaik adalah bisnis yang segera dimulai," ia menuturkan.

Artikel Terbaru Kami