Rabu, 13 September 2017

Candy Corner Jualan Permen Kiloan Pilih Sendiri

Profil Pengusaha Rosmerie dan Rich Andreas 



Jika orang Filipina atau orang Pinoy berpikir tentang permen, maka bisa dipastikan tidak ada terbersit dalam pikiran mereka sebuah ide bisnis. Inilah kenapa Rosemerie "Bubu" Andrew melihat peluang bisnis tersebut ketika orang lain tidak pernah terpikirkan.

Dia bersama sang suami, Ricky Andreas, memulai bisnis permen pada 1996, yang kemudian diberi namanya Candy Corner, dimana bisa meledak menghasilkan banyak gerai di mal- mal.

Rose membawa permen yang tidak ada di negaranya. Konsep bisnisnya adalah mencampur permen, kita tinggal mengambil apa yang kita suka sedikit, ditambah ini- itu dijadikan satu kemudian tinggal membayar. Ia melihat konsep ini di negara lain. Dan dia yakin orang Filipina akan senang melakukan hal yang sama.

Tantangan bisnis


Tantangan berbisnis ini adalah tempat jualan. Karena permen itu murah, jadi kita butuh banyak orang yang membeli, bagaimana caranya agar banyak orang lewat di sana. Rose mengaku betul bahwa biaya sewa di mal mahal. Tetapi mereka meyakini memiliki kemampuan untuk menarik pembelian.

Tantangan lainnya adalah masalah jumlah permen. Perlu diketahui Rose tidak bisa sembarangan mengimpor permen. Karena jika impor akan dihitung kiloan, semakin banyak impor, maka biaya pengiriman akan makin membengkak sedangkan harga jual harus murah.

Lambat laun mereka menjadi pemain besar di bisnis permen. Bukan lagi beberapa tetapi sampai kontainer berisi permen. Candy Corner menjadi pemilik retail permen serta vendor bagi penjual kecil. Apa yang bisa membuat bisnis mereka tetap menghasilkan volume penjualan tetap.

Ialah bagaiman mempertahankan level kegembiraan dan ekslusipan. Ada standarisasi dalam pengiriman permen cokelat ke grosir, supermarket, ke pasar malam, dan outlet kecil, dimana semakin banyak varian, rasa, jenis, permen yang dijual Candy Corner.

Mungkin hal paling membanggakan adalah, fakta bahwa Rose merupakan ibu dari tiga orang anak. Rose mengatakan bahwa keluarga adalah nomor satu. Jika bukan karena mereka yang mendukung bisnis ini maka bisa dipastikan semua tidak akan terjadi.

"Jika mereka membutuhkan aku setiap waktu, aku tidak akan pernah sukses mengerjakan pekerjaan dan juga rumah tangga, jadi aku mengajarkan mereka independensi sejak dini," paparnya.

Dia membawa pembelajaran tentang pentingnya kejujuran, apalagi jika menyangkut akademis. Sebagai seorang mompreneur, Rose juga aktif dalam organisasi bernama Entrepreneur's Organization (EO). Tujuan utamanya membangun koneksi, bagaimana menjadi seimbang antara bisnis dan pribadi, mengisi hidup lebih lagi.

"Aku adalah wirausahawan ibu," ia lanjutkan, "Aku bahagia dengan pernikahanku, dan Ricky dan aku yang membesarkan 3 anak yang menakjubkan sedangkan tetap aktif dalam EO," tegasnya.

Bisnis penuh rintangan


Bisnis ini sempat booming pada era 90' an, tetapi lain ceritanya jika kita berbicara kita berbisnis pada tahun milenia ini. Tetapi mereka membuktikan mampu bertahan dengan berbagai strategi. "Permen dilihat sebagai cara membuat orang senang. Itu adalah hadiah kecil murah."

Diantara kisah bertahannya tersimpan kisah pilu jatuh- bangun. September 1999, pusat bisnis mereka yang ada di Bagong Ilog, Pasig City, terbakar hingga habis. Mereka mendapatkan telephon pada malam harinya. Begitu pagi harinya mereka tiba, itu semua sudah terlambat!

"Apinya terlalu besar untuk dikendalikan," ujar Ricky.

Mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menonton. Mereka kehilangan apapun semua kantornya itu hangus terbakar. Di dalamnya ada inventaris senilai $129.192,66, dan totalnya adalah $193.788,99. Yang tersisa adalah boks anti- api dan sebuah map berisi buku check, buku pass, dan tiga gulung tisu toilet.

Rose mengatakan mereka butuh seminggu untuk recover. Mereka pindah ke kantor lain di New Manila, untung surat asuransi masih ada di dalam boks anti- api. Semuanya sedang dipersiapkan namun sayangnya, pihak asuransi menolak menanggung semuanya walaupun mereka sudah lama berasuransi.

Beruntung mereka sudah membuat periapan terpisah. Dimana semua tentang hari Natal sudah dipersiapkan. Dimana semua stok permen sudah ada di tempat masing- masing. Persiapan yang sudah matang untuk dua bulan ke depan.

Sambil menyusun kembali inventory, mereka meminta tambahan waktu buat memperpanjang kredit tempat mereka. Disisi lain, mereka mencari hutang kanan dan kiri, dari teman, bank. Mereka juga harus berurusan dengan kantor pemerintah untuk mengurus dokumen- dokumen.

Mereka harus merendahkan harga diri mereka. Memohon kepada suplier untuk menghandle pembayaran lebih lama dan tetap mensuplai. Mereka meminta pinjaman lagi ke manapun. Mereka tetap berekspansi meskipun modalnya terbatas. Mereka mulai berhemat mengendalikan pengeluaran mereka ke depan.

"Itu menyangkut banyak kesabaran, fokus, tidur sampai larut malam -dan, ya, menahan semua tekanan dari luar," tutur Rose.

Rose -yang merupakan lulusan Asian Institute of Management, mengambil Master di Entrepreneurship- meyakinkan diri untuk menahan kredit mereka. Pembayaran apapun tertunda tidak bisa dihindari. Tetapi dia mampu meyakinkan suplier, kreditur, investor, dan meyakinkan mereka bahwa bisnis mereka akan terbayar.

Semua hal tersulit berjalan selama lima tahun. Pada 2005, semua kredit mereka sudah terbayar, dan arus kas sudah berjalan. Tidak ada solusi cepat. Orang terdekat mereka cuma menyarankan untuk menabung ke 10 tahun kedepan. Dan itu tidak ada lagi saran lebih baik lagi dibanding semuanya.

Menyerah bukanlah pilihan, Rose mangatakan, tetapi godaan untuk itu akan selalu datang. Agar mereka tetap pada tekatnya, termasuk membuat waktu keluarga ke luar negeri bersama. Mereka meyakinkan diri untuk tetap bersama bangkit. "Api itu mungkin masalah terbesar dan tersulit pernah kami alami," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami