Selasa, 12 September 2017

Pengusaha Muda Kelom Sepatu Kayu Unyu

Profil Pengusaha Nadia Mutia Rahma


 
Banyak lah pengusaha muda yang memulai coba- coba. Tidak sedikit mereka mengalami kesuksesan besar. Ambil contoh Nadia Mutia Rahma. Siapa sangka sepatu kelom atau sepatu kayu itu, bisa terjuang hingga ke manca negara. Kemampuan Nadia melihat tren anak muda, desainnya modern, jadilah satu paket menjual.

Kalau cuma berbentuk sandal kayu biasa tidak bisa. Butuh kreatifitas mendukung membuatnya jadi lebih menarik lagi. Kan sekarang orang lebih suka menggunakan sandal japit dari karet. Ditangan Nadia, sandal yang juga disebut teklek, meskipun mengendalakan desain tetapi harus nyaman, dan akhirnya disukai orang.

Bisnis bernama Kloom Clogs, merupakan kreasi tangannya sendiri, identitas produknya adalah desain batik dan ukiran menggunakan teknik cat air brush. Dia juga memadukan kayu dan kulit khas Eropa. Hasilnya sudah tidak lagi tampak sekedar sandal, tetapi menjadi karya seni, modern, fashionable, dan elegan.

Bakat seni dan bisnis


Dengan bisnis Kloom Clogs, dia mampu menghasilkan omzet Rp.250 juta per- bulan untuk pasar lokal dan banyak lagi untuk pasar luar negeri. Kerja keras merupakan kunci sukses Nadia sekarang. Warga asli Nusa Loka, BSD City, ini mendesain sendiri sepatu kayu buatannya.

Ia memang sudah senang desain sejak kecil. Nadia kecil senang menggunting- gunting gorden rumah menjadi prakarya iseng. Beranjak dewasa dia memiliki hobi lebih terarah. Lambat laun hingga dia mendesain sepatu miliknya sendiri. Bukan perkara mudah karena untuk berbisnis, Nadia bahkan menjual mobilnya sendiri.

"Modalnya seharga satu mobil he- he- he," kekehnya.

Ia menceritakan kalau dia tidak dikasih modal. "Waktu itu mama ku belum kasih modal..." imbuhnya. Jadi kebetulan ketika dia belajar di Jepang itu. Dia sempat bekerja part- time. Disaat pulangnya terbeli lah satu mobil hasil jerih payahnya di sana.

"...terus mobilnya dijual, itu (mobil keluaran) tahun 2000 -an," ia menjelaskan. Karena uang sudah ada buat modal usaha, ia segera mengeksekusi ide bisnisnya.

Namun kendala lain menghadang dari sumber berbeda. Kali ini, Nadia kesulitan menemukan penjahit yang bisa memenuhi hasratnya, wanita asli Yogyakarta ini kesulitan menemukan penjahit di kota kelahirannya itu. Penjahit disana terbiasa membuat sandal biasa, bukan bergaya Eropa seperti rancangan Nadia.

Berbulan- bulan dia mencari akhirnya menemukan penjahit. Uang modal digunakan membeli bahan baku dan membayar pengrajin. Masalah kembali datang karena dia butuh waktu. Maksudnya apa dirancang dia saat dibuat tidak sesuai harapan. Butuh proses percobaan agar produk terutama kayunya biar pas dan nyaman.

Berbagai macam kayu diuji coba oleh Nadia. Akhirnya ia menemukan bahan kayu sampang dan mahoni yang diambil dari Garut dan Kalimantan. Hingga banyak lagi jenisnya, jenis kayu dipakai Nadia berbagai macam asli Indonesia. Berbahan kayu Kloom Clogs tergolong ringan disaat dipakai oleh wanita.

Nadia mengatakan ada teknik khusus untuk mengawetkan kayu. Termasuk bagaimana agar kayu jadi lebih ringan. Teknik khusus seperti getahnya dihilangkan, dijemur dulu, atau direndam beberapa hari. Pokoknya ini sudah melewati percobaan terlebih dahulu bukan sembarangan produksi.

Bisnis ratusan juta


Selain memasarkan dalam negeri, dia juga menjual ke luar negeri dan sebulan mampu menjual 400 pasang, hingga bisa dihitung berapa omzet bisnis ini. Nadia secara terbuka menyebut omzet di angka Rp.120 juta. Produk yang dikerjakan di bengkel pribadinya Yogyakarta dan Tangerang, Banten.

Ibunya, Nurdiyanti, ikut membantu sang anak berbisnis. Sejak kecil dia memang hobi menggambar dan lalu mendesain sepatunya sendiri. Nadia sendiri pernah belajar desain di Jepang. Kemudian soal teknologi kulit ada di Yogyakarta. Selanjutnya Nadia belajar mengenai anatomi sepatu sampai ke Swedia.

Usahanya dirintis 2009, ia memilih alas kaki kayu karena unik, bermodalkan 20 model sepatu kemudian dijajakan. Pemasaran dipasarkan ke kekerabatan dahulu. Di perjalanan waktu, produk sepatunya semakin dikenal dari mulut ke mulut. Pesanan bertahap datang kemudian semakin membesar berjalanannya waktu.

Setelah berjalan barulah dia meminta dimodali orang tua. Maka dijual lah mobil itu, dan menghasilkan uang Rp.90 juta untuk dijadikan modal. Dukungan orang tua ternyata tidak sia- sia. Bermodal besar sehingga mampu mengembangkan wirausahanya.

Nadia membandrol harga sepatu Rp.350.000- Rp.800.000 per- pasang. Kloom pun gencar membuka gerai sampai ke berbagai mal, seperti Gandaria City, Pondok Indah Mall, dan BSD City. Namun sekarang fokus mengikuti pameran wirausaha.

Saat ini produk kelom bikinannya sudah sampai ke Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia, dan Denmark. Ada juga yang dikirim ke Australia dan Singapura. Untuk produksinya ditargetkan dari 4000 menjadi 6000 pasang per- bulan. "Fokus kami tidak hanya di pasar ekspor, tapi juga akan lebih giat dalam pasar dalam negeri."

Sejak kelas dua SMA atau tahun 2006 silam, Nadia tinggal di Jepang, mengikuti sang ayah yang ditugaskan di sana. Di sana dia menemukan banyak teman bahkan dari berbagai negara. Salah satunya dari negara Skandinavia, jika anak muda Indonesia bersepatu asing, maka si anak Skandinavia ini malah pakai kelom.

Selepas enam bulan bersekolah di Esmod Tokyo, pulanglah dia ke Yogyakarta, hingga mulai mencari para penjahit guna memenuhi hasratnya. Awalan dia cuma membuat tujuh pasang kelom, dan membandrol harga Rp.250.000 per- pasang, barang itu langsung ludes dibeli tetangga.

Otak bisnis yang menurun dari ayahnya berputar. Kebetulan dia suka gambar, dari sekedar mendesain biasa, ia mulai mendesain sendiri lebih bagus. Otodidak dia belajar mendesain sendiri sandal kelomnya. Ia lantas memutuskan mengikuti pendidikan Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta, fokus dalam mempelajari kulit.

"Cuma bertahan tiga bulan. Baik di Esmod maupun ATK tak sampai lulus," ia mengenang.

Dari kedua sekolah tersebut, Nadia menemukan jaringan bisnis, dan mendapatkan jaringan pembeli dari luar negeri. Awal produksi dia langsung membuat banyak. Bersama lima pengrajin, dipasarkan lewat sosial media seperti Facebook dan Blog. Sang ibu pun membantu dalam pemasaran agar Nadia fokus berproduksi saja.

Kembali menjual mobil dijadikan modal usaha kembali. Ia berencana memperbesar jumlah produksi kala itu. Ia juga memperkuat dari permesinan. Dimana 70% produksi dilakukan oleh mesin, sementara sisanya lebih mengandalkan kreatifitas manusia.

"Nah, mencari tenaga untuk membuat ini sangat sulit. Benar- benar harus mendapatkan orang yang terampil," ia menutup.

Artikel Terbaru Kami