Kamis, 03 Agustus 2017

Toko Kebakaran Bangkrut Tetapi Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Nazmah Armadhani 



Menjadi pengusaha harus siap mengambil resiko. Begitu juga sukses Nazmah Armadhani, masih saja dia teringat cemooh tetangga. Waktu itu Nazmah sudah bekerja kantoran. Sebagai lulusan Sarjana, kok, gaji Nazmah tidak sebesar gaji babysitter.

"Sarjana kok gajinya kalah sama babysitter ku," ia menirukan.

Dia, seorang ibu rumah tangga memiliki tiga anak, bekerja kantoran cukup menyita waktu. Tetapi hasilnya tidak sebesar perjuangan mencapai gelar sarjana itu. Terselip keinginan membuka usaha sendiri. Namun dia belum punya bayangan. Berbisnis sepatu lukis? Menggambar saja Nazmah tidak bisa mau melukis lagi.

Bertitle Sarjana Ekonomi, pencapain Nazmah ialah bekerja sebagai editor, dan itupun di perusahaan kecil buku- buku Islam. Tahun 1992 digajinya uang Rp.80.000 per- bulan. Sedangkan sang babysitter tetangga gajinya Rp.400.000 per- bulan.

Malu Nazmah mendengar kenyataan hidup. Apalagi ditambah ejekan soal suami yang betah di kampung karena jam kerja Nazmah. Sang suami memang tinggal terpisah di kampunya, Banjarmasin, Kalimantan. Ia mencapai titik kesal ketika harus mengandung anak kedua.

Tahun berlanjut, masuk tahun 2000, anaknya sudah masuk TK -yang cukup mentereng di Surabaya. Yang mana isinya anak- anak tergolong mampu. Dibanding Nazmah, maka ia tidak ada apanya, justru ketika itu dia mulai mengamati paluang masuk ke dunia mereka.

Modal pertemanan dan tetangga toko di Pasar Turi. Dimana suaminya adalah pedagang ritel di sana. Maka Nazmah mendapatkan harga kusus buat ambil barang. Lantas dia mencoba menjajakan ke mereka berbekal mengamati mereka. Bisnis busana muslim Nazmah baru saja dimulai sambil membawa anak bungsu jalan.

Awalnya dia sama sekali tidak berani menawarkan. Mental tempe katanya. Padahal dia sudah bawa banyak barang tetapi tidak jadi dijual. Sampai ada ibu mendekati Nazmah karena penasaran akan barang bawaan -yang sangat besar itu. Nazhmah hanya tersenyum penuh arti. 

Sang ibu spontan nyeletuk. Rasa ingin tau membawanya membuka bawaan Nazmah. "Lho ini dijual ya, saya buka ya?" terang Nazmah. Dari sanalah kepercayaan lebih timbul. Mulai Nazmah berubah menjadi sosok pengusaha pakaian muslim sekaligus ibu rumah tangga.

Musibah bisnis


Diantara perjuangannya menjadi pengusaha. Kabar buruk terjadi yakni dua toko suaminya terbakar. Alhasil dia kehilangan banyak modal usaha. Padahal satu toko tersebut merupakan toko baru. Tetapi memang itu sudah menurun pendapatannya dan akhirnya terbakar. Tahun 2007 kerugian ratusan juta diterima dia dan suami.

Memulai bisnis kembali memang susah. Tapi Nazmah membuktikan dirinya mampu. "Dua toko kita habis, pas mau bulan puasa. Dua tahun kita bingung karena nggak ada pemasukan," ia mengenang. Dan suatu saat, sang anak mulai membuat lukisan di atas sepatu polos, Nuzmah lantas menjajal masuk ke pameran.

"Ternyata ibu gubernur suka," jelasnya.

Padahal bisnis dijalankan Nuzmah terbilang pasaran. Banyak sudah pengusaha masuk di bisnis tersebut. Tapi ia meyakinkan diri bahwa produknya berbeda. Pengalaman merupakan hal terpenting. Namun, disisi lain, Nuzmah merupakan sosok pelajar mengamti pasar dan juga kemampuan pegawainya.

Jika pengusaha lain sudah percaya diri. Nuzmah yang tidak bisa melukis. Mempercayakan kepada mereka yang cuma lulusan SD. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi justru disana ada ketelatenan. Dan darah seni tidak memandang jenjang pendidikan.

Hasilnya produk Nazmah seperti buatan pabrik. Garisnya rapih bukan sembarang goresan. Karyawannya cukup lima orang asal Jawa Timur. Bahan cukup cat sablon atau cat akrilik, kemudian sepatu polos didapat dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Bandung juga.

Omzet sampai Rp.20 juta kalau ikutan pameran. Sedangkan kalau tidak mengantungi omzet Rp.6 jutaan. Ia menambahkan masalahnya karena produknya nyempil di toko orang. Tidak terlihat mencolok namun pasti menarik pembeli. Ada 60 pasang dijamin laku ketika sudah keluar dari rumah produksinya.

Harga bervariatif antara cewek dan cowok beda. Harga mulai Rp.100- 300 ribuan, dan kalau cowok kan medianya besar jadi harganya lebih mahal. Nuzmah sendiri belum merambah pasar ekspor. Alasanya ya karena prosesnya berbelit. Walaupun sudah ada penawaran tetapi masih dia tolak buat memenuhi pasar.

Ia membayangkan keribetan ekspor. Sudah lagi ada kendala bahasa, dan ditambah lagi keharusan merapikan manajemen dulu. Bagi pengusaha sepatu lukis waktu empat tahun dianggapnya kurang. Mungkin 10 tahun lagi. Pemasan bisa memesan dengan model sendiri inilah kelebihan dia.

Warna cerah menjadi andalan brand Dhona Dani ini. Tips sukses buat kita? Nazmah mengatakan bagi kita pengusaha pemula, tidak khusus pengusaha sepatu lukis ya, harus percaya diri akan karya kita sendiri. Dia mengatakan kita harus selalu optimis ada masa depan di bisnis kita jalankan.

Artikel Terbaru Kami