Rabu, 30 Agustus 2017

Jualan Sosis Bandeng Untung Jutaan

Profil Pengusaha Imam Tantowi 



Aneka olahan ikan bandeng sudah banyak. Bukan berarti tidak ada prospek bisnis. Ini contohnya jika kita pandai menebak pasar lewat kreatifitas. Salah satunya Imam Tantowi, pengusaha satu ini membidik bisnis sosis bandeng. Dengan membuat bandeng jadi gampang dimakan bebas durinya yang menjengkelkan.

Beda dengan presto yang masih ada kepala dan ekor. Sosis bandeng lebih halus teksturnya buat disantap. Mas Anton, begitu dia biasa disapa, sudah mengembangkan bisnis sosis ini sejak akhir 2015 di Bekasi. Ia mendirikan Izzan sebagai merek dagang sosisnya.

Uang Rp.1 juta digelontorkan untuk bisnis. "Separuhnya hasil pinjam kakak saya," jelasnya. Susah memang mencari modal usaha. Tetapi Anton semangat karena yakin ide bisnisnya akan sukses. Anton sudah nekat menjadi pengusaha karena perusahaan media tempatnya bekerja bangkrut.

Beruntung dia sudah siap mental, menjadi wirausaha sudah menjadi pilihan semenjak dia bekerja. Pria 35 tahun ini tidak serta merta meluncurkan Izzan. Butuh tiga bulan hingga ia menemukan resep tepat. Dia lalu menambahkan telor dalam campuran dagingnya.

Resep rahasia


"Plus bumbu (rahasia) yang saya racik sendiri," paparnya.

Teknik pembuatannya: Pertama ikan bandeng, telor, dan bumbu di campur, digiling satu wadah. Kemudian itu digiling lembut dan dimasak dengan cara khusus. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut caranya. Soal teknik agar adonan bebas dari duri juga tidak dijelaskan (rahasia mungkin).

Selepas matang daging ditaruh kembali di kerangka, lengkap dengan kepala dan ekornya. Agar terlihat nih produknya benar- benar bandeng asli. "Jadi tetap mempertahankan bentuk asli, tetapi kalau dipotong tidak ada durinya," paparnya. Untuk kualitas terbaik sengaja dia memilih bandeng hitam sebagai landasan.

Karena bandeng hitam tidak mengandung lumpur. Tidak ada bau lumpur di dagingnya nanti. Bandeng jenis ini dibeli di Bekasi, Cikarang, Karawang, dan Rengasdengklok. Dia memilih yang segar seharga Rp.15 ribu sampai Rp.16 ribu.

Dan nama sosis bandeng ini sudah terkenal di tiga daerah, yakni Cirebon, Banten, dan Semarang. Kalau di daerah ini namanya macam- macam. Dari bandeng gepuk di Cirebon, sate bandeng di Banten, dan otak- otak jika di Semarang. Tetapi ia meyakinkan buatanya berbeda karena merupakan resep rahasia khusus.

Bisnis ini prospeknya tinggi hanya belum tergali. Agar populer butuh diperluaskan pemasarannya, agar keuntungan bisa jadi berlimpah ruah. Anton sudah menebar benih bandeng sosisnya, dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Makassar. Semua dipasarkan lewat keagenan tersebar di berbagai kota.

Berbisnis terus dia mampu menembus pasar supermarket, seperti Giant, Hero, Farmers Market Kelapa Gading, dan Mal Pondok Indah 1. Juga termasuk beberapa restoran Sunda di Jabodetabek. Dibantu empat karyawan mampu memproduksi 1.400 kardus. Satu kardus berisi bandeng seberat 185grm harga Rp.15- 17 ribu.

Omzet Rp.13 juta sampai Rp.15 juta per- bulan. Omzetnya dikatakan turun karena musiman, bisa sampai Rp.20 jutaan. Pelebaran sayap pasar seperti ke Bandung menjadi solusi. Alasannya dia mendangar di sana cocok dikembangkan. Karena kota ini dianggap tempatnya orang Jakarta mencari oleh- oleh buat dibawa.

Artikel Terbaru Kami