Kamis, 10 Agustus 2017

Kisah Mualaf Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami