Senin, 03 Juli 2017

Pengusaha Diejek Karena Inovasinya Kaos Kaki Bambu

Biografi Pengusaha Taufik Rahman


 
Tidak mudah bagi Pak Taufik Rahman menjadi seperti sekarang. Banyak hal pernah dilalui Taufik yang dulu pernah diolok karena inovasinya. Siapa sangka berbekal bambu dia bisa membuat produk fashion. Unik karena produknya menciptakan inovasi di bidang tekstil.

Produk bambu sudah dipakai di Jepang dan China. Tetapi nampaknya baru Taufik yang menggunakan nama fiber bambu. Diolahnya menjadi sepatu dan kaos kaki. Tidak mudah, karena awal- awal tahun, dia tidak mendapatkan laba sama sekali. Bahkan sempat menggadaikan rumah untuk mendanai bisnisnya tersebut.

Keyakinan besar lah membawa Taufik sekarang. Bayangkan pria asal Jombang, kelahiran 8 November 1964, ini mampu menghasilkan Rp.2 miliar perbulan. Mulainya 2010, berawal produk kaos kaki dulu, lalu dia kembangkan sepatu, t- shirt, dan sweater.

Karyawan jadi pengusaha


Sebelum menjadi pengusaha, Taufik menjalani kehidupan seperti kita yakni karyawan. Dari desa pergi ke kota, bekal Taufik membawanya bekerja di perusahaan farmasi. Memulai bisnis sampingan dulu dia mulai coba- coba menjadi pemasok barang- barang komputer, pabrik kaos kaki, dan menyalurkan pupuk organik.

Segala jenis usaha dijalankan dia sebagai sampingan. Menjadi pengusaha memang susah bahkan istrinya sempat pesimis. Menyebutkan tidak berbakat pengusaha. Bukan jalur hidupnya. Tetapi ia ngotot sampai dia juga jadi juragan restoran seafood. 

Aisyah, istri Taufik, melihat betul kegagalan demi kegagalan. Dengan penuh semangat Pak Taufik ngotot mendeklarisikan dirinya sebagai pengusaha ke istri. "Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang sudah menguasai bidang ini," terangnya, merasa beruntung pernah jadi karyawan dulu.

Berbisnis aneka macam sampai menggadaikan sertifikat ke bank. Di tahun 2003, dia berbisnis membuat aneka kaos kaki, tidak pernah mendapatkan untung tetapi ia yakin bisnis ini akan sukses. Bisnis kaos kaki bernama Parker. Berbekal uang pesangon kerja Rp.40 juta dibelikan mesin dan menggaji satu karyawan.

Prinsi kerjanya adalah mutu terjamin. Ide tentang menggunakan benang bambu muncul. Tidak segan dia mencari tau kemudian mengimpor. Bahan baku dibeli dari China sebesar 5 ton, yang kemudian dipintal di Bandung sendiri. Awalnya dia mengimpor benang sudah terpintal, kemudian mencoba memintal sendiri.

Disaat bersamaan dia meyakinkan masyarakat. Ia mencoba meyakinkan tentang serat bambu. Bahkan ini bisa dijadikan produk fashion siap pakai. "Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang saja, disangkanya bohong. Karena saya tidak bisa membuktikan ini bambu beneran apa bohong," kenang Taufik.

Memang soal bahan bambu ini belum populer. Menurut penilitian daya serap keringatnya bagus. Inilah yang digunakan dia sebagai landasan promosi. Dua thun tidak laku apa yang dirasakan Taufik? Tidak apa dia katakan. "...yang penting saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari kegagalan itu," jelasnya.

Kain serat bambu memang ramah lingkungan. Seratnya itu 3,5 kali lebih kuat menyerap air daripada kain katun. Dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah tak terdaur ulang.

Bisnis terus


Sekarang mengantungi omzet Rp.250 juta, omzet meningkat seiring dengan munculnya peminat pakaian berserat bambu. Ia mengatakan modal awal Rp.100 juta dan omzetnya segitu naik- turun. Dijual beraneka ragam dengan harga kompetetif dengan bahan katun.

Kisaran harga untuk kaos kaki Rp.70 ribu sampai Rp.100 ribu. Lalu harga kaos Rp.100 ribu, Rp.200 ribu, sampai Rp.400 ribu. Kemudian sweater harganya Rp.500 ribu dan sepatu antara Rp.400 ribu sampai satu juta rupiah. Bisnis yang diberinya nama Bamboo Studio, sudah melalang buana dibanyak acara UKM.

Dia memiliki 25 karyawan melebarkan sayapnya lewat berbagai pameran manca negara. Mulai pameran di lokal, kemudian Hong Kong, Malaysia, sejak 2012 silam.

Mengenang masa susah selama satu dasawarsa merupakan cara bersyukur. Dia tidak menjadi lupa diri akan kesuksesan sekarang. Dimulai tahun 2010 silam, Pak Taufik membuat kaos kaki kulit sapi setiap bulan. Ia kesukaran mendapatkan bahan. Barulah dia mencari tau bahan lain yang lebih natural dan gampang dicari.

Terpikir kulit ikan nila, biawak, dan katak lebuh. Pokoknya aneh- aneh pikiran Pak Taufik. Tengah mencoba mencari alternatif bahan. Ketertarikan tersebut ditunjang kreatifitas berpikir tentang produk apa. Untuk produksi dia menggaet pengrajin lokal, satu pasang bisa dibuat 2 sampai 5 hari, ada 25 pengrajin dibawah dia.

Produksi sepatu sampai 1000 buah tiap bulan. Dimulai dari serat bambu dipintal, dijadikan benang, lalu dicelup, kemudian dirajut sesuai corak. Barulah digabungkan prosesnya hingga menjadi kain. Dari lining, insole, outsole, hingga heel.

Artikel Terbaru Kami