Senin, 10 Juli 2017

Kain Tenun Ikat Kediri Mustain Sampai Eropa

Profil Pengusaha Sukses Mustain


 
Naiknya pamor kain tradisional, termasuk kain tenun memberikan dampak siginifikan kepada pengusaha di daerah. Salah satunya Mustain pengusaha kain tenun asal Kediri. Apalagi namanya kain tenun Kediri sudah tidak asing lagi bahkan sudah menjadi produk ekspor.

Ketika Ramadhan mendekati Lebaran, bisnis Mustain semakin laku keras. Moment tersebut membawa berkah lebih. Tidak diragukan lagi kualitas kain tenun Mustain juara. Dengan menggunakan mesin yang masih tradisional, kain tenun Kediri buatanya lebih padat dan awet dipakai.

Jenis kainnya tenun ikat dibuat dari helaian benang pakan atau benang lusin. Setelah itu dikat dicelupkan ke zat pewarna alami. 

Dia bersama sejumlah perajin lain asal Kediri. Masih bertahan berbisnis. Meskipun pesang surut terutama dia bertahan. Usaha Mustain memang sudah turun- temurun di keluarganya. "Pembuatan kain tenun itu butuh waktu lama," paparnya. Memang prosesnya tidak semudah dibayangkan ketika jadi.

Sebelum ditenun disiapkan mesin tenun dulu. Helai benang ditata dipasang sesuai warna keinginan. Itu kemudian ditenun manual, disusaikan warna, dan corak tradisionalnya."...atau pola khas yang diinginkan," ia jelaskan.

Prosesnya lama dimulai benang panjang dan polos, ditenun sedemikian rupa menjadi lembaran kain besar tenun. Benang kemudian digulung. Diberi motif dan pola sesuai keinginan pembuat. Diwarnai dengan pewarna alami berbagi warna. Berbekal alat tenun kayuh kaki dan tangan, benang dirangkai menjadi kain.

Penenun harus siap menggerakan badan penuh ketelitian. Mustain memaparkan pengrajin kain tenun ini sangat langka. Dibuat sangat tradisional dianggap tidak praktis. Kesabaran dan ketelatenan yang sangat susah diterapkan ke anak muda jaman sekarang.

Langka adalah deskripsi buat kain tenun Kediri. Padahal sangat diminati konsumen, terutama di wilayah Jawa, luar Jawa, bahkan luar negeri. Kain tunun Kediri kuat dibanding kain tenun instan, harganya sangat bervariasi dari Rp.165 ribu sampai Rp.500 ribu per- lembar.

Jenis kain tenun ditawarkan perpaduan katun, dan semi sutra. Bisa dipakai buat busana atau dijahit menjadi pelapis mebel, penghias interior bahkan kelambu.

Produk tenun buatanya tembus pasar internasional. Salah satunya H. Mustain, pemilik merek Kurniawan, setiap minggu mengirim 180 meter ke Amerika. Selain itu dia mengirim ke Malaysia selain di Jawa dan luar Jawa. Ada 35 karyawan dan 20 alat tenun warisan leluhurnya untuk berproduksi memenuhi pasar.

Meskipun pemasaran masih belum maksimal. Dimana memproduksi 80 meter kain, di pasaran baru bisa terserap 60 persen, lalu distoknya itu buat dijual pada masa- masa tertentu. Ambil contoh ketika lebaran dia akan keluarkan tuh.

"Untuk promosi sekarang kita tidak mampu, kita saat ini hanya menunggu perantara," jelas Mustain.

Ada 14 tahap pengerjaan kesemuanya manual dikerjakan. Pemberian motif merupakan hal paling penting. Kemudian pengikatan benang menjadi kain. Meskipun pasar sudah masuk Eropa para pengrajin belum lah puas. Masih mau menembus pasar lain, sayang kurang promosi, dan dukungan pemerintah daerah minim.

Potensi yang tengah digali ialah bersinergi. Yakni bersenergi dengan pemerintah daerah membuat tujuan wisata. Desa tenun menjadi pandangan kedepan Mustain. Kemudian kerja sama dengan pecinta wisata agar tempat ini menjadi salah satu destinasi. Ia bekerja sama dengan biro perjalanan miwasata buat berkunjung.

Melalui konsep ini bukan barangnya keluar. Tetapi orangnya diajak masuk untuk melihat sendiri. Lewat biro perjalanan akan membawa mereka datang dan pulang bawa oleh- oleh.

Artikel Terbaru Kami