Senin, 31 Juli 2017

Patungan Kandang Ayam Pemberdayaan TKI

Profil Pengusaha Abdullah Hadi 



"Saya memilih sendiri strategi bisnisnya serta strategi menjalankannya," terang Abdullah Hadi. Yang punya visi kewirausahaan kuat. Ketika TKI Indonesia lainnya, lebih memilih menanam investasi tanah, Hadi lebih memilih membangun usahanya sendiri. 

Dan tidak sembarangan, tidak sekedar membuka warung makan. Hadi pernah berbisnis budidaya lele. Uang hasil menabung dari gaji TKI. Kini, dia malah dikenal sebagai pengusaha ayam kini, mantan TKI ini lantas mulai bercerita tentang kisahnya.

Kerja di Korea


Demi sukses, tahun 1997, Hadi berangkat ke Korea Selatan lewat uang gadai. Ia memantapkan diri buat menjual tanah milik orang tua. Tiga tahun di Korea dia bekerja di perusahaan terpal. Tiga tahun sudah dia bekerja di sana. Hadi meninggalkan Korea kembali ke tanah Sukolila, Kab. Pati, Jawa Tengah.

Mimpinya menjadi pengusaha di bidang perairan. Yakni menjadi pengusaha lele, dan akhirnya lewat uang bekerja di Korea, jadilah Hadi berbisnis lele.

Alasan dia ingin jadi pengusaha lele. Karena daerahnya banyak air -cocok dibuat empang lele mungkin. Tapi keberuntungan tidak membawa ia sukses. Padahal dia sudah pakai semua uang hasil mengumpulkan uang gaji itu. Namun kegagalan tidak bisa ditolak maka Hadi jatuh, "Saya gagal pulang dari Korea"

"Cita- cita yang saya idamkan jadi pengusaha, gagal," kenang Hadi.

Ketika dalam keterpurukan itulah, Hadi memilih menemui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Tujuannya mencari usaha apa lagi bisa dijalankan. Adakah program pemberdayaan buat TKI macam dia. Ternyata ada. Dan program tersebut difokuskan untuk bagaimana cara beternak ayam.

Program pemberdayaan tahun 2015, dia bersama tiga orang lainnya, para TKI asal Korsel ini lantas diajari membangun peternakan ayam modern. Kadang sebesar 100x10 meter persegi dan sudah ada pengolahan limbahnya terintegrasi.

Namun ternyata usaha ini membutuhkan biaya sampai Rp.1- 2 miliaran. Untuk itu pihak BNP2TKI beri jalan lewat hutang dari Bank BNI, dengan jaminan sertifikasi tanah. Uang Rp.2 miliar ditangan makalah tinggal membangun kandang ayam. Dua kandang ayam besar sudah dikerjakan Hadi siap menghasilkan.

Hadi bermitra dengan PT. Super Unggas Jaya (Suja), anak perusahaan Cheil Jedang Feed Indonesia, yang mana merupakan perusahaan peternakan asal Korea. Mereka menjadi pemasok bibit ayam Kop kepada Hadi dan kawan.

Ayam siap panen dalam usia 22 hari, bobot 1kg dan 29 hari bobotnya 1,6kg, dan bisa dihargai Rp.4000- 5000/ekor. Singkatnya dalam 24 kadangnya sekarang ada 600.000 ekor. Untuk selanjutnya dia mengajak sesama TKI Korsel untuk membangun pusat rejekinya sendiri.

"Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tidak perlu kembali bekerja di negeri orang," jelas Hadi.

Setiap empat orang akan investasi satu kandang, dimana populasi ayam 30.000- 40.000 ekor. Modal awal ya uang mereka bekerja di Korsel. Total omzet per- kandang sampai Rp.135 juta- Rp.180 juta/bulan. Hadi sendiri memiliki 220.000 ekor.

Bisnis Hadi dinamai Sonagi yang berarti bersih- bersih dalam bahasa Indonesia. Tidak cuma berhenti di ayam, Hadi membuka bisnis pertanian dan kursus bahasa Korea sebagai tambahan.

Artikel Terbaru Kami