Kamis, 22 Juni 2017

Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Artikel Terbaru Kami