Senin, 19 Juni 2017

Biografi Pengusaha Mebel Jepara yang Sukses

Profil Pengusaha Furnitur Ali Sodikin



Nama kota furnitur dimana lagi kalau bukan Jepara. Banyak perajin kayu berasal dari daerah tersebut. Ialah Ali Sodikin sedikit dari banyak namanya menanjak. Anak petani ini diangkat ceritanya oleh Kontan.co.id. Orang tuanya petani tetapi lingkungan Ali di Jepara adalah para pengrajin kayu.

Akhirnya pria 37 tahun ini tertarik akan dunia mabel. Dia kemudian memutuskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk memperdalam ilmu desain. Sayangnya, karena kekurangan biaya, dia akhirnya drop- out kuliah. Lantas apa yang dilakuan Ali muda selanjutnya berikut lengkapnya.

Desainer mebel


Pulang ke Jeparang langsung memilih bekerja. Pekerjaan pertama Ali adalah membuat desain untuk rumah mabel. Gambarnya masih pakai tangan. Ternyata perasaan mau kuliah masih membara. Dia sempat mau berkuliah di Jepara saja. Namun urung dan kembali berhenti di tengah jalan.

Waktu krisis moneter banyak kena imbas. Termasuk pengusaha mebel asal Jepara. Dampaknya tempat Ali kerja bangkrut. Ali lalu lari ke Jekarta mengadu nasib. Di sana dia memasuki dunia yang sama apalagi kalau bukan dunia mebel atau furnitur.

Beda dengan pengusaha mebel Jepara. Di Jakarta, mereka tidak memakai kayu semuanya, tetapi adalah perpaduan antara triplek dan kayu. Baru ketika di Jakarta dia belajar bagaimana material mebel. Sudah memegang material sendiri, Ali nekat berbisnis sendiri di Jepara, dimana semuanya dimulai tidak sengaja.

Dia secara tidak sengaja mendapat pesanan pintu rumah. Pembeli menantang Ali memenuhi pesanan itu. Ia menanggapi serius dan pembeli itu puas. Berlanjut pembeli tersebut mulai memesan lebih banyak. Adanya keberuntungan itu ditanggapi Ali lebih serius, pesanan mulai dari furnitur isi kantor dan rumah juga.

Mulai pemesanan semakin banyak datang. Guna menggarap itu, Ali kemudian meminta pinjam alat dari kakaknya, yang kebetulan menjalankan usaha mebel di Jepara. Tetapi usaha sang kakak itu bangkrut ketika krisis datang dulu. Ali kemudian mengambil alih semua peralatan dengan uang Rp.13 juta.

Sudah punya peralatan Ali berani buka workshop sendiri dengan sewa. Sudah memiliki workshop sendiri, Ali menerima kontrak pembuatan lantai kayu dari sebuah pabrik di Solo. Dia menerima orderan yang mungkin sulit tetapi dikerjakan. Meskipun pengalaman minim tetap dikerjakan buat menggaji karyawan.

Menambah modal dilakukan Ali berbagai cara. Termasuk ikut ajakan Pemerintah Daerah untuk datang ke Pulau Seram, Maluku, guna memberikan penyuluhan anak muda agar memanfaatkan kayu. Dua bulan dia bekerja di sana kemudian balik ke Jepara.

Bisnis lanjut


Pria kelahiran Jepara, 6 Juni 1978 ini, pada 2006 silam mendapatkan perhatian dari pembeli luar negeri. Dari dia, Ali mendapatkan pesanan berupa aneka furnitur luar rumah atau outdoor. Bisnis beresiko sih, Ali mengatakan tidak ada pembayaran uang muka, sebuah bisnis beresiko sulit mekanisme pembayarannya.

Untuk menyelesaikan masalah, dia memutar otak, caranya menghubungi pemasok yakni dari pengrajin lain dibidang mebel ini. Tujuannya agar cepat menghasilkan barang. Dan, anehnya, Ali berani menggelontorkan uang lebih meski tanpa uang muka. Dia beli lebih mahal agar bisa cepat dikemas dalam 6 kontainer siap kirim.

Pembayaran selesai, sukses Ali semakin percaya diri akan bisnisnya. Dimana bisnis itu berjalan ke tahun- tahun berikutnya. Jumlah pesanan bertambah tiap tahun. Mulai 6 kontainer, menjadi 10 kontainer, lalu sampai 24 kontainer. Dalam satu periode bisa mengirim hingga 43 kontainer sejak 2009- 2010.

Meskipun dianggap orang sebagai bukti kesuksesan. Menurut Ali, menanggapi ekspor belum tentu kita katakan sukses, karena tidak ada uang muka beresiko tinggi. Apalagi pasarnya makin kompetitif banyak pemainnya. Mangkanya tuntutan keuangan kuat harus dimiliki pengusaha macam Ali.

Suami Yuni Fatciah ini mengaku, agak kurang nyaman berbisnis seperti itu. Karena tidak sedikit pengusaha bangkrut karena bisnis ekspor tersebut. Padahal untungnya tipis, kalau dilanjutkan Ali harus punya modal kuat tegasnya. Celah lain adalah memperkuat penjualan dalam negeri sambil tetap melayani ekspor mebel.

Kemudian dari segi profit, penjualan mebel indoor lebih tebal dibanding mebel garden furniture. Jadilah dia semakin gesit menggarap furnitur dalam ruangan. Model- modelnya didesain semenarik mungkin buat di mata. Caraka Creasindo menawarkan solusi produk furnitur untuk kebutuhan keluarga di ruangan.

Contoh satu paket furnitur untuk lobi hotel. Desainnya semenarik mungkin bisa agar menarik pengunjung hotel. Tidak cuma membuat meja kursi, termasuk membuat aksesoris buat menambah keindahan. Akhir 2011, dia semakin matang berbisnis furnitur indoor, dan mulai mengurangi pengiriman mebel outdoor.

Tetap berjualan outdoor termasuk pasar luar negeri. Namun, jumlahnya terbatas, agar bisa disesuaikan dengan keadaan keuangan dan kenyamanan perusahaan Caraka Creasindo. Masih menjual aneka furnitur outdoor ke Eropa, Timur Tengah dan Kanada kok.

Untuk pasar lokal makin digenjot Ali. Khususnya memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran. Dengan penargetan ini Ali yakin bisnisnya tidak akan berhenti di satu titik. Kini, dia mampu mempekerjakan 60 orang karyawan.

Artikel Terbaru Kami