Minggu, 11 Juni 2017

Rugi Bisnis Konsinyasi Tetap Berjuang Terus

Profil Pengusaha Kartika Yuswadi Soediwardojo 


 
Siapa sangka berawal keisengan menjadi bisnis serius. Kesenangan seseorang siapa sangka, seperti kisah dari Kartika Yuswadi, yang merubah kesenangan menjadi bisnis. Iseng dia menjual hasil karya kerajinan tangan miliknya. Dia memang hobi membuat aneka pernak- pernik gelang sendiri.

Nama lengkap wanita 28 tahun ini, Kartika Yuswadi Soediwardojo, hobinya mengkoleksi buku. Dimana dia memilih jurusan kuliah D3, kemudian berlanjut S1 dibidang Ekonomo Manajemen di Univesitas Islam Indonesia.

Sebelum usaha gelang dia pernah usaha lain. Bisnis kecil- kecilan membuat aneka kartu ucapan. Yang dia lalu jual kepada teman- teman kuliah. Bosan, Kartika lantas mencoba sesuatu yang baru, alasannya usaha itu dirasa tidak efesien dalam waktu. Kan dia melanjutkan kuliah tentu meskipun renggang tetapi harus efektif.

Bisnis gelang


Awal dia mempunya banyak waktu kosong, karena Kartika mengambil program ekstensi, jadi materi kuliah sudah habis di awal. Waktu kosong disempatkan membuka- buka buku bukan pelajaran. Dia mempraktekan apa di buku handycraft yakni membuat kerajinan kertas -awalanya sekali tuh.

Uang Rp.50 ribu digunakan untuk modalin awal. Uang segitu menjadi aneka kartu ucapan, atau berupa juga bookmark buku. Lantas dia titipkan ke penjual Malioboro. Ternyata, eh ternyata, jualannya laku terjual loh dan membuat dia semakin bersemangat menitipkan barangnya ke toko- toko souvenir lainnya.

"Saya nekat menitipkan hasil kerajinan tangan saya ke toko- toko tersebut," ia menerangkan. Lewat para penjual Malioboro nama Karika kokoh sebagai pengusaha muda.

Waktu itu jujur tidak diperhitungkan sama sekali. Dia tidak perhitungkan biaya produksi, biaya operasional dia keluarkan. Pokoknya dibenaknya titip dan laku terjual. Padahal dia harus membayar biaya konsinyasi besar yakni senilai 50%. 

Dia santai saja karena hal terpenting laku. Apalagi produknya belum terstandarisasi, dan ada yang belum layak jual menurutnya. Pada waktu itu dia dapat untung Rp.50 ribu bulan pertama, dengan produksi yang masih kecil segitu sudah banyak.

Potongan konsinyasi tidak dipikirkan. Yang penting dia melihat prospek bisnis tersebut. Maka wanita kelahiran 8 April 1980, mulai memproduksi kerajinan lainnya, seperti clay, peperquilling, clay tepung, knitting, sulam dan sebagainya.

Bisnis berlanjut

Ia lantas menambah modalnya. Uang Rp.1 juta hasil pinjam orang tua diglontorkan. Kartika mulai fokus untuk mengerjakan bisnis sampingan ini. Alhasil dia kini tidak lagi menganggapnya bisnis sampingan. Ia tetap fokus merampungkan kuliah kok. Dasarnya rasa penasaran mencoba apa di buku tersebut lagi dan lagi.

Pelan tetapi pasti dia belajar lewat praktik. Mencoba apa di dalam buku kembali. Dua bulan dia mengawali bisnis. Bayangkan dia mengantungi untung Rp.700.000.000. Kartika senang karena bisa merangkul lebih banyak karyawan. Sekarang dia tidak bisa menjalankan bisnis sesuka hatinya lagi.

"...sudah ada tanggungan gaji karyawan dan tagihan ini itu yang perlu saya pikirkan," tandasnya.

Semula hanya sampingan sekarang menjadi bisnis utama. Kemudian dia beri nama bisnisnya itu Semoet Ketjil dan menjadi salah satu pengusaha muda kebanggaan Indonesia.

Produk andalan Semoet Ketjil lainnya. Adalah aneka gelang lucu. Berkat ketekunan, dia mampu tidak lagi berkonyasi, tetapi kerja sama saling untung dengan beberapa toko. Bahkan Semoet Ketjil sendiri yang ditawari kerja sama. Kartika sendiri tidak terobsesi dengan keuntungan bakal diraubnya nanti.

Kualitas baginya menjadi nomor satu. Hal desain berbeda membuat produknya gampang disukai. Saat ini dia berproduksi 1000- 1500 buah, seharga antara Rp.15 ribu- 500 ribu. Karena bisnis dijalankan berdasar passion jadi terlihat santai.

Dia sendiri tidak memiliki rahasia khusu sukses. Sarana promosi juga umum seperti sosial media. Tetapi dia menekankan selalu berinovasi. Bagi pemula, ingatlah untuk mengamati potensi sekitarnya dulu, jadi tidak tergesa- gesa berbisnis. Memang bisnis butuh perhitungan sebelum meluncurkan produk kamu.

Contoh, kan dia tinggal di kawasan wisata, jadi dia lihat apa yang potensi dari daerah Yogyakarta itu, maka jadilah bisnis aneka aksesoris miliknya.

Artikel Terbaru Kami