Senin, 26 Juni 2017

Biografi Singkat Syahir Karim Pengusaha Oleh- Oleh Haji

Profil Pengusaha Pemilik Bursa Sajadah 


 
Hidup Syahir tidak mudah hingga seperti sekarang. Pengusaha oleh- oleh Haji ini, bercerita tentang masa kecilnya harus bekerja keras kepada awak media. Sejak umur 14 tahun sudah "dipaksa" bekerja keras. Dan hasilnya dia adalah pemilik toko Bursa Sajadah, usaha beromzet ratusan juta.

Orang baru naik haji pasti paham nama toko oleh- oleh haji. Buat mereka jamaah haji yang tidak sempat membeli oleh- oleh. Inilah solusi mereka buat membahagiakan keluarga di rumah. Nah, salah satu toko oleh- oleh terkenal adalah Bursa Sajadah, pemiliknya bernama Syahir Karim Vasandani.

Cabangnya sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Bisnisnya mulai dari jualan air zam- zam, aneka sajadah, mukena, kerudung, tasbih, teko, cangkir arab, lalu karpet. Produknya datang dari produksi dalam negeri. Sisanya Syahir mengimpor langsung dari Arab Saudi sendiri.

Perjalanan panjang bisnis


Pria kelahiran Surabaya, 18 November 1949, ini sudah bekerja keras sejak kecil. Alasannya karena sejak umur tiga bulan dia sudah yatim. Sejak umur 14 tahun, Syahir kecil sudah mengerti bahwa sebagai lelaki dia harus bekerja. Ia tidak tega melihat perjuangan ibu apalagi Syahir punya empat adik kecil.

Tidak tanggung dia bahkan berhenti sekolah buat kerja. Waktu itu dia sekolah kelas lima sekolah rakyat atau setara sekolah dasar. Pekerjaan pertama dia menjadi pegawai pengusaha tekstil asal India. Kerjaanya apa saja membantu tidak tetap satu bidang.

Ia mengerjakan bahkan hal aneh tidak ada hubunganya dengan tekstil: Seperti menyemir sepatu atau dia akan disuruh membuang sampah. Ia sempat hijrah ke Jakarta namun kembali lagi. Di Surabaya, Syahir lalu kembali bekerja di perusahaan tekstil lagi pada 1864, hingga pekerjaanya mapan jadi manajer penjualan.

Total dia bekerja di Surabaya lagi selama enam tahun. Syahir namapaknya puas dengan karirnya yang mulai bagus. Sesekali dia mencoba berbisnis tekstil sendiri meski gagal. Tahun 1972, ia hijrah ke Bandung dan melamar ke pabrik tekstil di Majalaya, yang juga punyanya orang keturunan India.

Sudah jadi rahasia umum kalau orang India lebih merekrut keturunan India juga. Orang tua Syahir sendiri berasal dari Hydrabad Syind, Pakistan. Cara unik dilakukanya untuk mendapatkan ilmu gratis. Karena dia bekerja pada malam hari, maka paginya Syahir masuk meskipun tidak bekerja sama sekali.

Datangnya pagi hari cuma buat observasi bagaimana pimpinan pabrik bekerja. "Saya mencari ilmu setiap hari," jelasnya. Dia bekerja, lalu menikah, dimana menetap di Bandung sampai 1979. Tahun 1980 dia lalu dikirim ke Negeria membantu penjualan kosmetik si boss. Tidak lama Syahir bekerja di negeri orang dan kembali.

Empat tahun di Indonesia lagi, barulah Syahir berniat membuka usaha sendiri lagi. Tetapi pulang dari sana, dari Negeria membawa masalah, karena kebiasaan minum disana terbawa hingga Indonesia. Dia menjadi sosok pemabuk. Alhasil mau membuka usaha malah gagal terus karena uangnya kepakai buat mabuk lagi.

Tobat jadi pengusaha


Tahun 1992 dia bertobat tidak lagi minum- minuman. Ia berhenti minum sekaligus berhenti merokok, dan mulai mendalami agama. Di tahun 1993, dia mengajak istri menunaikan ibadah Haji di Mekah. Pulangnya dia membuka toko oleh- oleh haji di kawasan Jalan Palaguna, Bandung, yang bernama Babussalam.

Uang modal membuka toko oleh- oleh haji. Ada Rp.10 juta merupakan hasil sisa simpanan dan pinjaman. Dia bisa dibilang genius. Karena apa, karena bisnis semuanya sudah dihitung, dan Syahir belajar buat mengatur uang perusahaan terpisah.

Ceritanya sebelum bisnis oleh- oleh ini. Syahir sudah lebih dulu berbisinis jaket kulit Garut. Bisnis jaket ini menjadi penompang bisnis oleh- oleh Hajinya. Tepatnya tahun 1994, dia menekuni pembuatan jaket kulit sampai ekspor 1000 buah. Karena mulai sepi memutar otak memindahkan uang modalnya ke bisnis ini.

Alasan bisnis oleh- oleh Haji ternyata datang dari pelanggan. Mereka iseng mengucap kebutuhan mereka ke Syahir. Mulai lah dia mendatangkan barang- barang dari Mekah dan Madinah. Lalu pabrik garmen di Majalaya dan Kopo, memproduksi tidak cuma jaket tetapi kemeja, rompi, baju olahraga, dan lainnya.

Alkisah tahun 1993, ia pulang beribadah haji, teman lama datang ke rumah. Ngobrol macam- macam lalu sang teman meminta pekerjaan. Lebih tepatnya tidak meminta langsung tetapi bercerita butuh pekerjaan. Ia langsung menawarkan pekerjaan di tempatnya. Dan kebaikan itu berbuah manis ternyata diujung cerita.

Bayangkan, Pak Krisna, teman lamanya itu ternyata sangat handal dalam penjualan. Seorang salesman yang tangguh dari sejak pengunjung masuk toko. Pokoknya kalau ditangani dia, pengunjung pasti pulang dengan membeli sesuatu. Syahir memang orangnya mengapresiasi orang lain, terutama karyawannya sendiri.

Baginya karyawan merupakan aset penting perusahaan. Disisi lain tidak ada tuh namanya break event point atau target tertentu. Pokoknya ia menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Dari bentuk kerja keras serta didukung oleh sikap baik. Lahirlah perusahaan bernama PD Aarti Jaya yang berbisnis bidang garmen.

Tahun 1998, dari PD Aarti Jaya menjadi CV Aarti Jaya, dan semakin besar jadi PT. Aarti Jaya. Kini SKV -begitu nama bekennya- memiliki sekitar 1000 karyawan. Dimana ada 30 UKM yang menjadi pemasok ke toko- toko miliknya. Tokonya kini menjual lebih dari 6000 jenis produk tekstil dan oleh- oleh haji.

Toko Bursa Sajadah sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Malang dan Solo. Satu pencapaian lainnya ialah, bahwa Bursa Sajadah merupakan pengimpor terbesar aneka sajadah dan karpet dari Turki, Arab Saudi, India, Iran, dan Uni Emirat Arab pada umumnya.

Kini, bisnisnya, sudah diserahkan ke sang anak Heera Syahir Karim Vasandani, yang mana juga memiliki segudang prestasi dalam melanjutkan bisnis sang ayah. "Allah mau

Artikel Terbaru Kami