Senin, 05 Juni 2017

Bisnis Sepatu Kulit Mahasiswa Keterusan Suksesnya

Profil Pengusaha Jangkar Sri Kusumo Wibowo 



Kekuatan pengusaha muda satu ini adalah keberanian. Prinsip dipegangnya usaha dulu, tidak ada kata buat keraguan. Meskipun ada masalah, Jangkar Sri Kusumo Wibowo tetap usaha meskipun kegagalan pasti membayangi langkahnya. Dia tidak pernah takut berwirausaha.

"Bagi saya, yang penting action dulu. Saya tak mau ragu- ragu," paparnya.

Bisnis dicoba Jangkar adalah memproduksi sepatu kulit. Prospek bisnis ini nampak jelas. Kita tau bahwa sepatu sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Dilihar dari segi kegunaan, fashion, serta estetika maka sepatu tengah digilai anak muda.

Bahkan pria jaman sekarang rela. Mereka rela merogoh kocek untuk mengkoleksi sepatu. Sebuah hal yang tidak kita temui ketika dulu. Inilah coba diraih oleh industri sepatu lokal. Bagaimana caranya pengusaha muda seperti Jangkar mengambil celah kebutuhan anak muda -yang tergeneralis oleh perusahaan besar.

Perubahan trend tidak diikuti oleh perusahaan sepatu besar. Sementara mereka sibuk menebak pasar yang terlalu luas. Pasar lokal menjadi perhatian khusus Jangkar. Apalagi sebagai anak muda tentu dia lebih tau kesuksaan anak muda kita sendiri.

Pengusaha lokal jaya


Prospek cukup tinggi dilihat Jangkar. Pemuda 23 tahun ini ternyata mampu meraup untung jutaan rupiah. Ia mengaku tumbuh ide karena hobi. Dia memang hobi beli sepatu tipe leather footwear atau sepatu kulit. Ia tidak peduli mereknya. Sepatu lokal banyak dimiliki Jangkar tidak pilih- pilih merek.

Pembuatan sendiri mulai digeluti April 2012 silam. Awalan dia mensurvei pasar dulu, tidak langsung saja membuat produk. Dia mensurvei jenis apa yang cocok buat anak muda. Mencari tau sepatu macam apa yang dia sukai bukan cuma mengandalkan selera pribadi.

Dia kepikiran kesukaanya akan sepatu kulit. Lalu dia langsung aksi tidak pakai pikir lama. Mahasiswa dari Universitas Airlangga ini, langsung mencari siapa bisa bikin. Uang digelontorkan Jangkar ada Rp.8 jutaan dan jadi 32 pasang.

Per- pasangnya dia jual Rp.450 ribu sampai Rp.425 ribu. Dalam waktu dua bulan habis sudah barang dia buat. Omzetnya kemudian digunakan untuk membeli bahan baku kembali. Hasil produksi dan penjualnya mencapai untung Rp.15 juta. Dia sangat senang dan bangga karena merupakan bisnis pertamanya.

Kan jarang nih, apalagi mahasiswa, menghasilkan uang sendiri murni dari berbisnis bukan jadi karyawan tengah waktu. Sudah 10 bulan dilakui diakui masalah tetap ada. Meskipun langsung untung, Jangkar akui ada saja masalah berdatangan, berwirausaha memang tidak mudah teman.

Prinsip Jangkar pasti ada celah dibalik setiap kesulitan. Dia tinggal memikirkan dimana letak celah itu. Ia memastikan kita tidak boleh berhenti mencari jalan keluar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dia menyebutkan beberapa masalah dihadapi. Pokoknya tanamkan dibenak kita harus selalu semangat usaha.

Masalah seperti produksi yang molor, ngaret, dari deadline yang dia berikan ke pihak produksi. Atau yang ngaret pengiriman bahan baku ke tempatnya. "...itu saja yang bikin sebel," curhatnya.

Mengusung nama Zappier dia mencoba mereguk pasar anak muda. Modelnya mengusung modal kuno, ia menyebutkan model broques, modelnya Inggris kuno. Kan biasanya anak muda suka sporti dan kasual. Dia mencoba menawarkan gaya vintage yang berbeda.

Modelnya elegan jadi tidak keliatan jadul. Cocok buat anak muda menurutnya. Alhasil usaha yang dimulai sejak 2017 itu. Akhirnya meraup perhatian anak muda Indonesia. Pelanggan datang merupakan anak muda berbagai profesi.

Omzetnya mencapai Rp.15 Juta per- bulan dimana terjual rata- rata 32 pasang, terjual offline ataupun online. Produknya masuk toko- toko baik di Surabaya, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Dia menggunakan kulit domba asli awet 4 tahun lebih. Hingga nama Zippier diminati para artis musik indie.

Para artis tersebut bahkan membawa brandnya ke luar negeri, sebut saja Endah n Rhesa, Sore Band, Rock n Roll Mafia. Memang berbisnis ini tidak bisa langsung dihargai seperti sekarang. Pasang surut sudah dia temui. Semua masalahnya menurut Jangkar merupakan proses pendewasaan berwirausaha teman.

Bisnis Jangkar juga mulai berkembang tidak cuma pada sepatu, ada produk dompet, belt, gantungan kunci, slingbag, dan beberapa aksesoris berbahan kulit lainnya.

Artikel Terbaru Kami