Sabtu, 03 Juni 2017

Mencari Kemasan Rendang Terbaik Uni Farah

Profil Pengusaha Retno Andam Sari 


 
Namanya Retno Andam Sari, sedikit dari banyak pengusaha rendang kemasan sukses. Ceritanya berbeda dan wajib kita simak bagaimana dia menangani persaingan. Semua bermula ketika, di 2004 silam, dimana dia mulai mencari ide bisnis.

Dari ide bisnis apa bisa dijadikan hantaran. Makanan apa yang khas Padang, yang bisa dijadikan hantaran buat pernikahan. Maka dia berpikir tentang rendang dalam kemasan. Dia kemudian menamai usaha rendang itu Uni Farah. Naman yang berdasarkan nama putrinya sendiri dan memulai usahanya.

Berawal rendang dikemas dalam toples. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia mencoba. Retno memang ingin menciptakan alternatif. Tujuannya agar berbedang dengan rendang lain. Lalu dia tawarkan sebagai hantaran Lebaran.

Sesuatu yang nyeleneh atau unik tidak langsung sukses. Ia bercerita bagaimana pandangan sinis orang ke dia. Beberapa melihat keunikan dan melihat rendang dalam toples masuk akal. Mereka inilah peminat rendang Uni Farah. Lambat laun orang banyak semakin meminati rendang tersebut karena memang enak.

Pengemasan produk


Sukses rendang dalam toples, Retno belum merasa nyaman dengan jualannya. Ia berpikir bagaimana agar jualannya lebih mantap. Bagaimana agar kemasan lebih aman terutama ketahanannya. Bagaimana agar juga nyaman dikirim dan dibawa ke mana- mana.

Maka dia berpikir tentang rendang divakum. Rendang kemasan vakum lebih aman, menjadi lebih bersih, jadi lebih praktis, lebih lama disimpan. Kalau kamu simpan di freezer bisa tahan sampai 6 bulan. Kalau disimpan di chiller rendang bisa tahan 3 bulan. Di suhu ruangan bertahan sampai 2- 3 minggu.

Ibu dua anak ini semakin mantap menjajakan rendang kemasannya. Seperti kata penulis sebelumnya ada saja yang nyinyir melihat rendang kemasan Retno. Mereka merasa gak penting dikemas seperti ini. Ya karena mereka bisa menemukan rendang dimana- mana.

Rendang kemasan belum dianggap penting. Butuh waktu buat mengenalkan produk rendang kemasan itu, ya kesabaran sebagai pengusaha diuji, banyaknya rumah makan padang dianggap masyarakat tidak perlu ada rendang dikemas.

Masyarakat lantas mulai menyadari keberadaan produk Retno. Mereka mulai memesan untuk keperluan traveling -seperti membeli buat dibawa oleh orang yang berangkat haji. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah atas. Mereka dianggap lebih sadar akan kepraktisan rendang dikemas vakum miliknya.

Mereka yang suka kepraktisan buat dibawa dan disimpan. Pikiran Retno mengarah ke populernya nuget dan sosis dalam kemasan. Kenapa produk lokal seperti milik kita tidak bisa. Meski kemasan sudah sangat modern ternyata dia tetap tradisional.

Pembuatan rendang buatanya masih pakai tungku kayu bakar. Agar menjaga kualitas rasa masakan Sumatra Barat katanya. Uang 3 juta dibelikan mesin vakum cuma satu, dan bahan baku daging dan bumbu. Lalu dibuat menjadi rendang aneka rasa. Ia ciptakan rendang suwir, rendang paru, rendang ayam, dan udang.

Harganya variasi mulai Rp.28 ribu sampai Rp.450 ribu. Ukuran mulai 100 gram sampai 1 kilogram. Sarjana desain grafis Universitas Trisakti ini. Juga tidak tinggal diam melihat minyak rendang yang jatuh menetes. Ia terinspirasi akan minyak zaitun dan minyak cabai yang dikenal masyarakat.

Apa guna minyak rendang tersebut. Bisa digunakan menambah cita rasa rendang. Atau bisa kamu gunakan untuk memasak nasi goreng atau bahkan pasta. Biar rasa rendang tersebut mengalir menjadi penyedap rasa ke masakan kamu. Minyak tersebut didapat dari hasil tirisan rendang yang sudah jadi.

"Minyak rendang ini menjadi penambah aroma masakan," tuturnya. Per- botol 250cc dibandrol Rp.50 ribu. Ia mengatakan hasil untunga dari keseluruhan mencapai 15- 20 persen.

Artikel Terbaru Kami