Kamis, 22 Juni 2017

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Artikel Terbaru Kami