Jumat, 26 Mei 2017

Rencana Usaha Ayam Bakar Mahasiswa Sukses

Profil Pengusaha Dymas Tanggul Panudju 


 
Semenjak kecil, Dymas Tanggul Panudju, memang gemar berwirausaha. Baka bisnisnya berkembang walau dia tidak bersekolah khusus. Mahasiswa Universitas Brawijaya, jurusan Teknologi Hasil Pertanian, malah memilih bisnis ayam bakar. Mungkin terlihat banyak persaingan tetapi pemuda 28 tahun ini mampu.

Menyalip diantara bisnis serupa bukan mudah. Dipicu oleh kekurangan biaya kuliah. Dymas mulai sibuk bekerja sampingan. Pilihan tidak menyenangkan adalah memilih bekerja langsung atau tidak kuliah, atau tetap kuliah tetapi keteteran. Jadi dia membuat opsi sendiri dia memilih mengakali biaya kuliah sendiri.

Dia bekerja di sebuah rumah makan. Lanjut dia bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan katering. Dia mendapatkan gaji cukup. Dari katering ternama tersebut dia bisa melanjutkan kuliah. Rangkul hari mu atau seize the day, yakni prinsipnya bahwa keseharian harus diisi oleh hal- hal berharga.

Mangkanya selain sibuk bekerja dan kuliah, Dymas sempatkan diri mengikuti organisasi di kampus. Lalu ia diangkat menjadi steering committee. Jabatan bergengsi di organisasi kampus, kemudian dia mulai menemukan kasus- kasus, seperti bahwa kampus membutuhkan jasa katering.

Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa membutuhkan konsumsi buat anggota seminar dan panitia seminar. Ia kemudian mendapatkan tugas buat menyiapkan konsumsi. Tetapi keterbatasan dana menjadi masalah. Ia tetap semangat. Pokoknya tugasnya bagaimana menciptakan makanan murah tetapi berkualitas.

Bisnis katering


Jujur dia kembingungan menghadapai pesanan tersebut. Dymas mulai berpikir keras bagaimana mampu menyediakan menu tersebut. Disisi lain keinginan menjadi pengusaha katering muncul. Pasalnya karena kebutuhan makanan pesanan memang sangat dibutuhkan. Memang bisnis kuliner tidak pernah ada matinya bukan.

Prospek sebut saja jika 6000 orang hadir, dimana ada tiga hari dalam sepekan, dan dimana kegiatan itu sudah bersifat rencanan tahunan atau sudah pasti ada. Disisi lain, organisasi memiliki 10- 16 program kerja, dimana nanti akan ada pesanan sendiri.

Dymas mulai hitung- hitungan di atas kertas. Hitungan 36 Universitas di Malang, dimana jika mereka nanti menjadi pelanggan katering yang akan Dymas dirikan. Sudah berapa keuntungan bisa diraih oleh pemuda tersebut.

"Orang yang terbiasa menggunakan otak kanan akan melihat titik finish dimana ada banyak sudut pandang meskipun dalam benang kusut dan hanya 5 meter," ungkapnya dalam blog pribadi.

Masih kuliah Semester 3, dia membiayai semua bisnisnya sendiri, Ia memutar otak agar bisa mendapatkan modal usaha. Pertama mikir mau pinjam bank tetapi pasti tidak dikasih. Dymas mikir lagi apalagi mau minta orang tua, untuk biaya kuliah dan makan aja susah.

Dia juga kayaknya malu kalau pinjam saudara. Maunnya sharing dengan teman satu kosnya. Lalu dia coba sampaikan ke teman- teman kosnya. Tidak disangka ide itu mendapatkan tanggapan baik dari mereka. Ia pun mendapatkan dana Rp.4,5 juta. Menurutnya waktu itu, hasil iuran, sudah termasuk banyak dari mereka mahasiswa.

Dukungan moril juga diberikan teman Dymas. Ia sendiri berjanji uang tersebut adalah hutang usaha. Jadi bukan sharing modal. Yah teman- teman Dymas ragu. Meskipun tetap memberi dukungan, mereka nampak tidak siap untuk berbagi usaha dan percaya bahwa bisnisnya akan sukses.

Ia memaklumi hal tersebut. Bisnis yang awalnya katering, berubah menjadi bisnis ayam bakar, tetapi dia pintar tetap menarget pasar sebelumnya. Dia mematok harga ayam bakarnya Rp.7.500. Dengan waktu itu tahun 2010 masih sedikit persaingan, bisnis ayam bakarnya masuk memenuhi pesanan buat mahasiswa Unibraw.

Dia juga menyiapkan ayam goreng Rp.6.500. Dibanding tempat lain sudah murah tuh, tempat lain harga satuanya bisa Rp.10.000 -an. Sudah banyak orderan Dymas baru kepikiran nama usaha. Dulu pake nama pemberian teman tetapi dianggap tidak cocok.

Bisnis mahasiswa


Ia teringat asal usulnya. Pelosok Desa Ngimbang, Kabupaten Lamongan, inilah cikal bakal nama usahanya. Dymas ingin mengangkat nama desanya, membuat orang tuanya bangga. Uang segitu ternyata tidak mudah loh. Dia memulai usahanya bermodal dua kompor minyak dan satu penanak nasi.

Dymas memang jago mengolah ayam. Bumbu racikan dicari sampai 36 kali hingga rasanya pas. Jadi dia tidak langsung launching bisnis. Modal lainnya, yang utama, adalah ketekunan, keuletan, inilah rahasia dia mampu menciptakan masakan sedap.

Inilah cara dia menemukan resep sesuai lidah pelangganya. Usahanya berkembang pesat, memasuki tahun 2007- 2009, dia membuka 15 cabang. "Kalau soal bumbu, itu rahasia, nanti ditiru," selorohnya. Buat menunya ada ayam bakar Ngimbang, ayam goreng mentega, dan bebek halilintar.

Tahun 2009 datang masalah tidak terduga. Yakni penyakit flu burung yang merebak. Apalagi daerah Jawa Timur ramai sekali kasus flu burung. Alhasil, penjualan Dymas menurun drastis, banyak cabangnya tutup dan sisa tiga yakni di Malang, Surabaya, dan Lamongan.

Sudah jatuh karena flu burung, pihak mall juga melarang jualan ayam bakar karena asapnya. Agar bisa lepas dari jerat penyakit flu burung. Ia mulai mengedukasi masyarakat bahwa unggas miliknya aman. Dia juga membuat stiker bebas flu burung. Hasilnya per- hari bisa menjual 250 ekor per- hari dan omzetnya wah!

Berawal dari satu outlet di depan Unibraw. Karena permintaan banyak, dia membuka empat outlet di luar kampus, terus hingga cabang di luar kota. Omzet tahun 2007 adalah Rp.60 juta, untung bersihnya sampai Rp.27 juta. Tahun 2008 membuka empat outlet, hasilnya omzet Rp.128, laba bersih Rp.75 juta.

Tahun 2009, ozmet naik sampai Rp.234 juta, dan untung bersih Rp.166 juta. Tidak berhenti di usaha satu saja. Dia lantas membuka usaha ojek motor. Beberapa sepeda motor nanti dipakai oleh mahasiswa. Lalu ada jajanan ote- ote, memang usahanya keliatan sepele, tetapi pendapatannya lumayan loh.

Banyaknya pesanan membuat banyak orang minat. Para investor menawari Dymas untuk menjadika usaha ayam bakar miliknya menjadi franchise atau waralaba. Selepas menang Wirausaha Muda Mandiri 2009, dan dapat juara 1, nama Ayam Bakar Ngimbangan semakin menarik investor untuk menjadi bisnis mereka.

Namun, Dymas belum kepikiran, malah lebih fokus membuka cabang sendiri. Fokus ini didukung oleh kemampuan menjaga cira rasa tetap terjaga.

Artikel Terbaru Kami