Kamis, 25 Mei 2017

Membuka Usaha di Papua Jayapura Kisahnya

Profil Pengusaha Widiyawati 


 
Memilih menjadi wirausahawan bukan pegawai. Bukanlah pilihan mudah bagi kita semua. Jujur itu pula yang pernah dirasakan Widiyawati. Apalagi bisa dibilang pekerjaanya sudah mapan puluhan tahun. Di umur 37 wanita berambut cepak ini akhirnya memilih membuka usaha sendiri.

Bayangkan keputusan gila itu terjadi tahun 2006 silam. Ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tambang emas terbesar, ya PT. Freeport Indonesia. Bekerja di Papua, gaji puluhan juta dikantongi oleh Widi.

Baginya karyawan tetap karyawan. Dia ingin naik kelas menjadi atasan. Bekerja di Freeport tentu  lah dia kesulitan mencapai titik itu. Uang tabungan Rp.70 juta digelontorkan buat mendirikan bisnis. Dimana dia bikin tempat spa di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ternyata berbisnis spa memiliki persaingan sangat ketat loh.

Bisnisnya gagal, uang tabungan puluhan juta hilang. Tetapi tidak sia- sia pengalaman. Meskipun belum merasakan untung sesuai target. Widi tetap semangat mencoba berbisnis kembali. Terbersit penyesalan karena memilih kengkang dari perusahaan Freeport itu.

"Rasa penyesalan kelaur dari pekerjaan mapan itu ada (untuk berwirausaha)," ia berkata.

Namun dirinya harus siap apapun rintangannya. Keputusan telah diambil dan Widi harus bangkit dari rasa keterpurukan itu. Warga Jurangmangu, Tangerang Selatan, ini memilih kembali ke Papua pada 2009. Dia tidak kembali bekerja di Freeport justru memilih berbisnis di sana.

Bermodal tekat dan nekat, dia membuka bisnis serupa, tetapi dengan modal seadanya. Widi memulai dari nol besar. Bermodal sisa jual aset usaha senilai Rp.30 juta. Itupun sebagian sudah dipakai buat biaya hidup keluarga. Di Papua dia mulai lagi membangun bisnis yang pernah bangkrut tetapi dengan perbaikan.

Jika di Jakarta dia menyewa ruko buat bisnis. Di Papu, Widi cuma menenteng proposal bisnis, dengan percaya diri tinggi dia menawarkan bisnisnya ke hotel- hotel. Modalnya hanya niat, keberanian, dan tentu kemampuan dalam hal bisnisnya tersebut.

Tidak mungkin Widi barani kalau belum paham akan bisnisnya. Ternyata membangun bisnis di Jayapura malah lebih susah. Iklimnya ekstrim dimana sering terjadi hujan. Alhasil soal pengiriman barang jadi sangat terganggu. Tidak membuat Widi menyerah. Ia tetap berjuang mengembangkan bisnis barunya itu.

Bisnis bernama Herbal Aroma SPA mulai dibangun. Kegigihan itu membawanya sukses masuk ke hotel- hotel, salah satunya ada Harison Hotel. Sekarang dia memiliki 15 orang karyawan, 10 laki- laki dan 5 perempuan. Sebulan mampu mengantungi Rp.71 juta bayangkan sudah.

Prospek usaha menurut Widi: Menarik jika melongkok Papua dibangun banyak hotel- hotel berkelas. Kita sebut saja Swiss Bell Hotel, Sahid Hotel, dan Yasmin Hotel.

Widi yang memilik kempapuan melobi. Dia mendapatkan tempat bahkan di lantai satu Hotel Horison, yang mana pengunjung begitu masuk bisa langsung spa. Ia juga sudah memegang kontrak dengan Swiss Bell Hotel yang mana sudah mulai beroprasi. Pendapatan tambah begitu juga karyawan bertambah juga pula.

Menjadi pemula berbisnis di Papua, Widi menawarkan keunikan sendiri, memakai rempah dari Yogyakarta dan Bali. Tiap bulan dia berbelanja ke Yogya dan Bali. Karena unik mangkanya pengunjung memburu itu. Pemilihan bahan pasti akan membuat badan segar. Harganya lumayan mahal karena di Papua yakni Rp.199- 999 ribu.

Artikel Terbaru Kami