Rabu, 24 Mei 2017

SItus Tiket.com Kapan Berdirinya dan Oleh Siapa

Profil Pengusaha Dimas Surya Yaputra 



Terkadang kita cukup butuh obrolah ringan menjadi bisnis. Ini adalah kisah empat sekawan, terutama kisah seorang anak muda bernama Dimas Surya Yaputra, atau Dimas Putra yang tergila- gila internet. Bagianya disinilah dia menemukan jati diri hingga berbisnis sendiri.

Tahun 2009 dia menemukan Swinde.com, situs barang lelang yang dibandro dibawah harga sebenarnya di masyarakat. Cuma enam bulan dia mampu menghasilkan pendapatan $1 juta, dan mampu menggaet kurang lebih 80.000 orang pengguna.

Pemuda lulusan Universitas Pelita Harapan, tahun 2007- 2010, jurusan ekonomi yang kemudian lanjut kuliah di Beijing Language and Culture University. Dia mengajak Wesna Agustiawan dan Jeffry Anthony mengerjakan bisnis PhaseDev. Menggaet 30 pengembang perangkat lunak dalam tiga divisi bisnis mereka.

Yakni mengerjakan aplikasi mobile, kemudian pengembangan aplikasi desktop, dan membangun situs web buat kamu. Dimas diangkat jadi CFO yang mengurusin keuangan perusahaan. Mereka memiliki 40 orang karyawan yang merupakan anak- anak muda. Meskipun sudah banyak penghargaan Dimas masih merasa kurang.

"Kami masih jauh dari sukses," ujarnya. Bungsu dari empat bersaudara ini merasa performa produksi nanti harus ditingkatkan. Anak muda penghobi golf dan komputer ini, ingin lebih banyak konten karya mereka PhaseDev lebih menarik masyarakat pengguna.

Bisnis tiket


Dia memiliki ide berbisnis tiket. Bayangkan susahnya kala itu, bagaimana orang harus bercalo ketika mau pergi naik pesawat. Tahun itu tahun 2010, dimana kalau mau pergi dari Medan ke Tegal rasanya super sulit, dan berbanding terbalik kisah sukses startup Tiongkok berbasis Online Travel Agent (OTA).

Meskipun begitu OTA itu beda dengan tiket.com. Bisnis Dimas ini, bersama tiga orang temannya, yakni Wenas Agusetiawan, Gaery Undarsa dan Natali Ardiant, mereka juga didukung seorang investor lokal. Berawal dari obrolan karena malasnya mengantri membeli tiket malah menjadi bisnis.

Dimas berkata inilah peluang besar di internet Indonesia saat itu. Berdiri pada Agustus 2011 dan baru bisa beroperasi Desember 2010. Tidak cuma menjual tiket tetapi mereka memberi informasi rute. Tidak cuma bebas calo tetapi lebih gampang mencari ketersediaan di tempat.

Memang usianya belia, tetapi Dimas tidak ragu membangun mimpi bisnis digital nya. Dalam setahun sejak mereka launching. Mereka berhasil menggaet 100 ribu pengguna. Banyak tiket dijual tidak cuma tiket pesawat, ada tiket bioskop, konser.dll.

Tiket.com menjadi salah satu rekanan bisnis PT. Kereta Api Indonesia. Semuanya memang berawal dari kereta api dahulu dan berhasil. Kebetulan pemerintah tengah membenahi penjualan tiket kereta api. Lalu mereka mulai menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan.

Ada total enam maskapai, jaringan bioskop 21, mengandalkan jumlah mereka mampu mereguk transaksi tidak kurang dari 1.000 tiket. Untuk modal sendiri Dimas tidak banyak bercerita. Yang pasti mereka siap mengeluarkan biaya agar server tidak mati. Dan dari enam orang karyawan sekarang 40 orang karyawan.

Artikel Terbaru Kami