Selasa, 09 Mei 2017

Pemuda Aceh Berhasil Menjadi Wirausaha Berkat Ban

Profil Pengusaha Muda Aceh Habibi 


  
Awal tahun 2011 silam, pemuda asal Bireuen- Aceh, bernama Habibi mencoba sesuatu yang baru. Tengah bergulat dengan hasratnya menjadi pengusaha muda. Mahasiswa Universitas Almuslim, berpikir kenapa ban bekas mobil dibuang begitu saja. Mereka cuma berakhir di tempat pembuangan akhir sampah saja.

Sambil menambal ban sepeda motor, pikiran tersebut berjalan dan mahasiswa matematikan tersebut mulai memprhitungkan. Bagaimana dia mengubah menjadi bentuk berguna. Menjadi ramah lingkungan adalah kunci sukses bisnis Habibi. "Alam semakin rusak. Karet ban bekas itu kan tidak bisa dihancurkan," ujarnya.

Mungkin ribuan tahun bisa, tetapi apakah sanggup ketika produksi ban bekas terus- menerus. Hingga di Desember 2015, bekal untung bisnis tambal ban motor miliknya di Keude Jeunib, pergi lah Habibi ke toko membeli pisau pemotong karet. Dibelinya pisau dan batus asah, kemudian bor listri, kuas, dan cat.

Semuanya dibeli berhutang di salah satu toko alat bangungan -atau di Aceh disebut Toko Buso- beruntung karena pemilik toko percaya kepada Habibi. Sekitar dua atau tiga ban bekas dijadikan media untuknya berkreasi. Semua pikiran dicurahkan oleh Habibi membentuk kreatifitas artistik berbahan ban bekas.

Semua karena keuletan dan daya tahan menghadapi ketidak pastian. Tidak mudah meyakininya, bagaimana sebuah ban bekas akan menjadi pot bunga berbagai variasi akan laku. Disebarkan produk tersebut ke sosial media, dimulai dari sosmed, dijadikan lapak pertama pengusaha muda ini.

Sambutan postifi bermunculan melihat produk Habibi. Kemudian usaha tersebut diberi nama Seni Pemuda Desa atau SPD, yang mana merujuk kepada statusnya sebagai mahasiswa pendidikan S.Pd. Menurutnya menjadi guru bukan sekedar di kelas. Jangan berpikir kaku sebagai mahasiswa juga harus melihat banyak kesempatan.

Jangan terperangkan di dalam ruang kelas tambahnya. Jangan terjebak mengajar kepada hanya siswa yang berseragam. Lewat entrepreneurship kita bisa memberikan pengetahuan kepada siapapun. Ini termasuk juga cara bagi guru untuk berdikari tidak fokus menggantungkan hidup untuk menjadi PNS.

Dia dibantu teman- teman putus sekolah mencoba berbisnis. Menghasilkan berbagai produk variasi bahan ban bekas, mulai dari vas bunga bermotif, ember, ayunan, dan meja. Cukup ban dikupas kemudian digulung bulat. Dipaku, selanjutnya diperhalus, dan dilukis, jadilah aneka produk termasuk tempat sampah lucu.

Kelebihan tempat sampah dari bahan ban bekas. Ya bebas hujan karena ban bekas tidak akan masalah jika kena air terus- menerus. Juga tidak akan karatan ataupun pecah. Bermodal seratus ribu, kini, Habibi sudah mampu mengantungi omzet jutaan rupiah.

Artikel Terbaru Kami