Sabtu, 27 Mei 2017

Ide Bisnis Makanan Tradisional Langka Kolombeng

Profil Pengusaha Sukses Sumadi


  
Sumadi bukan orang baru dalam pembuatan roti. Dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik roti. Bayangkan puluhan tahun pria 42 tahun ini mengabdi. Penghasilan tidak sebanding dengan keringatnya. Namun, dari sana, ternyata menumpuk tumpukan kerak- kerak pengalaman mengurusi pembuatan roti.

Inilah cikal- bakal pengusaha asal Yogya tersebut. Ketika memutuskan keluar dari pekerjaan tidak mudah. Apalagi niat menjadi pengusaha butuh modal. Bagaimana membuka usaha kalau penghasilan pas- pasan. Ia lantas mencari cara: Sumadi menjual perhiasan sang istri untuk membuka usaha roti.

Berkat kerja keras, keuletan, usaha dijalankan oleh Sumadi sukses. Bermodalkan uang Rp.350 ribu, kini, ia mampu mengantungi omzet minimal Rp.6 juta sehari.

Bisnis tradisional


Warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mana usahanya dimulai sejak 1999. Usaha kue kolombeng bersama istrinya, Nanik (36), adalah bisnis bermodal perhiasan simpanan mereka. Itu merupakan hasil kerja sepuluh tahun dengan seorang pengusaha roti asal Yogya.

Modal usaha awal buat membangun usaha Roti Kholombeng. Awal Sumadi membuat 1.000 bungkus roti sehari. Roti tersebut lantas dijual ke Pasar Bringharjo, dan beberapa pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Jadi roti akan dibuat seharian dari pagi sampai siang hari. Lalu dikumpukan lantas akan dijual pada esok harinya. Sumadi akan mengayuh sepeda ontelnya. "Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain," ujar Sumadi.

Roti buatannya kok laris manis. Ternyata memang rasanya mak nyus. Roti buatan Sumadi diborong oleh pedagang besar. Apalagi dia menerapkan harga yang sangat terjangkau. Cocok buat pedagang besar jual kembali ke masyarakat. Yakni roti buatannya dihargai Rp.350 sebungkus berisi 10 roti kolombeng.

Bagi para pedagang pasar itu sangat murah. Singkat, bisnis Sumadi naik pesat, bahkan sudah sangat dikenal oleh orang pasar. Lantaran menjadi kompetitor tunggal pesanan membludak. Sumadi bahkan sampai khawalahan. Waktu itu Sumadi sendiri bersama istri mengerjakan semua proses pembuatan roti.

Menghadapai pesanan membludak Sumadi mempekerjakan karyawan. Bahkan tenaga kerja bertambah yang mana disesuaikan permintaan yang juga bertambah. Ia selalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Dia sudah memiliki 7 orang karyawan.

Dibantu tujuh karyawan untuk berproduksi. Berapa Sumadi berproduksi setiap harinya. Dia mengaku bisa berproduksi 1.500 roti per- hari. Disisi penjualan semakin mudah karena nama. Sudah ada pedagang roti grosiran yang langsung menjemput. Pedagang roti juga tidak segan buat mengambil langsung ke pusat produksi.

Sumadi mampu menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika posisi pasar sepi, maka Sumadi hanya bisa memproduksi sampai 5 karung tepung terigu. Pamornya yang naik membuat kerja sama datang sendiri. Pemilik produk terigu menawarkan kerja sama memasok tepung terigu ke tempatnya.

Tidak cuma untuk berproduksi. Ia juga mendapatkan pelatihan penjualan dan produksi di Semarang. Omzet Rp.6 juta sehari itu belum dipotong buat gaji, bahan baku, sudah termasuk transportasi yang sudah tidak lagi memakai ontel. Untuk keuntungan bersih Sumadi dan Nanik sepakat tidak menyebutkan angka.

Sumadi menggaji Rp.30 ribu sehari, kalau pesanan banyak, yah dia mengeluarkan uang tambahan buat para karyawannya tersebut. Dengan sistem pesanan borong memberi rejeki lebih ke karyawan.

Bisnis tak lekang


Mungkin orang lebih mengenal nama roti bolu, roti tar, donat, dan yang terbaru brownies. Siapa sangka diantara roti populer tersebut. Nama roti tradisional Kolombeng ternyata masih eksis. Ditangan dia lah, pengusaha asal Yogya, roti tradisional yang terkenal pada 1950 -an ini, kembali terkenal dan laris manis.

Persaingan ketat justru datang dari roti modern. Lewat kue tradisional, Sumadi mengaku senang karena namanya juga ikut menjadi sorotan. Ia bangga sekaligus bahagia. Ternyata kue kolembeng buatanya bisa bertahan sampai sekarang.

Sebelum fokus di Kolombeng Sumadi mengaku sempat membuat bakpia dan wingko. Resep kue tersebut ada telur, gula, essen jeruk, dan ovelat dicampur menjadi adonan. Lalu dimasukan cetakan aneka bentuk. Mulai berbentuk kotak dan persegi. Kemudian dimasukan ke oven selama 20 menit hingga matang siap.

"Kami bangga karena masih bisa membuat dan memproduksi kue tempo dulu," tutur dia.

Bahan baku pun mudah sehingga mudah diproduksi. Bahan bisa dicari meskipun produksinya masuk ke pedesaan. Pasarnya selain untuk umum, bisa dijual buat acara tertentu seperti pengantin, supitan, sripah, atau saat orang meninggal.

Zaman dulu Kolombeng dikenal merakyat. Enak disajikan dengan minuman seperti teh buat teman kita mengobrol. Di jaman kemerdekaan, kue tersebut digunakan sebagai pemerat persatuaan masyarakat di daerah Yogya. Enak teksturnya unik dan memiliki perjalanan sejarah panjang membuatnya masih digemari.

Artikel Terbaru Kami