Rabu, 31 Mei 2017

Kisah Wanita Diphk Tetapi Tetap Bangkit Wirausaha

Profil Pengusaha Yanti Rusdianti 


 
PHK membawa berkah. Tidak jarang banyak orang mengalami hal tersebut. Pasalnya insting kita akan naik ketika terdesak. Kreatifitas kita akan tiba- tiba muncul. Kita akan memilih jalur kewirausahaan. Kenapa begitu karena menjadi wirausaha tidak terikat dengan aturan perusahaan.

Ini kisah Yanti Rusdianti seorang wanita pemilih wirausaha. Dia mengenang kembali tahun 1998, ketika itu pabrik garmen tempat kerjanya memecatnya, rasa gregetan masih berasa.

Berhenti bekerja, dia kembali dari Surabaya ke Bogor, di sana mencoba melamar pekerjaan. Tetapi dia merasa semangat mencari pekerjaan tidak seperti waktu muda. Yanti berpikir kalau jadi karyawati kan udah bisa dihitung. Gaji perbulan sudah pasti setiap bulannya sama.

Ibu dua anak tersebut maka memilih pengusaha. Ia ingin memberi lebih terutama kepada keluarga. Walau ia sudah bertekat membangun usaha. Tidak semudah tersebut. Masalah utama mau berbisnis apa. Semua bermula dari iseng- iseng membuat usaha. Pertama kali Yanti memilih membuka bisnis kredit.

"Saya sudah tidak punya gaji, tetapi keluarga ini tidak boleh berhenti," kisahnya.

Ia berlanjut ke bisnis kredit aneka perlengkapan dapur. Menawarkan perlengkapan dapur pintu ke pintu. Usahanya ternyata berkembang. Tetapi dia mendapatkan masalahs seketika. Dimana usahanya bangkrut karena semua uang ditipu orang.

Bisnis kembali


Begitu gagal, Yanti tidak patah semangat, malah berbisnis kembali dengan uang seadanya. Kali ini memilih membuka kantin. Bisnis kantin kecil di perumahannya Bumi Indraprasta, Bogor. Bisnis ini kecil, tetapi jadi besar, bahkan menjadi lima kantin dia kelola.

Begitu suksesnya bisnis kantin ini. Sang suami bahkan memutuskan keluar pekerjaan. Dia ingin fokus buat mengerjakan bisnis kantin. Diantara itu, Yanti mulai melirik aneka kue, iseng- iseng mulai membuat aneka kue cake, black forest, dan kue cokelat lainnya.

Memang memasak sudah hobi. Dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu buat beli bahan. Awalnya dia malu- malu menunjukan hasil karyanya ke masyarakat. Apalagi mau dijual tidak terpikirkan. Suatu hari dia lantas membawa kue tersebut ke acara arisan ibu- ibu. Barulah Yanti berani menjual di tahun 2002 dengan brand sendiri.

Lewat ibu- ibu arisan pesanan terus mengalir. Dia mengolah 6 ton cokelat batangan setahun atau 500 kilo per- bulan. Ia lantas menamai Waroeng Cokelat. Tentu hasilnya puluhan juta rupiah. Ia semakin percaya diri untuk bisnis Waroeng Cokelat. Jika awalnya cuma menerima pesanan momen tertentu sekarang tidak.

Jika sebelumnya, seperti hari Valentine, dia mendapatkan pesanan. Sekarang kapan saja produk cokelat itu bisa dijual. Dengan kemasan menarik dan modern, maka pembelian juga meningkat di hari biasanya, jadi tidak cuma cokelat dikemas hati saja.

Produk harian


Dia memutuskan produksi tiap hari. Dari sekedar kue berkembang ke aneka cokelat. Ia menemukan aneka resep cokelat enak. Agar semakin kreatif,Yanti tidak segan mengikuti aneka seminar tentang cokelat ke luar kota. "Semua itu (seminar) saya lekukan demi bisnis," jelas Yanti.

Mungkin terdengar bisnis rumahan kecil. Namun siapa sangka dia mampu menembus pasar supermarket. Ia menyetok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. Dia sangat berani mempromosikan bisnis cokelat miliknya. Tidak pernah malu lagi untuk menunjukan ke masyrakat.

Menurutnya agar masuk ke pasar ritel, satu- satunya cara adalah meyakinkan masyarakat bahwa produk miliknya berkualitas. Dia punya hobi mengikuti aneka pameran. Pokoknya jika ada suatu badan yang tengah mengadakan ajang kewirausahaan; dia ikut.

Mengikuti pameran dia mendapatkan banyak pengetahuan. Meskipun sudah untung jutaan Yanti tidak mau berhenti belajar. Contohnya ketika ia belajar bahwa cokelat tidak bisa dijajakan di ruang terbuka. Ya nanti kan bisa meleleh pungkasnya. Walaupun sudah dimasuk ke kulkas setelahnya, kualitas cokelat akan rusak.

Dia mencontohkan pengalamannya sendiri. Setelah dijajakan di ruang terbuka dan dimasukan ke kulkas. Cokelat tidak sebagus kondisi awal. Mangkanya dia sekarang tidak sembarangan memajang produk yang dia buat.Sukses Yanti justru baru mulai membangun mimpinya bahkan ketika orang bilang dia sukses.

Dia pernah mengikuti pameran oleh Kementerian Pertanian. Dimana dia menemukan, di China, Chiang Mai membuat cokelat dengan wadah besar. Beruntung ketika berkunjung di Malaysia dia menemukan apa cetakan sesuai besar. Modal awal Rp.500 ribu sekarang setiap tahun bisnisnya naik 10% setiap tahunnya.

"Jangan pernah takut untuk memulai bisnis. Kalau ada kemauan, pasti ada jalannya," tutup Yanti.

Artikel Terbaru Kami