Rabu, 19 April 2017

Masalah Dihadapi Pengusaha Salon Anata

Profil Pengusaha Henry Setiadi Halim 


 
Tidak mudah bagi seorang Henry Setiadi Halim, untuk mencapai kesuksesan sekarang. Sang pemilik salon Anata ini kemudian bercerita tentang kisahnya sedikit. Bermula hobinya motong- motong rambut teman hingga keluarga. Henry kecil terus mendalami hingga memasuki usia remaja 18 tahun.

Namanya belajar sendiri tidak semua sesuai. Potongan rambut Henry terkadang tidak sesuai keingan. Ya hasilnya banyak teman dan keluarga protes. Meskipun dibilangin salah, Henry tidak menyerah justru dia semakin bertekat memperdalam hobi.

Kesalahan terjadi karena dia belum sadar fakta: Bahwa bentuk kepala orang beda- beda. Apalagi waktu itu dia memakai gunting besar buat kain. Usaha pertama dibuka sangat sederhana, yakni ada di Jalan Emong, Bandung, di tahun 1985.

Ia menyadari kekuranganya. Mangkanya Henry sering mengikuti seminar pelatihan. Tidak pernah ikutan sekolah khusus. Tetapi, sekarang, nama salon Anata terkenal dengan jumlah tempat tersebar di penjuru Kota Bandung.

Total pegawai salon mencapai 800 orang dan 4000 pengunjung tiap hari, dimana harga layanan paling murah sekarang Rp.17.000. Ketika baru membuka salon hanya memiliki 8 orang pegawai. Apa kendala berbisnis salon? Adalah ketika pegawai laki- laki Henry memiliki perasaan halus tidak seperti laki- laki biasa.

Ini sempat membuat Henry putus asa. Dia tidak betah dengan lingkungan dibangunya. Ada perasaan ingin tidak lagi menjadi pengusaha salon. Namun, perasaan tersebut urung, karena dia mengerjakan itu menurut apa passionya. Apalagi mempertahankan pelanggan dianggapnya paling sulit, ujar pria kelahiran 28 Februai 1958 ini.

Meskipun setiap salon memiliki pelanggan satia, tetapi kalau sampai tidak bisa memberikan pelayanan yang bagus. Bisa- bisa dibajak dan pelanggan setia pun mengikuti mereka. Meskipun nama tenar pun tak akan menyelamatkan. "Sekali pindah, mereka yang keluar bisa berbondong- bondong," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami