Senin, 03 April 2017

Jualan Kopi Gayo Jadi Usaha Sampingan Mengejutkan

Profil Pengusaha Wiarwan dan Istri 


 
Ketika kopi blue mountain asal Jamaikan populer. Wiarwan seolah ingin membuktikan sesuatu. Hasratnya ialah ingin menjadikan kopi asli Indonesia, layaknya kopi Jamaika. Pengalaman bekerja dengan kopi telah memberikan ide mengenai bisnis ke depan tetapi tidak seketika.

Lulus SMA, pada 1988, ia tidak langsung bersentuhan dengan kopi. Remaja Wiarwan memilih mengejar pendidikan sampai ke Taiwan. Berbekal keberanian dia membiayai kuliah sendiri. Barulah menyentuh kopi ketika dia bekerja sampingan menjadi pegawai pabrik kopi.

Dia sukses membiayai kuliah. Begitu lulus dia kembali ke Indonesia, bukan bekerja dengan kopi tetapi ia malah bekerja untuk perusahaan pulp and paper. Sukses Wiarwan mampu menempati jenjang pekerjaan yang tinggi. Gaji mapan dan segala fasilitas tidak membuat Wiarwan terpuaskan akan hidup.

Berbisnis sendiri


Pekerjaan bergengsi memang membuat zona nyaman. Tetapi dia tidak mau. Pilihan adalah membuat usaha sampingan. Dia ingin berbisnis tetapi apa. Pikiran Wiarwan adalah bisnis tidak lekang. Jualan komoditas yang akan selalu dibutuhkan masyarakat.

Suami Warniaty, kemudian menemukan kelebih dari daerah tempatnya, Aceh dikenal memiliki kekayaan yang bahkan membuat Belanda tergoda. Kopi dari masa penjajahan Belanda sampai sekarang nih masih digemari masyarakat. Dan kita tau pamor kopi yang meningkat menjalar ke seluruh Indonesia tidak cuma Aceh.

Dia ingin menjadi pengusaha kopi gayo. Bermodal uang seadanya yakni Rp.25 juta, ia nekat melepaskan jabatan di perusahaan pulp and paper. Demi menjadi pengusaha mengunjungi petani untuk didekati. Lewat kemampuan persuasifnya mengajak petani kopi lokal dibawah pembinaan Wiarwan.

Tercatat nih sekarang 27 keluarga petani dan areal tanam 15 hektar- 20 hektar dibawah bimbingan dia. Ia mencoba menciptakan sistem sendiri. Sistem saling menguntungkan merombak cara tradisional petani kopi asal Aceh. Dia ajarkan mereka cara memilih bibit, mengelola, dan membantu pasca panen.

Sukses dia mampu mengangkat kualitas biji kopi petani. Tidak puas, Wiarwan ingin juga berbisnis sampai ke pengolahan. Dibeli satu mesin roaster asal Taiwan. Dia mengatakan sudah terbukti lewat pengalaman bekerja dulu. Dia mengolah kopi arabica dan berharap mampu sejajar dengan kopi blue mountain itu.

Kelebihan kopi dia olah menjadi arabica dan luwak. Dua kopi premium coba disuguhkan Wiarwan kepada masyarakat lokal. Nama kopi miliknya Optimum Prime, menawarkan kopi gayo premium untuk pecinta kopi sejati. Pembeli sudah sampai ke luar negeri seperti Korea, Taiwan, Australia, dan China.

Ia baru mengirim dalam jumlah kecil. Maklum usaha Wiarwan masih tergolong kecil. Untuk satu pemesan dia menjual maksimal 18kg. Produksi kopi gayo arabica dia menghasilkan 400kg sedangkan untuk kopi luwaknya 45kg. Harga Rp.1,5 juta per- kg untuk kopi luwak dan kopi premium arabica dihargai Rp.250 per- kg.

Perjalanan bisnis Wiarwan tidak semudah dibayangkan. Kopi miliknya belum mendapatkan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, uniknya, dia malah mendapatkan penilaian baik dari badan asing Kamar Dagang dan Industri Malaysia.

Bisnis maju terus


Kopi Indonesia sebenarnya bagus- bagus. Agar semakin dikenal oleh masyarakat, ia kemudian mengikuti aneka pameran. Dia memberi contoh gratis. Lewat acara pameran nasional maupun internasional. Disaat orang mencoba langsung nyeletuk kalau kopi luwat Wiarwan enak.

"Saya bilang itu arabica premium, bukan luwak. Kopi luwak kami lebih enak lagi," ujarnya.

Wiarwan juga mengambil kredit di Bank Rakyat Indonesia. Tahap awal, lewat suntikan modal, dia mulai mengembangkan bisnisnya. Lewat bank milik negara tersebut juga mendapatkan kesempatan. Sekali dia ikutan pameran kopi di Belanda mewakili BRI.

Istri Wiarwan, Nini, mengeluh memang susahnya mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Padahal ia sudah mewakili kopi gayo dari Aceh ke acara internasional. Masalah kenapa mereka tidak mendapatkan sertifikat BP POM, kata Nini bangunan pabrik dilarang memiliki sudut- sudut karena berpengaruh ke kebersihan.

Padahal kalau soal kebersihan dalam pembuatan, ia menjamin perusahaanya sudah sesuai standar, itupun kalau dibandingkan home industry lainnya; Perusahaan dijalankan mereka lebih baik. Anehnya justru lah mereka yang kesulitan mendapatkan sertifikat. Bahkan Nini ingin berkunjung ke pabrikan teh botol Sosro nanti,

Tujuannya guna membuktikan apakah aturan tersebut adil. Apakah pabrikan besar juga mendapatkan syarat sama. Karena BP POM belum keluar alhasil, Nini kesulitan mendapatkan label Halal MUI, mungkin sulit tetapi Nini tidak patah semangat terus membangun bisnis mereka.

Obsesi Nini seperti halnya Wiarwan, yakni memperkenalkan kopi gayo sebagai identitas Aceh. Bagaimana agar kekhasan kopi lokal tersebut tidak hilang. Ia prihatin ketika kopi gayo dijadikan bahan campuran dari daerah lain. Contoh lah ada kopi Sidikalang, padahal bahan bakunya ya kopi gayo dari dataran tinggi gayo.

"...kemudian berubah menjadi kopi Sidangkalang, karena diproduksi di Sumatra Utara, jadilah dia kopi Sidangkalang," runut Nini.

Nama kopi Optimus Prime sudah tercatat di HAKI. Dipatenkan atas nama CV. Mutiara Gayo, dimana dia menggunakan kemasan standar internasional impor dari Taiwan. Usaha dilakukan lainnya adalah bagaimana caranya mendapatkan SNI.

Artikel Terbaru Kami