Minggu, 12 Maret 2017

Cerita Miliarder Jualan Kue Kering Lebaran

Profil Pengusaha Eko Suciptono 




Ia tidak pernah menyangka akan menjadi pengusaha. Eko Suciptono nyatanya bisa sukses. Cuma jualan kue kering, mampu menjadi pengusaha sukses dan mempekerjakan banyak orang. Ia berkisah, semua bermula pada pertengahan 1980 -an, yang mana Eko hanya orang biasa tanpa memiliki apa- apa berlebih.

Dia sempat berkuliah tetapi cuma dua semester. Eko memilih mencari uang. Tahun 1986, dia lantas malah menikah, cuma bermodal nekat mencoba berjualan makanan kecil. Ia bahkan rela berkeliling ke berbagai daerah. Jualan dari pintu ke pintu, mulai berangkat dari Brebes sampai ke Jakarta dilakoni Eko.

Dia berangkat naik angkutan umum. Sampai di Jakarta, Eko akan tidur di masjid, sejak kecil dia memang sudah membantu orang tua jualan. Kenapa tidur di masjid ya karena daripada pulang dagangan belu habis. Dia berpikir mending tidur dimana saja.

Kalau pulang malahan jadi boros. Pokoknya enggak efisien dibanding dia tidur dimana saja. Awal dia mulai dengan berjualan aneka jajanan tradisional. Ada selai pisang dan dodol tape. Jajanan tersebut lantas dijual ke pasar tradisional. Atau dia akan jual di angkutan umum, atau ke toko, jika terpaksa door- to- door.

Tahun 1996 Eko memutuskan buat menekuni berjualan. Dia tidak lagi tergantung kepada jualan yang orang tua buat. Dia menyebut saatnya beralih ke jualan lebih modern. Inilah langkah awal dia memasuki bisnis aneka kue kering.

Bisnis kecil tapi besar


Dari memproduksi, Eko mulai memperbaiki cara pengemasan kue. Bertahap dia mulai menjual, dan mulai mendapatkan bantuan dari orang lain untuk menjualkan. Dia dibantu sang istri, Nani Yunaningsih, dimana mereka bersama merintis bisnis aneka kue kering kemasan yang didistribusikan ke toko- toko.

Bertahap dia juga menyasar ke koperasi dan minimarket. Berjalannya waktu Eko sudah memiliki mobil buat mendistribusikan. Eko juga menggaet pembuat makanan kecil lainnya. Dia akan mengemas ulang dan menjajakan ke jaringannya. Mekrea menyadari untuk membuat variasi jajanan butuh tenaga ekstra.

Usaha dijalankan Eko lantas dilirik pihak bank. Di tahun 2000, ada bank swasta yang mengucurkan dana ke Eko, kredit ringan senilai Rp.75 juta untuk usahanya. Selang 3 tahun nilai kredit Eko tidak pernah berubah. Namun dari segi omzet, bisnisnya naik dari tahun ke tahun bahkan lebih besar dari nilai uang dikreditnya.

Kisaran 2003- 2007 Eko beberapa kali pindah bank, sampai memutuskan menjadi nasabah bank Mandiri. Dia bahkan sudah punya kredit senilai Rp.2,2 miliar. Untuk bisnis UD. Instisari mampu mencapai omzet Rp.2 miliar per- bulan atau Rp.24 miliar- 26 miliar per- tahun.

Eko sendiri ingat betul awal omzetnya cuma Rp.200 juta. Rahasia sukses Eko, ia menjelaskan yakni lewat variasi produk dimana sudah mencapai ratusan jenis, yang semula cuma tiga macam. Perusahaan Eko juga menjual kemasan parsel disaat menghadapi musim Idul Fitri.

Distribusi sudah mencapai seluruh Jawa, dimana ada 5 workshop yang bersebar di Tangerang, Subang, Purwakarta, Kawasan Industri Cibitung, dan Bekasi menjadi kantor pusat.

Produk makanan Eko sudah sampai ke minimarket. Padahal, awalnya, perusahaan kecil miliknya susah sekali masuk ke minimarket. Banyak hambatan persyaratan agar produknya dipajang di etalase. Dimana ia diharuskan mendapatkan rekomendasi dari Indagkop -Industri, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Bekasi.

Ia mengatakan peningkatan kualitas selaras dengan omzet. Dimana sekarang Eko juga membuat bisnisnya tidak cuma produksi tetapi penjualan. Tidak semua produksi juga dilakukan sendiri. Beberapa diserahkan ke keluarga. Sehingga Eko lebih fokus pada pemasaran produk serta mensuplai kebutuhan pasar.

Ke depan usahanya akan termasuk minimarket sendiri. Menurut Nani, kelak ekspansi usahanya akan fokus kebutuhan rumah tangga, hingga penjualan yang fokus ke perusahaan sendiri. Nani berencana mendirikan tiga minimarket di lingkungan sekitar. Nanti karyawan belanja di sana tinggal potong gaji jika tidak ada uang.

Artikel Terbaru Kami