Senin, 06 Maret 2017

Cerita Pengusaha Dikira Gila Membatik Api

Profil Pengusaha Lugiyantoro 


 
Tradisi membatik sudah tidak lagi kaku. Banyak orang telah mengolahnya ulang, tentu tanpa meninggalkan unsur- unsur kearifan budaya. Tradisi ini coba dipegang oleh Lugiyantoro. Dimodifikasi ulang menjadi teknik membantik tersendiri. Pria 28 tahun asal Bantul, Yogya ini, dikenal sebagai pembatik menggunakan api.

Niat awal memang ingin melestarikan tradisi membatik. Tetapi bagaimana caranya agar dirinya nampak berbeda dibanding seniman lainnya. Ciri khas coba ditonjolkan lewat teknik pewarnaan dengan api. "Saya mencoba membuat batik yang dilukis dengan media api," ujarnya.

Kalau pembatik lainnya memakai malam dan canting. Kalau Lugi, begitu sapaan akrabnya, menggunakan media api menggunakan bahan khusus. Ia menjelaskan bahannya adonan tepung dan formalin, yang lalu ia tambahkan sedikit air.

Produksi Lugi menggunakan bahan kaos, kemudian dia akan membuat desain di atas karton. Begitu sudah dilubangi maka ia akan segera bekerja. Membentuk motif khusus di atas kerta karton dilubangi. Lalu dia akan mengoleskan adonan menurut pola. Selepas itu dia membakarnya hingga menimbulkan warna di atas.

Awalan, tunggu hingga adonan kering, barulah dia akan mengoleskan api di atas adonan siap. Ia bercerita butuh waktu tiga tahun hingga menemukan tekniknya. Cara membekarnya menggunakan alat khusus hasil modifikasi. Alat berbahan botol bekas, kemudian diisi sumbu dan minyak untuk bahan bakar.

Batik unik


Dengan mengolah bahan kain putih, dia menciptakan kontras warna membentuk kambar motif. Karena adaseum.prosesnya lama makanya produksi juga lama. Harga dipatoknya lumayan yakni Rp.200 ribu sampai Rp.500 ribu untuk 1,5 meter kain. Lugi mengaku belajar membatik secara otodidak lewat datang ke museum.

Inspirasi Lugi dalam berbantik adalah Pak Joko Sudadiyo, seorang pelukis batik. Dia menceritakan sosok yang dikenal dengan nama Joko Pekik, sudah tidak bisa dielak lagi salah satu maestro. Karyanya sudah sampai ke Eropa lewat melukis. Dia lah yang menyarankan Lugi untuk mencoba melukis batik saja.

Ia kemudian memikirkan bagaimana menjadikan identitas. Bagaimana agar dia bisa membatik, banyak cara dia lakukan untuk meningkatkan kemampuan. Kemudian dia mencoba melukis batik di atas kertas dulu. Ia kemudian tertarik untuk membuat di atas kain. "Saya coba buat dan eksperimen? " tutur Lugi.

Ia memanfaatkan api kecil atau sentir untuk menggoreskan pola. Penggunaan malam ternyata kemudian ia tambahkan agar terjadi perpaduan warna. Teknik ini menghasilkan warna coklat seperti terkena malam. Dia mengatakan proses pembuatan sampai lima hari.

"Waktu melakukan eksperimen buat bati api sempat gosong beberapa kali," kenangnya. Namun tekat kuat membuatnya tidak pantang menyerah. Akhirnya Lugi menemukan teknik tepat agar tidak terbakar. Ketika dia akan menjual hasil karyanya tersebut, bukannya didukung, teman- teman menyebutnya gila!

Pria kelahiran Bantul, 11 Desember 1988, ini malah dianggap aneh dan gila. Tekat dia kemudian ikutan ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), pada November 2016 silam, dan ternyata banyak orang minat untuk membeli karya Lugi. Banyak orang melihat ketika dia mulai membatik api kemudian ada pesanan datang.

Mulai diminati orang, seketika semangat Lugi menghilangkan pikiran dianggap gila. Seorang pengusaha harus siap dianggap gila. Uang Rp.900 ribu, lulusan SMA Muhammadiyah 1 Bantul tahun 2008 ini, lalu menjual 10 kaos batik dan 3 kemeja batik dalam kurun waktu 1,5 bulan, dimana totalnya Rp.3,35 juta.

Dibantuk Dakernas atau Dewan Kerajinan Nasional Bantul, dia mendaftarkan UMKM -nya menjadi badan resmi. Bisnisnya mulai moncer dan berminat untuk mematenkan produk buatannya. Dia berharap semakin dicintai produknya. Dia berharap orang mengenal batik api sebagai karyanya, kalau perlu sampai ke Eropa sana.

Artikel Terbaru Kami