Kamis, 09 Maret 2017

Membuka Pabrik Jamu Herbal Menado Ngehit

Profil Pengusaha Lientje Mamahit 


 
Bermula era 90 -an, ada seorang pendeta, namanya Lientje MH Mamahit yang siapa sangka akan terkenal sekarang. Dia ditugasi melayani rumah sakit Pancaran Kasih, bidang Pastroan Konseling Catatan Medik dan pengalaman ternyata berdampak. Ia mengerti sekali pentingnya menjaga kesehatan masyarakat kita.

Ibu dua anak ini mengamati betul tentang obat herbal. Berbagai seminar, pelatihan, simposium, diikuti Lientje hingga terasa betul kemampuannya di bidang obat herbal. Pada akhirnya dia mulia merintis usaha jamu herbal sendiri. Berbekal tanaman obat ia temukan sepanjang Sulut, mulai jahe merah, temulawak, manggis.dll

Pengembangan usaha tersebut menemui kendala. Terutama soal permodalan, hingga ia harus lari ke Bank meminta pinjaman. Apalagi usaha dijalankan tergolong rumit. Butuh ijin dari dinas- dinas terkait agar jamu herbal dapat dipasarkan. Minimnya pendampingan tidak membuat Lientje patah arah berbisnis jamu.

Kalau dibilang badan mana paling mendukung, maka pihak Kementrian Pertanian banyak mendukungnya untuk mengembangkan produk. Pertumbuhan bisnis sekarang sudah mencapai 10% setiap tahun. Kalau bahasa sederhananya dulu cuma sekilo sekarang sekarung.

Bisnis adalah perjuangan


Produknya bernama Eufraino, sejak 2000, produksinya mulai dengan 1kh temulawak, jahe merah, dan juga kunyit. Ketiganya dicampur menjadi 30 sachet jamu siap seduh. Jamu instan miliknya kemudian mendapat hak kekayaan intelektual (HAKI) atas produknya, Bu Lin semakin besemangat memasarkan Eufraino lagi.

Tidak puas, dia juga mengajukan sertifikasi halal MUI, dan kesemuanya dikantongi Bu Lin hingga mampu menjual produknya sampai ke beberapa supermarket Manado. Produk mulai 100 gram dan 200 gram yang mana kemasannya sudah Bu Lin berstandar pemerintah.

Produk sendiri ada 20 jenis dipasarkan ke masyarakat. Khusus buat Eufraino 3 in 1, berisi temulawak, manggis, dan jahe merah, pengemasannya didukung Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara, dan mulai dipasarkan ekspor.

Agar memenuhi kebutuhan kesehatan, Bu Lin juga menyediakan standarisasi, meliputi laboratorium kecil, tempat pencucian, juga lemari penyimpanan khusus. Rumah pribadi Bu Lin disulap agar memenuhi apa kebutuhan masyarakat. Penjualan biasanya setiap dua minggu sekali barang distok, disesuaikan kebutuhan.

Penjualan sudah sampai ke banyak supermarket di Kota Manado, ke Multi Mart, Top Mart, Golden dan lainnya. Dengan berbisnis jamu herbal bisa membawanya ibadah sampai Jarusalem, Palestina. Juga bisa buat menyekolahkan anak sampai jenjang universitas.

Bu Lin sangat bersyukur mampu menguliahkan anaknya. Yang tertua sudah menikah, dan anak keduanya nampak tertarik dengan bisnis karena berkuliah jurusan Agrobisnis. Berkat usaha jamu herbal membawa dia ke berbagai acara ke luar negeri. Pengetahuan akan herbal bertambah lewat seminar dan simposium.

Tahun 1996, peraturan pemerintah mengharuskan rumah sakit memiliki tempat untuk herbal, maka dia lah yang diutus mengikuti aneka pelatihan. Dikala melakukan tugas, Bu Lin sempat sakit, ketika ditangani oleh dokter dan disuntik bukannya sembuh malah pingsang -seolah tubuhnya menolah obat kimia tersebut.

Singkat cerita diutus kembali, ia berangkat pelatihan herbal ke rumah sakit Bethesda Yogya. Dari pelatihan tersebut dia membangun usahanya bermodal 1 kilogram temulawak, jahe merah, dan kunyit. Tahun 2004 tugasnya di rumah sekit selesai, ditugaskan ke Gereja Pniel Bahu dan membentuk kelompok tani.

Ketekunan membuatnya diangkat menjadi Direktur Agrobisnis. Pengembangan tanaman obat dilakukan Bu Lin sampai bervariatif. Tahun 2008, dia mengikuti simposium internasional soal temulawak ke IPB, yang mana bertujuan mematenkan temulawak karena kunyit dipatenkan Jepang.

Produkis sudah bisa sampai 30.000 sachet. Tenaga kerja sebanyak 5 orang, juga sudah dibantu oleh anak- anaknya. Pemasaran selain ke penjuru supermarket Menado dan Tomohon. Pesanan juga sudah sampai ke Amerika Serikat dan Inggris.

Bahan bakunya dibeli ke pasar, Bu Lin juga menanamnya sendiri. Karena dia tau bahan baku utama mahal jadi harus ditanam. Namanya Eufraino merupakan nama anak pertama. Dimana nama berasal dari bahasa Yunani yang berarti saling menghidupi. Untuk ke depan prospek herbal masih terbuka luas tutup Bu Lin.

Artikel Terbaru Kami