Rabu, 29 Maret 2017

Kalung Berbahan Kain Batik Cranberries

Profil Pengusaha Ari Dwi Astuti 



Limbah konveksi terkadang bingung mau diapakan. Inilah kesempatan buat pengusaha masuk mencari- cari celah dibalik ketatnya bisnis fashion. Justru dengan memanfaatkan limbah fashion, merubahnya menjadi produk fashion sendiri membawa kesukses bagi Ari Dwi Astuti.

Pengusaha satu ini berminat kepada limbah perca batik. Kain perca yang ukurannya kecil- kecil karena sisa produksi ataupun dari kain batik lama. Lewat tangan Ari itu tidak lagi bertumpuk- tumpuk layaknya tumpukan sampah plastik di tempat sampah.

Inilah harta karun Ari setelah sekian lama. Berawal dari sekedar hobi membuat akesoris. Lewat aksesoris berbahan kain biasa sampai perca batik. Hemat biaya produksi tinggal ambil punya sisa jahit. Kebetulan didekat rumah kan ada penjahit. Ari dapat bahan cuma- cuma, "bisa dibilang saya bisnis tanpa modal."

Kenapa perca batik karena hasilnya unik. Kesannya etnik gitu, bahan baku ekslusip apalagi kalau bahannya dari perca kain batik tulis. Dari beberapa kain perca potong- potongan itu bisa menjadi banyak aksesoris loh.

Perca batik kemudian diubah menjadi kalung, bros, gelang, bando, juga jepit rambut. Ide bisnis semakin ia rasakan mantap ketika melihat pasar. Kebanyakan akesoris berbahan logam, kayu, atau plastik. Memakai batik nampak lebih menarik karena motifnya unik. Produk paling laku adalah produk kain berbahan perca batik.

Agar lebih menarik apa cara Ari membuat akseoris. Dia menggabungkan dengan bahan perca lain, taruhlah jean, renda, mutiara, sampai manik- manik kayu. Bekal kreativitas, serta kemampuan menjahit, lalu dia lem dibentuk menjadi eksesoris. Harga perhiasan dia bandrol dari Rp.5000- Rp.200.000 per- satuannya.

Harga dia tentukan lewat tingkat kerumitan desainnya. Untung bisnis dijalankan ternyata lumayan besar ya karena bahan bakunya mudah murah. Margin untungnya sampai 70% dia menceritakan kepada pewarta.

Ia awal mendapatkan pasokan perca dari usaha konveksi dekat rumah, tetapi karena makin banyak harus diakali. Untuk itulah dia niat sekali mencari sampai ke luar kota. Bahkan untuk kain perca kuno bisa dia datangi sendiri. Rutin dia mengunjungi berbagai konveksi di Solo, Yogyakarta, Depok, dan Garut.

Ketika pesanan membludak, dia akan meminta bantuan teman. Pesanan bisa membludak sampai 200- 300 buah pesanan. Dalam sebulan bahkan suatu waktu dia bisa mendapat pesanan sampai 500 buah. Cara dia berpromosi lewat blog dan sosial media, terbukti ampuh mampu menarik bahkan pembeli asal Malaysia.

Artikel Terbaru Kami