Selasa, 21 Februari 2017

Macam Camilan Minang Bisnis Mengenyangkan

Profil Pengusaha Mimi Sivia 




Sambil kuliah tidak ada salahnya membuka usaha. Sambil kuliah S- 2, Mimi Silvia, menemukan ide buat bisnis makanan ringan Minang. Eh, ternyata, menjadi usaha menjanjikan buat masa depan Mimi. Camilan khas Batusangkar, Sumatra Barat, dikemas modern oleh mahasiswi S-2 Universitas Indonesia ini.

Keinginan membuka usaha ditengah kuliah lagi. Tepatnya pertengahan 2016, ada perasaan ingin membuat satu usaha melihat kelebihan daerah asal. Di Batusangkar, memiliki kelebihan oleh- oleh khas, dan tidak cuma rendang.

Inilah alasa Mimi menggeluti usaha sekarang. Dia ingin mengangkat lebih dibalik kuliner Minang. Disisi lain nama kuliner Minang sedang ngetrend. Mampu mendorong Mimi untuk berbuat lebih. Langsung dari ide bisnis tersebut pilihan promosi jatuh pada bisnis jualan online.

"Kepikiran saja jual oleh- oleh khas Minang online," paparnya. Didukung koneksi banyak, dari karyawan swasta hingga mahasiswa, di Jakarta sampai Depok. Beda dengan pengusaha pada umumnya. Mimi lebih memilih memesan langsung ke Batusangkar.

Melalui usaha dia berharap memberi lebih ke Batusangkar. Minimal mendukung, mempromosikan kuliner khas daerah, serta memberikan peluang usaha kepada masyarakat. Ia menjamin produk dijual adalah hasil olahan keluarga Mimi asal Batusangkar.

"Kasihan pasar tradisional di sini pedagangnya suka ngeluh," terangnya kepada Detik.com

Aneka produk mulai ikan bilih sambal hijau- merah, serundeng kentang atau talas, rendang telur, rendang daging, rendang belut, rendang kerang, dan banyak lagi. Pokoknya semua kuliner khas Minang, asal daerah Batusangkar, dikemas Mimi kemudian dijajakan.

Kemudian dikemas menarik dengan nama O- NE (dibaca o ne) atau dalam bahasa Minang artinya "Uni", yang mana merupakan sebutan buat perempuan Pariaman. Dikemas higenis, modern, serta memiliki warna menarik perhatian pembeli. Pembuatan juga menunggu pemesanan, jadi produk baru dikirima langsung.

Bumbu tanpa bahan pengawet, umur produk mampu bertahan 1- 3 bulan. Pemasaran lewat Instagram, lalu Facebook, dan Path Pribadi. Awal dia menghubungi teman- teman buat pemasaran, koneksi semua dia hubungi, dan jualannya lewat WhatsApp.

Pengenalan awal lewat broadcast WA, lumayan kan, Mimi punya 2000 koneksi di sosial media tersebut. Ia mengatakan sementara pembeli kebanyakan Jakarta dan Bandung. Kemudian pembeli memborong dan membawanya ke Belanda, Australia, Inggris, dibeli teman- teman atau kenalan yang tengah kuliah di luar negeri.

Pasar mulai anak SMA, mahasiswa, sampai pegawai kantoran. Kemudian ada dosen yang menawarkan diri menjadi reseller. Produk Mimi juga digaet oleh pemerintah daerah, dipromosikan jadi salah satu UKM terbaik daerah. Omzet puluhan juta, dimana modal tidak mau setengah- setangah yakni sampai Rp.10 juta.

Paling mahal menurut Mimi, ada di bahan baku produk, soal kemasan serta hal- hal teknis cuma beberapa juta. Memang produk Mimi dijual lumayan yakni Rp.200- 280 ribu buat aneka rendnag, ikan bilih sekitar Rp.220 ribu- 250 ribu, rendang telur dan serundeng Rp.15- Rp.40 ribu -tergantung ukuran kemasan dibeli.

Penjualan sudah mencapai kisaran 400- 500 bungkus perbulan. Dengan aneka produk pilihan, Mimi bisa meraup lebih banyak pasar, dimana produk andalan ikan bilih dan rendang. Fokus ke depan, Mimi ingin kebih banyak menggaet reseller, dan membawa terbang produknya ke luar negeri terutama Malaysia.

"Selain itu bakal launching web oneminang.com," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami