Kamis, 09 Februari 2017

Usaha Menyewakan Tanaman Hias Kantoran

Profil Pengusaha Nana Roesdiono 



Perkantoran besar butuh penyegaran. Ruangan ber- AC butuh hijaunya daun, cerahnya bunga- bunga cantik, nah inilah kesempatan kamu yang hidup di kota besar. Berbisnis lah penyewaan tanaman hias. Apakah itu akan sukses nantinya. Ikuti kisah seorang wanita bernama Nana Roesdiono.

Lulusan Universitas Airlangga, jurusan Psikologi, selepas dia kuliah tahun 1991- 1999, dia kemudian jadi personalian di perusahaan Jepang. Tidak cuma satu perusahaan tetapi dua. Karir yang cemerlang didukung hobi menenangkan. Tanaman hias dijadikan sarana menghilangkan letih, lelas, selama bekerja di kantor.

Saking hobinya sampai begitu banyak. Bagian depan, belakang, bahkan lantai dua dijejali aneka tanaman hias beraneka jenis. Semua ditanam diatas pot cantik hias. "...ditata rapi hingga sedap dipandang," tukasnya di halaman Kompasiana miliknya.

Dia merawat sangat teliti dan telaten. Ujungnya, kepikiran nih, kalau saja tempat kerjanya ditempati aneka tanaman hias cantik. Bunga- bunga tertaburan menambah gairah bekerja. Saking "terobsesinya" Nana juga terkadang bicara sendiri seolah menyuapi anaknya -ke tanaman miliknya ketika memberi air.

Bisnis hobi


Ibu- ibu tetangga Nana undang. Sekedar bersama menikmati indahnya bunga- bunga. Celetukan tentang apa dikerjakan Nana semerbak. Disana muncul ide berbisnis tanaman hias. Ide awal, Nana pikirnya sih, mau jualan tanaman hias aja.

Dia pikir kembali, "sudah terlalu banyak penjual tanaman hias." Nana mulai mencari informasi dari sumber Yellow Pages. Kemudian tanya ke sana- ke mari, hasilnya mengejutkan jasa penyewaan tanaman tidak ada. Yang berarti Nana menjadi pelopor usaha penyewaan tanaman hias.

Dia kembali ke kantor, mulai rajin mengamati sekeliling, dan menyadari tanaman hias di kantor itu tidak ada. Adanya tanaman plastik sekedarnya dipojokan. Nana menyeriusi ide bisnis penyewaan tanaman hias. Dia mulai menulis proposal, mencantumkan harga, ditunjang kegunaan tanaman hias dari aneka sumber.

Disebar puluhan proposal, dari puluhan, hanya satu proposal diterima oleh perusahaan. Yakni oleh sebuah perusahaan asuransi lantai delapan BRI tower Surabaya. Perusahaan menelephon Nana, menunjukan minat buat menyewa tanaman hias Nana.

Permulaan mereka sewa 5 tanaman meja, 2 tanaman sedang, dan 2 tanmana tinggi, dengan masa sewanya 3 bulan. Hari pertama dapat sewaan, Nana rela bolos kerja, membawa tanaman hias sendiri memakai mobil pick- up. Dari klien pertama, datang orderan lainnya, dari sejumlah kantor BII di seluruh Surabaya.

Orderan kemudian semakin banyak datang. Bisnis sewaan tanaman hias memang lebih menarik. Dibanding perusahaan merawat tanaman sendiri. Menyewa tanaman, Nana akan mengganti tanaman setiap sepuluh hari sekali. Kemudian dia sendiri menugasi perawatan, penyiraman, dan membersihkan pot dari daun layu.

Bisnis semakin berkembang, Nana bisa menyewa lahan belakang rumah. Gunanya dijadikan tempat yang khusus melakukan perawatan. Gunanya tanaman habis sewa akan dipaparkan matahari cerah. Selama 10 hari dipaparkan matahari hingga dimasukan ke ruangan lagi.

Nana juga tidak tinggal diam. Dia terus memperbaharui koleksi tanaman hias. Berburu sampai ke penjuru Jawa Timur, kemudian memesan tanaman hias yang tidak ada di Jawa Timur, mulai dari ke arah Bogor dan Bandung.

Semakin bisnis tidak dapat dibendung, disana Nana memutuskan keluar dari pekerjaan. Keseriusan terus ia pupuk ke bisnis sewa tanaman hias. Dia mulai rajin mengirim puluhan proposal kembali, serta aktif ikut menerangkan sendiri bisnisnya ke khalayak sendiri.

Tiga tahun berbisnis dia sudah memiliki 70 klien, 2 mobil pick- up, 8 pegawai pengiriman dan juga bagian perawatan, dan 1 sekertaris merangkap administrasi. Dukungan sang suami, Eddy Roesdiono, dirasa ia sangat rasakan hingga sekarang sukses. Hingga dia bisa menjadi vendor buat gedung Gubernur Jawa Timur.

Bisnis sewa tanaman hias menghasilkan penghasilan. Jika dulunya, cuma bisanya sewa lahan nursery 300 meter persegi, tahun 2005 dia membeli lahan tersebut. Rumah yang mana juga menjadi tempat kursus bahasa Inggris, yang mana cicilan lima tahunnya terlunasi berkat tanaman hias.

Bisnis sewa tanaman juga punya untung ganda. Pada 2008 silam, dia diajak ikut pameran Hortifair oleh  Kedutaan Belanda, ke Amsterdam, mewakili ASPENI (Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Hias di Indonesia). Di 2010, kembali ke Belanda, mendapatkan pengetahuan manajemen produksi dan perniagaan tanaman hias.

Dua kunjungan ke Belanda, dia mendapatkan pengetahuan tentang nursery, dimana dia berkunjung ke pusat tanaman hias Alsmeer. Dia juga dapat pengalaman tentang bisnis keseluruhan. Mulanya yang sekedar hobi menjadi bisnis sangat serius. Kini, mulai banyak bisnis penyewaan tanaman hias di kota- kota besar.

Jatuh bangun, Nana berbisnis sewa tanaman hias, bersamaan pula melewati gejolak booming tanaman yang bernama anthurium dan gelombang cinta. Dari berbisnis tanaman hias, Nana banyak dikenal orang karena sering

Artikel Terbaru Kami