Minggu, 08 Januari 2017

Mendirikan Usaha Seorang Diri Tanpa Bantuan

Profil Pengusaha Iwan Suprianto 



Meskipun mabel bambu cuma bertahan lima tahun. Bisnis Iwan Suprianto tetap mengemari. Ia ingin mengembangkan agar lebih efekti. Karena, di sisi lain, dari pohon bambu sendiri lebih gampang tumbuh kembang. Sukses Iwan bermodalkan kesederhanaan dalam desain yang minimalis. 

Harga murah namun dapat dijadikan aneka benda bermanfaat. Iwan mengolah tanaman menjulang tersebut. Aneka benda kerajinan dapat tercipta. Aneka furnitur unik klasik dapat dibentuk. Memang butuh ketekunan ekstra karena tidak gampang. 

Kerja keras Iwan sudah dimulai sejak tahun 1991 -an. Empat tahun bekerja di perusahaan mabel menjadi bekal. Iwan mantab membuka usaha mebel sendiri. Bermodal 150 ribu di saku, dia mulai membuat mabel bambu sederhana. Caranya mengumpulkan bambu gelonggong dirakit menjadi satu. 

Namun cara sederhana tersebut tidak tahan lama. Jualan mulai laku. Sementara serbuan mabel asing terus masuk. Agar bertahan kala itu, Iwan harus berinovasi dari segi desain dan ketahanan. Iwan mengklaim dia mampu membuat furnitur bambu awet selama 10 tahun hingga 15 tahun.

Usaha miliknya berkembang. Tahun 2000 Iwan menamai usahanya menjadi DK Milenium. Bisnis yang sudah berbadan tersebut mulai digalakkan. Nama Milenium diambil bertepatan akan isu unik. Tahun baru yang disebut tahun milenium -menyongsong tahun 2000 -an, dan meninggalkan dekade 1000 -an.

Iwan tidak mempekerjakan siapapun. Tanpa bantuan mendirikan usaha. Lewat tangan kreatif, bambu yang terkesan tua, sudah menjelma menjadi furnitur modern. Unsur klasik masih terasa tetapi dari segi desain sudah beda. Sudah tidak ketinggalan jaman karena Iwan sadar kelemahan bambu.

Masih menonjolkan kesan etnik. Ia sekarang mempekerjakan delapan orang karyawan. Menjual dua jenis bambu, yaitu bambu standar dan kualitas tinggi. Iwan juga merangkul perajin bambu lainnya. Usaha tidak dijalankan seorang diri lagi. Harga dipatok Rp.2,5 juta- 4 jutaan, yang mana produk kualitas tinggi.

Untuk biasa dihargai antara Rp.1- 2 jutaan. Dan bisnis dikembangkan Iwan beromzet Rp.25 juta per- bulan. Setiap bulan paling tidak menjual 5 buah set- furnitur bambu. Pemesan terbanyak datang dari Pekalongan, lainnya ya standar saja atau musiman.

Mengembangkan bisnis dia mengikuti aneka pameran. Target Iwan memasuki pasar Kota Jakarta. Dia juga membuka showroom sendiri di bilangan Matraman. Meskipun sudah ada showroom tetap tidak puas. Ia memang pengusaha sejati tidak mudah puas. Ingin sekali rasanya mampu mengirim sampai pasar ekspor.

Kesulitan meningkatkan kualitas produk masih dirasa. Masih butuh peralatan modern menunjang usaha ia tengah jalankan. Pokoknya dia terus berusaha agar maju. Apalagi tujuan tengah dia capai ialah menjual ke pasar ekspor -sampai ke luar negeri lah. "Mudah- mudahan dalam waktu dekat bisa ekspor," paparnya.

Artikel Terbaru Kami