Kamis, 12 Januari 2017

Sabunan Gak Pakai Air Pengusaha Muda Afrika

Profil Pengusaha Ludwick Marsishane


  
Ketika dia masih duduk di bangkus SMP. Merasakan susahnya hidup di Benua Afrika. Ludwick Marsishane berpikir kenapa sih mandi butuh air. Padahal kita tau Afrika dikenal daerah tandus kekurangan air. Maka ia kemudian kuliah jurusan Ilmu Science di University of Cape Town.

Untung dia bertemu rekan bisnis baik, Lungelo Gumede, dan ketika bisnis mereka mulai berjalan. Mampu menggaet tenaga profesional, seperti Dr. Hennie du Plessis -ahli teknik kimia dan merupakan pimpinan formulasi industri- sebagai ujung tombak. Temuan mereka simple kok tetapi membantu banyak orang.

Awal ingin menciptakan lotion buat tubuh. Itu digunakan sebagai pengganti air mandi dan sabun. Tetapi dia berasumsi sudah ada. Hingga Lud mulai meneliti sendiri apakah ada. "Produk seperti ini tidak ada di luar sana," ia paparkan. Dia lantas belajar dari bahan lition, krim, atau pembersih tangan, agar bisa buat tubuh.

Bagaimana mereka diciptakan. Bagaimana menemukan sesuatu tenpa harus menggunakan air. Bahkan dia sudah merancang tabel formula sendiri. Berlembar kertas berisi teori serta table formula, tetapi apalah daya, Lud tidak memiliki sumber daya. Sayang sekali.

Ide awal


Ide awal memang bagaimana menciptakan mandi tanpa air. Namun, ternyata dibalik ide, ada celetukan dari seorang kawan yang malas mandi. Ketika suatu hari dia dan teman hendak jalan ke pantai. Dengan santai si teman berkata, "adakah seseorang menemukan sesuatu buat badan tetapi tidak perlu mandi."

Inilah ide awal, lampu penerangan terpancar, sebuah "oh" faktor yang dikaitkan dengan populasi Afrika dan dunia yang mana 2,5 juta orangnya tidak punya akses air. Tanpa ada arahan dia langsung membuka banyak hal. Dari halaman Wikipedia dan pencarian Google menjadi rujukan Ludwick agar tercipta sesuatu.

Dia tinggal di pinggiran Kota Limpopo, dimana sumber daya terbatas. Di tempat yang begitu jelek, yah di Afrika, banyak orang sakit karena bakteri kulit bahkan dalam air tenang. Bayangkan jarang air, adapun air bisa membunuh mu.

Bakteri tersebut, melalui kulit meresap ke sistem pencernaan kamu, menyebabkan diare, atau sekedar ada di mata kamu -membuat trachoma, infeksi mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Kalau buat tempat yang sudah bersih penemuan Ludwick bisa digunakan sebagai pembersih tubuh aman, dengan atau tanpa air.

Inilah kelahiran bisnis bernama DryBath. Sebelum memasuki perkuliahan, sudah siap- siap dipatenkan, ia menciptakan formulanya sendiri. Dan akhirnya menjadikan dia orang termuda pemegang paten di Afrika. Masalah baru datang karena dia belum bisa memproduksi masal.

Formula sudah ada dua tahun sebelumnya, nah kalau masalah bisnis baru dikerjakan ketika dia masuk ke Universitas. Selepas sekolah menengah, dia dapat beasiswa nih, ke UCT dimana menjadi sumber daya dia menyempurnakan konsep awal. Hingga dia mengikuti lomba kewirausahaan sehingga uangnya jadi modal usaha.

"Itu tidak berhasil seperti saya pikirkan awal," ia melanjutkan.

Dia sudah pengalaman membuat paten -dulu tentang rokok sehat. Kini, dia ingin mengembangkan apa yang dia kembangkan dulu. Memang membuat tubuh wangi dari produk awalnya, namun meninggalkan jejak- jejak kering seperti layaknya ketombe, ketika gel yang digunakan kering.

Ketika itu dia mulai berpikir butuh tenaga ahli. Disinilah peran Dr. Hennie de Plessis ada, seorang teknisi yang sudah berpengalaman di bidang industri perawatan tubuh, hingga memperbaiki formula menjadi sempurna.

Atas sumbangsih dia, maka Lud memberikan saham kepada dia, menjadikan dia salah satu eksekutif di perusahaan bernama DryBath. Kenapa dia mau membantu? Karena Ludwick memiliki passion kuat. Dan mampu menujukan kerja nyata kepada Dr. Hennie.

Dukungan datang karena dia tidak ingin ide hilang. Tidak mau gagal mematenkan, mangkanya rela sekali memberikan data dia pernah kumpulkan. Dr. Hennie kemudian menyempurnakan. Dibantu pengacara yang juga melihat kegigihan dia. Jadilah Ludwick, umur 17 tahun, sudah memiliki paten sendiri buat produk itu.

"Tidak masalah jika Anda Apple, Google atau remaja yang mencoba untuk membuat bisnis T-shirt di perkampungan. Setiap bisnis adalah semangat. Orang tidak benar-benar menyadari bahwa kita semua pergi melalui hari di mana kita benar-benar sadar proses paket produk datang ke rumah, di malam hari, dengan pacar kita, dll ... Jadikan ini sebuah semangat (karena entrepreneurship adalah kerja keras)."

Tahun 2011, Lud menjadi salah satu finalis lomba kewirausahaan, Anzisha Prize. Dimana dia menjadi salah satu entrepreneur muda diantara 15 tahun sampai 22 tahun. Penghargaan seluruh Afrika yang bisa mengangkat namanya sebagai pengusaha di kancah Internasional.

Pengembangan produk


"Ketika kami menciptakan DryBath pada dasarnya kita hanya ingin menciptakan produk pengganti mandi yang sederhana dan tidak membutuhkan air sama sekali ...," jelas Lud, yang baru- baru ini disebut 30 orang muda dibawah 30 tahun yang merubah dunia, oleh Time.

"Jadi pertama kita harus belajar kebersihan dan apa artinya menjadi bersih," ia menambahkan. Awal pikir dia bersih berarti tidak bau. Yah kalau tidak bau berarti bersih bagi kebanyakan orang. Inilah indikator yang dia capai pertama kali.

Bagi orang kulit hitam mandi berhubungan dengan status sosial. Jika orang kulit hitam mandi air panas maka status ekonominya naik. Namun di Afrika kebanyakan mandi menjadi sukar, bukan tidak mau mandi, tetapi masalah sanitasi, kelistrikan, terutama Afrika Selatan membuat mandi bukan masalah utama.

Dari bisnis DryBath, kemudian menjelma menjadi industri kebersihan, Headboy Industries. Nama dari Ludwick menjadi sosok utama dalam perkembangan aneka bisnis. Utamanya menjadi pemain di industri yang pasarnya Afrika dan Asia pelosok.

Sayangnya perusahaan kesukaraan menciptakan produk berharga ekonomis. Tantangan utama pengusaha muda dalam berbisnis. Untuk masalah terget utama mereka mungkin belum terpenuhi. Tetapi mereka masih bisa menghasilkan uang untuk aktifiktas outdoor buat pasaran Eropa sampai Amerika.

Mulai dari camping, traveling, dan festival, maka DryBath adalah solusi, jadi 90% keuntungan perusahaan justru dari target di luar pasar mereka sebenarnya.

Pengalaman akan tinggal di komunitas yang kumuh. Tud membuat konsep paket pakai sendiri, dibanding membuat buat paket besar. Ia berpikir di Afrika, orang beli rokok sebatang, tidak sepak padahal kalau dirunut harga lebih mahal. DryBath dijual 50 cents untuk negara berkembang, dan $1,50 untuk hotel atau pesawat.

Harapan besar seorang pengusaha kepada bisnisnya. Tud berharap ekonomi membaik hingga menurunkan biaya produksi. DryBath belum dijual secara bebas. Tetapi dia tidak pungkiri akan menyebarkan produk itu ke penjuru dunia.

Artikel Terbaru Kami