Selasa, 03 Januari 2017

Emping Melinjo Sehat Bebas Penyakit Bantul

Profil Pengusaha Sukses Sukati 



Ibu bernama Sukati kemudian menceritakan kisah suksesnya. Orang bilang sukses tidak perlu mahal. Inilah sukses Sukati, seorang pengusaha emping melinjo, berkat usaha sederhana mampu mensekolahkan anak sampai lulus sarjana. Diawali rasa prihatin atas melimpah ruah biji melinjo di kampung halaman.

Warga Dusun Tegalkenongo, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, yang merasa kok banyak ya melinjo berceceran. Tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hanya jualnya rendah sekali. Kesempatan buat Sukati membuat perubahan pada bisnis melinjo lokal.

Dia kan asi Wonogiri, Jawa Tengah, nah di tempat asalnya, buah melinjo diubah menjadi emping. Buah si melinjo dijadikan emping dan harganya jauh lebih mahal. Dia hanya mencoba membuat apa yang sudah ada di luar, tetapi tidak di lokal. Usaha dijalankan pada tahun 1980 silam berjalan lancar.

Tahun 80 -an itu, melinjo dihargai Rp.1000 per- kg, dan ketika dia bikin emping harga Rp.3000 per- kg. Laris manis jualan Sukati terutama ketika Lebaran tiba.

Uang Rp.3000 itu banyak jaman dulu. Penjualan cukup sekitar rumah saja. Atau ada pedagang yang datang mengambil buat dijual lagi. Tahun 2000 -an, bahan baku malah naik sampai Rp.60 ribu per- kg. Mangkanya dia tidak cuma membutuhkan dari lokal saja.

Cari sampai keluar Bantul, sampai ke Kulonprogo dan Sleman. Dia sudah punya penjual langganan. Sehari dia memproduksi 500kg permintaan. Bahan baku mencapai lima kilogram setiap kilogram untung sampai Rp.1000. Jika sebulan laku 150kg dikalikan saja Rp.1000, atau hasilnya sampai Rp.150.000.

Ia mengatakan emping melinjo miliknya beda. Karena rendah purin, maka tidak masalah dikonsumsi oleh penderita asam urat hingga darah tinggi. Ia berani kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan sampai bisa menciptakan emping melinjo. Emping melinjo rendah purin dihargai Rp.90 ribu per- kilogram.

Artikel Terbaru Kami