Senin, 16 Januari 2017

Aneka Tas Ekspor Eropa Rico Yudhiasmoro

Profil Pengusaha Rico Yudhiasmoro 



Menjadi pengusaha muda merupakan pelajaran. Bahkan tidak tertulis detail dalam buku bisnis manapun. Kisah dari setiap pengusaha berbeda- beda. Satu pengusaha mengandalkan bekal pendidikan. Tidak jarang berjalan menjadikan kewirausahaan pendidikan itu sendiri.

Butuh kerendahan hati untuk selalu belajar. Juga butuh rasa tidak puas karena belajar sepanjang jalan. Ini kewirausahaan tidak semudah membalikan telapak tangan. Rico Yudhiasmoro, lulusan jurusan ekonomi dan advertising, Universitas Gajah Mada, memilih membuka usaha tas dibanding bekerja di perusahaan.

Ia nekat membuka usaha tas bermodal otodidak. Semua desain karangan Rico merupakan ide original. Dia lantas bertemu seorang pengrajin. Sosok dia membantu Rico tumbuh kembang. Dari seorang mahasiswa lulusan ekonomi menjadi desainer tas berkualitas ekspor.

Awal Juni 1997, seorang pengrajin bergabung dengannya, ialah pengrajin asal Kota Yogyakarta yang dia ketahui sumber bahan dan kerajinan kulit. Soal desain dia belajar banyak belajar sama si pengrajin. Dia hanyalah pemula ketika memulai bisnis. Semua barang dipelajari betul- betul oleh Rico layaknya kuliah.

Mulai pembuatan tas, dompet, sarung tangan, sampai jaket kulit. Berlanjut usaha mereka merambah bahan non- kulit. Menjadi pengusaha muda merupakan belajar di tempat. Apapun pesanan pembeli disetujui saja olehnya.

Bisnis besar


Bertahun bersama sang pengrajin mengundurkan diri. Perbedaan visi menjadi alasan keduanya pecah. Rico merasa bahwa sang pengrajin juga kurang soal kualitas. Padahal disadari betul pembeli mulai banyak, jadi kualitas harus diperhatikan agar tidak kalah bersaing -sesuai prinsip ekonomi dan advertising dia pelajari.

Usaha produk aneka kulit Rico natural. Bahan baku hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak memakai cat supaya terkesan natural. Kulitnya ramah lingkungan atau istilahnya vegetable tanned. Soal modal tidak ada masalah karena prinsipnya kepercayaan.

Kredibilitas bahwa dia berkomitmen akan produknya. Soal uang akan mengucur sendiri, baik uang sendiri ataupun pinjaman bank. Atau terkadang berupa kucuran bahan baku. Orang akan datang rela menginvestasi ke bisnis Rico. Tunjukan prestasi dulu, kredibilitas, maka yang menawarkan modal tidak akan kecewa.

Lebih mudah soal uang dibanding teknis. Ambil contoh Rico bisa meminta pinjaman keluarga. Ketika dia diberi pinjaman maka tanggung jawab. Susah justru datang dari kebutuhan sumber daya manusia. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus membuat tas disini.

Pelatihan harus diberikan oleh Rico sendiri. Pelatihan khusus spesifik untuk pekerjaan tertentu. Ada yang diajarkan mengelem, menjahit. Setiap orang diberikan keahlian khusus. Mereka tidak mengerjakan semua dari awal sampai akhir. Awalan dia memiliki lima orang karyawan bekerja di garasi rumah orang tuanya.

Kalau sekarang sih, sudah ada 100 orang karyawan, dan usaha M Joint bergeser ke belakang rumah supaya menampung banyak karyawan. Usaha mereka fokus membuat tas dan dompet kulit. Alasan karena barang tersebut tetap ada sejak dahulu kala. Kualitas dia ingatkan merupakan urusan nomor satu pengusaha muda.

Bisnis terbang ke Eropa


Kualitas baik maka barang akan dicari oleh pembeli. Konsumen akan sendirinya mencari- cari. Contoh ringan ya kalau berbisnis kuliner: Makanan enak kalau tempat terpencil tetap laku. Orang akan datang ke pelosok buat menikmati kuliner.

Produk Rico dipasarkan utama lewat mulut ke mulut. Usaha lainnya, lewat aneka pameran, tujuan Rico ialah membangun relasi bisnis. Usaha pameran menghasilkan pembeli bahkan dari luar. Pameran yang dia rasa paling berkesan, ialah pameran di Frankfurt, Jerman, lewat Badan Pengembangan Ekspor pada 2007.

Promosi dianggap penting gak penting. Pokoknya harus meningkatkan kualitas produk kita. "...kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri," ujarnya.

Produksi Rico mencapai 2500- 3000 buah setiap bulan. Jumlah produksi ditentukan kesulitan desain dia miliki. Makin rumit semakin sedikit diproduksi. Jumlah produksi tas mencapai 90 persen. Sisanya dia fokus mengerjakan aneka dompet. Tahun 1998, produknya sudah masuk Jepang, meskipun tidak banyak.

Pengiriman ke Jepang tidak berlangsung panjang. Alasan karena produk M Joint kalah bersaing dengan produk China. Sekarang pasar eskpor dialihkan ke Eropa, dimana besaran 80%, sementara ke Australia 15% dan sisanya dalam negeri. Produk Rico mengisi etalase 450 toko, dijual lewat mereka setempat.

Pasar lokal Rico hanya menyasar pameran atau di rumah. Jadi kalau kamu mau tasnya harus ke rumah Rico sendiri. Kalau sekarang dia ingin mempertahakan penjualan di duna negara itu. Pernah dapat pesanan besar dia syukuri. Dengan cara kerja lembur semalaman buat memenuhi pesanan produksi dua negara.

Oleh karena penjualan lebih ke luar negeri. Dimana produknya dimereki orang lain. Rico mengaku masih kesulitan mengembangkan brand sendiri. Ia tengah mempersiapkan paten atas mereka sendiri. Sementara itu pasaran Indonesia mulai bergeliat minta dipenuhi. Omzet sendiri tidak bersedia beberakan detailnya ke Kompas.com

Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.

Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.

Artikel Terbaru Kami