Minggu, 29 Januari 2017

Mimpi Pengusaha Dodol Keripik Ibu Popon

Profil Pengusaha Popon Suhaemah 



Sosok petani buah satu ini layak kamu tiru. Popon Suhaemah tidak mau 83 pohon mangga miliknya terjual murah, atau bahkan membusuk tidak laku. Ibu Popon lantas membuka usaha jus buah. Sasaran Bu Popon adalah sekolah dekat rumah. Meskipun usaha ini berjalan sebentar, aneka usaha lainnya menyusul lagi.

Pokoknya Popon tidak mau hasil perkebunan mubazir. Inilah cikal bakal usaha camilan dia kembangkan. Yang dari semula berawal buah mangga, Bu Popon terkenal membuat keripik nangka. Dia memanfaatkan segala sumber daya sekitaran daerahnya.

Ide bisnis muncul dari pelataran rumah, Kelurahan Cijati, Kab. Majalengka, yang sebelumnya berjualan jus lantas berbisnis dodol kemudian keripik. Sebelum bisnis buah, Bu Popon ternyata pernah jualan telur asin pada 2000 silam. Bisnis berakhir ketika musim kemarau karena bebek hilang di budidaya desanya.

Bisnis terus


Kenapa bisnis jus buah Popon gagal. Ternyata ada alasan dibalik kisah gagal tersebut. Menurutnya jus buah tidak awet. Dalam seminggu disimpan maka akan keluar bakteri pembusuk. Ia mulai memutar otak caranya agar jus buah mangga awet. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, bagaimana biar tahan lama.

Ia mengenang awal usahanya: Cuma ingin bagaimana produk jualan yang bertahan lama. Atas saran Dinas Kesehatan, dia diberi surat mengikuti pelatihan, mendapatkan ilmu baru tentang bagaimana mengawetkan buah mangga. Dia merubah mangga menjadi dodol kemudian keripik.

Segera bisnis ini berjalan, dan sejak 2002, nama usaha Ibu Popon sudah terdaftar menjadi merek dagang. Ia menggunakan nama Ibu Popon biar nyarinya gampang. "..karena saya asli orang sini," jelasnya. Kan orang sana kenal sama Ibu Popon, jadi orang tau siapa pembuat camilan mangga menggiurkan itu.

Agresifitas bisnis Popon memang meningkat. Apalagi semenjak sang suami di- PHK, bisnis keripik ia jalankan semakin gencar promosi. Pada Oktober 2003, mangga Popon melimpah, menghasilkan banyak buah yang dijadikan modal usaha.

Popon lantas merubah mangga menjadi dodol, dengan berbekal pengawet. Semua berkat ilmu pengawet baik yang sudah berijin Dinas. Mengendarai motor GL 86, Popon titipkan dodol mangga ke warung, ada 20 bungkus dodol setiap warung disinggahi, dodol pokoknya harus habis tidak ada sisa di rumah.

Namun, berbisnis tidak semudah harapan, dodol Ibu Popon kok tidak selaku dibayangkan. Laku cuma 2- 5 bungkus setelah dia menagih ke warung- warung. Sisanya dikembalika ke Popon dan berlangsung lumayan lama. Popon tidak lupa membawa gunting, tidak laku dodol dipotong kecil, dan merek dibakar dibuang ke sungai.

Tetapi Popon tetap ulet menggarap bisnis dodol mangga. Meskipun hasilnya rugi tetap dia perjuangkan. Ia lantas menarik perhatian Dinas Pertanian. Senang banget ketika itu, tempat usahanya didatangi pejabat- pejabat berseragam cokelat. Mereka membeli dodol- dodol mangga Ibu Popon akan dijual ke Provinsi.

Mereka ingin memamerkan bahwa Majalengka punya khas. Dodol mangga menunjukan bahwa sumber daya utama Majalengka, yakni mangga, bisa diusahakan menjadi hal baru. Inilah titik terang bisnis Popon berkembang. Lewat obrolan dan sepucuk nomor telephon yang dia minta seolah membuka jalan.

Bisnis keripik


Selepas Lebaran, Bu Popon mampir ke Dinas Pertanian, untuk bertemu Kepala Seksi Usaha tingkat Kab. Majalengka, bernama Pak Nunu. Dia berkesempatan menceritakan mimpinya. Panjang lebar tentang apa yang hendak Popon capai dari bisnis dodol mangga.

Dia kemudian diajak menjadi warga binaan tani. Syaratnya Bu Popon harus membentuk kelompok tani dulu. Ada 4 orang dalam satu kelompok Popon. Mereka adalah saudaranya sendiri. Mengumpulkan uang Rp.50 ribu buat mendapatkan pelatihan. Mereka melakukan trial- error usaha dodol mangga bersama.

Dengan dukungan Dinas Pertanian, beberapa hal mendasar mendapatkan bantuan. Tetapi untuk bagaimana menciptakan produk berkualitas. Sepenuhnya ditangan kelompok tani Bu Popon. Sudah membuat dodol tapi malah sudah jamuran meski belum beredar. Dinas memberi saran lemak sapi tetapi dodol malah bau.

Didampingi Dinas, usaha terus dilakukan, hingga mereka diajak melalukan kunjungan ke Ciamis. Di sana dia belajar mengenai cara benar membuat dodol. Pokoknya Dinas Pertanian mendampingi pasca panen sampai akhirnya membantu memberi pencerahan.

"Ooohh... rupanya begini caranya membuat dodol," ujar dia. Mulai studi banding dodol ke Ciamis hingga Sukasena. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya enggak," yakinnya. Pelatihan mulai cara membuat sampia ke pengemasan.

Dia pun belajar mengenai arti merek. Nama harus memiliki filosofi kuat dibaliknya. Nama merek berarti intergritas bisnis mereka. Popon mendapatkan bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan juga Universitas Pasundan (Unpas). Semua masalah dikonsultasikan ke Jurusan Teknologi Pangan keduanya.

Bahkan Popon rela mahasiswa datang melalukan penelitian ke rumah. Berkat bantuan para mahasiswa itu, Popon dapat menempelkan kandungan nutrisi.

Tahun 2004, bisnis Popon makin maju, aneka camilan diolah yang berbahan dasar buah- buahan hasil pertanian. Dia kemudian mendapatkan tawaran mesin vacuum frying untuk membuat keripik. Aneka macam keripik buah dibuat. Dari kerpik pisang, dia belajar, bagaimana agar keripik tidak letoy kelamaan.

Ia belajar jenis pisang berpengaruh, disisi lain tingkat kematangan mempengaruhi. Kita harus tentukan dulu, pisangnya apa, kulit pisangnya seperti apa, kemudian harus kita goreng sampai ke tingkat kematangan berapa. Kalau gagal disortir maka akan diolahnya menjadi dodol.

Kalau awal, pisang dihajar, langsung kupas goreng tanpa mikir. Bu Popon belajar bahwa berbisnis adalah kesabaran. Meskipun dianggap sepele, Popon barulah mampu membuat keripik pisang sesuai dengan apa yang dia inginkan setelah tiga tahun. Nama dodol dan keripik Ibu Popon mulai dikenal khalayak ramai nih.

Bisnis tidak berhenti


Usaha dijalankan Popon terus berkembang. Dia terus belajar termasuk cara menentukan harga. Jika dia jual ke warung Rp.3.500 maka kalau ke pembeli langsung Rp.5000. Disisi lain ada orang jualan 1/4 ons dijual Rp.2.500. Alhasil keripik Popon tidak laku di pasaran, meski rasa lebih mantap, hanya karena harga.

Ia kembali dapat retur. Dia kemudian menentukan ulang harga. Disisi lain, permodal juga masalah, untung ada jaminan dari Dinas Koperasi. Alhasil Popon mendapat pinjaman bank BJB senilai Rp.9 jutaan di tahun 2009 silam.

Dia kemudian diajak ikut pameran oleh Dinas Perindustrian. Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah dia kunjungi, contoh NTB, Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Produk Ibu Popon juga pernah muncul di pameran Singapura Expo. Kemudian masalah packing produk juga mulai diperbaiki Bu Popon.

Dibantu Packing House asal Bandung, disarankan produk buatannya tidak cuma diplastik, tetapi dibentuk jadi souvenir lewat kardus. Melalui itulah nama Ibu Popon semakin besar -pemasaran merambah sampai ke Majalengka, Jakarta, termasuk rest area jalan tol dan kantor koperasi Jakarta.

Di Bogor, kamu bisa dapati produk Ibu Popon di sentra oleh- oleh Priangan Sari. Pusat perbelanjaan di Carrefur Yogya juga sudah ada. Sudah berkembang, Popon mulai berbagi ilmunya lewat pelatihan kepada ibu- ibu sekitar. Ada sekitar 40 kelompok tani, terdiri dari 10 orang, dimana mereka berkeahlian khusus.

Ada bagian pembuatan keripik pisang, karipik jagung, keripik salak. Soal SOP dan bumbu dikontrol oleh Bu Popon langsung. Dengan bantuan mereka bisa menghasilkan berbagai jenis keripik. Kemudian tidak cuma berhenti di keripik, juga ada peyek kacang hijau, sumpia isi oncom, dimana juga mak nyus.

Siapa sangka wanita sederhana ini, adalah pemilik pabrik memproduksi aneka jajan, banyak sekali dari aneka dodol sampai aneka keripik buah. Popon sendiri termasuk suka inovasi. Dia mengutak- atik setiap produknya menjadi lebih unik. Ia sekarang terkejut karena setiap idenya diminati masyarakat luas.

Dengan upah Rp.2000 per- kilogram, maka Popon mempekerjakan sumpia oncom. Lalu ada juga emping jagung yang diminati konsumen Bogor. Awalnya cuma bikin emping original. Permintaan konsumen mau lebih: Mereka ingin diberi taburan bumbu barbeque, ini menjadi jalan Popon mengembangkan produk lagi.

Inovasi selalu dilakukan Popon. Dia menyikapi hal tersebut seperti hobi. Biasanya dia membuat sesuatu yang baru di bulan sepi order yakni Maret hingga Mei. Banyak mimpi ingin direguk Popon akan produk olahan bermerek Ibu Popon. Seperti keripik nanas, dimana tengah dia agresif pasarkan dan berhasil.

Kerja keras 8 tahun Popon, apa yang telah dihasilkan wanita tersebut. Tidak banyak dibanding pengorbanan waktu. Dia menghasilkan omzet Rp.180 juta, dimana keuntungan bersih 15- 20 persen. Dimana Popon sudah memiliki lima buah mesin penggoreng sekaligus pengering keripik sendiri.

Kegemaran -atau hobi- Popon berkreasi praktis membuatnya sulit disaingi. Pokoknya selalu ada yang baru ditampilkan produknya ini. Selain mimpi pribadi menjadi pengusaha sukses, mimpi lainnya, yakni memberdayakan petani sekitarnya telah berhasil lewat kelompok tani binaan.

Semua kesuksesan karena dia ikhlas membantu orang. "Dengan membantu orang lain, Insya Allah urusan kita juga dibantu sama Yang Kuasa," tegasnya.

Artikel Terbaru Kami