Kamis, 26 Januari 2017

Usaha Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

Profil Pengusaha Annisa Febby Chaurino dan Hendra Gunawan 




Bagi pecinta kaos khas Banyuwangi, nama Nagud sudah tidak asing didengar di telinga. Tetapi buat kita nih namanya Nagud adalah bisnis berkonsep unik. Kamu layak mencoba bisnis mereka. Bisnis kaos distro itu memang tidak ada matinya. Bagaimana jika membuat kaos distro limited edition?

Distro Nagud! Banyuwangi dipelopori pasangan pengusaha. Sang suami, Hendra Gunawan (34), melihat peluang ada di bisnis istrinya. Annisa Febby Chaurino, memulai brand Nagud! Banyuwangi sengaja untuk membuat desain tidak pasaran.

Annisa juga mengangkat nama Banyuwangi sendiri. Hasilnya tidak asal membuat kaos distro. Ia juga tidak mau memproduksi banyak, tetapi kualitas kaos rendah. Dimulai sejak 2012 silam, satu bulan selepas dia lulus Design Industri ITS Surabaya, modalnya cukup Rp.2 juta sudah bisa membuka distro milik sendiri.

Uang tersebut pinjaman orang tua. Berarti Annisa harus sukses mengembalikan. Dengan pemasaran lewat sosial media, ada Facebook, Twitter, ada webnya juga, desainnya original tidak copy- paste desain milik orang lain. "Desainnya juga asli karya saya dan mengharamkan copy- paste desain orang lain," ujarnya.

Memang sejak awal Annisa menawarkan sesuatu beda. Dia sendiri pernah dapat juara lomba desain kaos se- Jawa Timur pada 2010. Waktu itu dia masih aktif berkuliah. Dan, oleh karenanya, dia sangat percaya diri buat memulai bisnis clothing.

Dua bulan dia mengembangkan bisnis. Mulai belajar administrasi dulu, pembuatan kaos, lalu dia beranikan diri meminjam uang. Ia sudah perhitungkan betul perputaran uang. Akhirnya memberanikan diri meminjam uang kembali ke bank. Kemudian dia mengajak kerja sama kakak di Surabaya, untuk mulai membuat kaos.

Bisnis pintar


Harga produksi Annisa memang sedikit lebih mahal. Patokan harga kaosnya mencapai Rp.90.000 sampai Rp.150.000. Satu desain diselesaikan selama satu minggu. Tetapi terkadang juga malah mengikuti mood -nya sih, jadi bisa lebih panjang. Setiap dua bulan Nagud! dan dia minimal mengeluarkan dua desain.

Bersama sang suami Hendra, mereka menyasar konsep tradisi khas ke- Banyuwangian. Bisnis mereka juga sudah berkembang tidak cuma kaos, termasuk jeket, jamper, aksesoris, batik, pokoknya khas Banyuwangi lah.

Nama- nama tradisi diambil mengangkat Banyuwangi. Baik gambar ataupun tulisan semuanya Banyuwangi. Ia mengaku bisnis mereka berjalan. Alasan karena konsep ditawarkan mereka beda. Tidak ada produksi kaos banyak. Bisnis mereka cuma memproduksi 18 potong kaos.

Dimulai kaos anak- anak hingga dewasa diproduksi terbatas. "Sengaja terbatas dengan desain yang khas agar tidak pasaran," Hendra mempromosikan.

Pengalaman memakai pakaian branded berkualitas. Yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ada perasaan yang berbeda Hendra rasakan. Ditambah tradisi lokal membuat bisnisnya makin bersinar. Pengabdian akan tradisi lokal membuat Nagud! Banyuwangi makin matang.

Bisnis mereka sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Denpasar, dan juga sampai ke luar negeri loh, seperti ke Taiwan dan Hongkong. Untuk jaket harga kisaran Rp.120.000 sampai Rp.150.000. Juga ada tas seharga Rp.60.000. Batiknya kisaran Rp.100.000 sampai Rp.600.000.

Bisnis kaos mereka berharap mampu memindahkan. Trademark tentang kota distro Bandung, ataupu kalau orang mau ke distro di Jawa Timur, ya Surabaya. Maunya nama Banyuwangi menjadi trademark tersendiri lewat Nagud! Soal omzet mereka mengaku pernah mampu mengantungi omzet Rp.60 juta perbulan.

Artikel Terbaru Kami