Senin, 23 Januari 2017

Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Artikel Terbaru Kami