Minggu, 01 Januari 2017

Jual Lampu Aroma Terapi Mas Toyo Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Sutoyo 



Mental bisnis Sutoyo jangan diragukan. Warga Dusun Manayu Lor, Desa Tirtonirmolo, ini sudah pernah berbisnis aneka jenis. Mulai berbisnis daur ulang kertas. Jatuh bangun pun sudah dirasakan Sutoyo agar mencapai namanya kesuksesan. Orang bilang kita harus gagal berulang kali hingga menemukan jalan.

Ia pernah tertipu eksportir. Dua kontainer kerajinan tidak dibayar. Tidak berputus asa, dia lakukan semua agar tetap menghasilkan karya. Meskipun usaha dijalankan Sutoyo bermodal sangat minimalis.

Bisnis daur ulang


Menjadi pewirausaha tidak wajib bersekolah tinggi. Wirausaha dijalankan Sutoyo cuma bermodal ijasah setingkat SMA -ijasah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurusan Teknik Mesin. Ayah dua anak yang sejal awal menekuni usaha kreatif. Bermula dari usaha bernama Toy' Production: Flower & Handycraft.

Pada awal dia mendistribusikan aneka kerajinan tangan. Tahun 2005 usahanya bergeser dari sekedar jualan aneka kerajinan. Nama Titoy Production: Terracotta & Handycraft, dia mulai memproduksi aneka ragam kerajinan tangan bikinan sendiri.

Di tahun 2008 dia membuat aneka kerajinan. Sebut saja frame foto berbahan lintingan kertas, frame kaca, wall dekor, aksesoris, dan lainnya. Ia menjelaskan kepada Indotrading News. Awal usaha saja sudah tidak semulus kamu bayangkan.

Ia menjalin kerja sama dengan eksportir. Eh ternyata malah mendapatkan komplain. Tahun 2010, menurut pria yang akrab disapa Mas Toyo, mengatakan mereka menghentikan kerja sama sepihak. Rugi besar tentu diderita pihak Mas Toyo.

Usaha miliknya gulung tikar. Ada 32 orang karyawan dirumahkan. Mereka bahkan tidak dapat pesangon. Ia malu sangat. Harta benda digadaikan, dijual, seperti sebuah gudang, dua unit mobil, dan empat unit motor hilang. Walaupun sudah dijual tetap tidak nutup kerugian menyisakan hutang sampai Rp.100 juta.

Tahun 2011, dia menyadari bahwa sang eksportir hanya ingin memonopoli, ingin menguasai produk karya miliknya. Semena- mena dan akhirnya Toyo tidak lagi membuka kesempatan. Pembayaran juga tidak bisa lancar. Harga ditawarkan ke dia juga jatuhnya terlalu murah.

Terjepit bukan kembali berbisnis sama. Mas Toyo mengadu nasib lewat jualan soto. Empat bulan bisnis tersebut dikerjakan. Kemudian ya berhenti lantaran sepi pembeli. Dia lalu meminjam modal Rp.4 juta buat jualan ayam ke Taman Hias (Pasty), Yogyakarta, hanya 5 bulan karena jualannya kena flu burung.

Ayam mati hingga tidak balik modal. Walau gagal terus. Toyo mengaku tidak capek. Tetap melangkah maju membuka usaha lain. Didukung sang istri, Dwi Astuti, mereka berbisnis mensuplai aneka kebutuhan buat spa. Mereka membuat lotion, lulur, handbody, dan lain- lain.

Lumayan usaha mereka berjalan baik. Cukup membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Agar lebih banyak menghasilkan dia juga jualan jagung bakar. Tapi, yah, usaha jagung bakar itu berakhir gulung tikar kembali.

Bisnis terus


Ide bisnis pembawa berkah. Muncul ketika dia melihat banyaknya limbah berserakan di sebuah toko, di samping rumah kontrakan Toyo. Pada 25 Juni 2012, dia mengadu nasib kembali lewat bisnis kerajinan, yakni menjadi pengrajin kaca bekas. Tangan dingin Toyo memang sempat kaku tetapi kembali dilemaskan.

Dia mulai mencari, memotong, merangkai, hingga terbentuk produk. Produk unik dihasilkan Mas Toyo yakni lampu. Ia cuma bermodal kaca bekas bangunan. Atau sekedar kaca bekas akuarium pecah.

Bisnis ini dijalankan cuma bermodal uang Rp.100 ribu. Uang tersebut dibelikan kaca bekas, batu alam, dan mangkuk. Mangkuk digunakan sebagai landasan atau atasan. Ditempel sedemikian rupa sampai bentuk jadi lebih manis. Batu alam digunakan menjadi penopang kaca. "Jadilah barang unik."

Awalnya cukup dipotong kecil- kecil layaknya puzle. Produk pertama bikinan Mas Toyo adalah pengharum atau lampu aroma therapy. Sang istri, yang lulusan farmasi, mendukung ide bisnis Mas Toyo. Keduanya lamtas bersiap memasarkan. Sasaran pertama dia adalah memamerkan ke guru- guru sebuah SLB.

Memuaskan hampir semua guru memesan 80pcs. Harga jual murah kok, hanya Rp.85 ribu sampai Rp.150 ribu. Justru ketika permintaan itu banyak Mas Toyo pusing. Lantaran tidak disangka peminat akan sebesar itu. Bagaimana produksi sebanyak itu? Mangkanya dia berhasil selesaikan pesanan baru setelah 3minggu.

Enam bulan berlalu usaha Toyo naik daun. Ia lantas mematenkan usaha dalam bentuk perusahaan. Usaha bernama Titoy Jaya Production -Lampu Aroma Therapy & Handicraft. Usaha kecil menengah ini semakin menggeliat saja. Kerajinan lain mulai lampu biasa, vas, lampu tidur. "Saya optimis dengan produk baru ini."

Tidak mau sendirian sukses. Ia mulai merekrut tetangga. Pesanan melipah naik dibanding sebelumnya. Ia mendapatkan pesanan pengusaha- pengusaha, mereka kebanyakan membeli buat dijual kembali ke hotel- hotel. Ia mempekerjakan 15 orang. Jika pesanan melonjak dia mengambil pegawai tambahan tetangga.

Ia bersemangat dengan bisnis barunya. Bahan dibutuhkan murah, dan proses pembuatan yang tidak sulit. Ia mengatakan cukup kaca dipotong, ditata dan ditempel, dibentuk sesuai keinginan. Nilai jualnya jadi tinggi kalau sudah jadi.

Untuk menciptakan perbedaan. Ia berinovasi, lampu bikinan Toyo bisa dijadikan selain pengharum, bisa jadi lampu penerangan, bisa pula dekorasi mewah. Rahasia sukses produk Toyo ada pada minyal aroma esensial, yang mana dicampur air. Panasnya lampu akan menguapkan aroma tersebut ke udara sekitar.

TJP, singkatan usahanya, mampu memproduksi 300- 400 buah. Meskipun sudah sukses, Toyo tidak puas hati, ingin meciptakan aneka inovasi lain. Selain aroma therapy juga aneka lampu, seperi lampu tidur, baca, dan lampu hias. Ada 25 motif lampu siap menyambut kita pembeli, dan 18 varian aroma berbeda.

Meskipun sama aroma therapy tetapi berbeda fungsi: Ada pewangi ruangan saja, penghangat atau massage oil, penghangat lulur, juga ya lampu hias. Aroma macam- macam, dari flamboyan, night queen, kenangan, kamboja, bogenvil, rose, ylang-ylang, edelwis, sandal wood, lily, akasia, dan bali flower.

Sedangkan aroma minyak esensial, yang digunakan sebagai pengharum ruangan, antara lain ada lavender, jasmine, green tea, peppermint, sandalwood, rose, opium, sakura, bali flower, apple, strawberry, vannila, lemon, ylang-ylang, frangipani, lotus, night queen, dan orange.

Pemasaran utama masih disekitaran Kota Yogyakarta. Namun Toyo juga sudah mengikuti aneka pameran, dari Nusa Dua Bali, Plasa Kementrian Industri, Jakarta, dan optimis membuka peluang menjual ke banyak daerah. Optimis pasarnya akan bisa diperluas dari biasa mereka.

"Tiap pameran saya ikuti, produk saya selalu habis," ungkapnya senang.

Omzet mencapai kisaran Rp.10 juta- Rp.25 juta. TJP sendiri masih banyak kendala. Contohnya pengadaan mesin. Maksudnya agar lebih mudah dalam produksi. Termasuk banja bahan, yang semakin sulit lantaran kapasitas produksi meningkat. Tenaga karja juga masih dianggap tidak mencukupi dengan pesanan.

Pengembangan UMKM menurut Mas Toyo udah baik. BUMN juga ikut membantu majunya UMKM. Tapi belum menyentuh merata ke semua UKM, apalagi ke pelosok daerah. Mas Toyo cuma berharap bahwa pemerintah makin memperhatikan UKM kita.

Artikel Terbaru Kami