Rabu, 21 Desember 2016

Masih Jadi Karyawan Meski Punya Usaha Sepatu Lukis

Profil Pengusaha Sukses Gilang 


 
Kanvas sekarang sudah menjadi alas lukis lama. Kini, pengrajin berlomba- lomba, menciptakan peluang berbeda lewat sentuhan karya. Sambil menyalurkan hobi lukis. Seorang pemuda 28 tahun bernama Gilang memulai berbisnis. Bermodal talenta lukis dan alas lukis berbeda yakni tas dan sepatu.

Keromon berawal dari keadaan mendesak. Bingung mau bayar kuliah. Gilang lantas mencari ide tentang usaha. Gilang memulai bisnis lukis sejak kuliah. Sejak duduk di bangku kuliah semester 3, jari tangannya sudah memoles anaka barang dijadikan media lukis.

Tanpa menggelontorkan uang sepeser pun. Ia bercerita modal awalnya cat. Itupun pinjam dari teman saja. Ia mencoba memakai sepatu sendiri. Menjadikan barang sendiri jadi eksperimen, eh ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Dia upload foto ke sosial media. Dan pembeli pertama menanyakan hasil karyanya.

Dijual beberapa rupiah lantas dipakai lagi. Ia mengganti uang cat milik temannya. Kemudian dia bikin lagi lalu hasilnya diputar menjadi modal. Kuas dan cat dibelinya kembali. "Dengan kata lain nol rupiah untuk modal awal," jelasnya.

Bisnis berlanjut


Sukses Gilang karena menerapkan konsep custom. Dimana ia menyerahkan desain kepada konsumen. Dia hanya mengikuti arahan sembari memberi saran. Justru melalui cara tersebut bisnis berkembang. Disisi lain mengasah daya kreatifitas seorang Gilang akan trend kebanyakan di masyarakat.

Gambar tergantung bisa karakter, atau lukisan wajah, ataupun pemandangan dan batik. Semuanya Gilang bisa gambar diatas media lukis sepatu. Keahlian Gilang tidak serta- merta bisa. Namanya bakat kalau tidak diasah akan tumpul. Melalui bisnis sepatu lukis bakasnya terasa ke arah lebih komersial tetapi "nyeni".

Bisnis ini dijalankan lumayan lama. Sampai bertahun- tahun, dan Gilang menikmati bisnis sampingannya tersebut. Untung diraup Gilang bersih minimal Rp.6 juta per- bulan. Cukup lewat jualan di sosial media dia bisa segitu. Kendala bisnis tidak ada yang berarti jelas Gilang kepada jurnalis Okezone.

Kendala utama ya mungkin di bahan baku. Harga sepatu lukis harganya bisa menjadi mahal. Karena banyak orang melihat pasar yang sama. Bisnis sepatu lukis memang sudah banyak dikenal. Tetapi Gilang mengaku meski harga bahan baku naik, harga sepatu lukis dipatoknya tidak naik, karena harga harus tetap bersaing.

Dia sudah menjual lebih murah dibanding lainnya. Karena itulah orang bisa menjadi reseller karena dia ambil untung minimal. Itulah cara marketing diterapkan Gilang. Perbanyak pilihan produk menjadi satu cara Gilang lebih maju. Mulai wedges, heels, dan boots lukis tengah dikembangkan Gilang Keromon.

Pengusaha muda

Umurnya baru 28 tahun tetapi bisnisnya moncer. Pemilik Keromon, brand fasion lukis, Gilang sendiri tidak cuma berbisnis. Dia dikenal sebagai workaholic. Terbukti aneka profesi dia jabani. Mulai dari jadi fotografer pre- wedding sampai karyawan swasta. Semua demi memenuhi rasa hausnya akan pengalaman.

Kunci sukses pengusaha sampingan: Membagi waktu semaksimal mungkin. Jam 08.00 sampai 16.00 sore dia karyawan swasta. Naik jam 19.00 sampai 23.00 dia akan menjadi pengusaha. Kemudian pada Sabtu- Minggu dia akan menjadi fotografer pre- wedding.

Padahal dia memproduksi 150 buah sepatu lukis per- bulannya. Semua masih dilakoni sendiri lantaran dia belum menemukan pegawai kompeten. Dulu ada sih karyawan tetapi kerjanya tidak serius. Mencari sosok karyawan penuh dedikasi bukan cuma skill memang susah. "...dan mau bekerja keras," Gilang menjelaskan.

Namun tetap dia tidak mau pantang menyerah. Dia akan tetap mencari pegawai. Karena tujuannya akan jadi lebih luas. Bukan sekedar usaha sampingan. Gilang ingin membuka workshop. Untuk kedepan dia akan merekrut karyawan dari kalangan marjinal. Mereka pekerja keras yang dipinggirkan karena masalah hidup.

Sebagai pengusaha muda, Gilang menjadi panutan mematahkan mitos bahwa bisnis butuh modal besar. Dia bahkan tanpa modal. Semua berkat sifatnya yang humble ke teman. Disinilah kita bisa belajar bahwa jadi pengusah ialah tentang konektifitas.

Artikel Terbaru Kami