Minggu, 11 Desember 2016

Kisahnya Penjual Tape Ketan Pamela Kuningan

Profil Pengusaha Carsim Cahyadi 


 
Sukses tape ketan Carsim Cahyadi bukan perkara mudah. Sukses tapek ketan di kawasan Desa Tikolot dan Cibeureum. Tidak lain salah satunya karena dia. Mimpi besar Carsim adalah Kuningan menjadi pusatnya panganan tape ketan. Warga desa yang beranikan membuka usaha tape ketan sejak 1996.

Dia merupakan pelopor kedua orang berusaha tape ketan. Usaha bersifat turun- temurun -jadul kiranya- ia mencoba memberi nuansa berbeda. Empat tahun sudah dirinya mencoba usaha. Sepanjang jalan tersebut ia hampir tidak pernah mendapatkan untung.

Peluang besar, itulah pendapat Carsim lantaran trend kuliner lokal meningkat.

"Saya bertekad memperkenalkan racikan tapai khas Kuningan," tuturnya.

Nama bisnis tape ketanya Pamela. Merupakan akronim nama kedua anaknya, Fajar dan Mela, dan karena mereka orang Sunda nama Fajar terbaca Pajar. Mangkanya bukan Famela tetapi berubah menjadi Pamela jika keduanya digabungkan.

Bisnis rumahan


Ia menyulap rumah menjadi pabrik kecil. Carsim mengandalkan cukup resep temurun. Dan bisnis tersebut memakai beras ketan dan ragi asal Indramayu, Jawa Barat. Berjalan waktu melalui daya upaya. Akhirnya ia mampu menaikan nama ketan tapai.

Sekarang usahanya menghasilkan 3 kuintal. Dikemas dalam 5 kemasan berbeda ukuran. Yaitu kemasan ember isinya 80 bungkus, kemasan dus 50 bungkus, kemasan stoples 28 bungkus, dan paling kecil kemasan plastik mika isi 16 bungkus.

Bagaimana dia bisa menjadi pengusaha sukses. Dia terinspirasi padagang tape ketan satu- satunya aktif bernama Danasih -pemilik tapai ketan Sari Asih. Carsim awalnya hanyalah pedagang perkakas keliling. Ia pernah pula bekerja menjadi buruh kontraktor ke Jakarta.

Fenomena menarik ketika ia pulang kampung. Orang luar kota mengantri lama di depan rumah tetangganya itu. Mereka mengantri cuma buat dapat tape ketan sebagai buah tangan. Carsim sendiri sering diajak oleh tetangganya Danasih. Dia bekerja di tempat Danasih mengolah tapai ketan.

Namun dia bertanya apakah akan sukses kalau diluar Lebaran. Bagaimana tapai ketan menjadi ikonik dan selalu laku. Inilah tantangan pertama Carsim coba pecahkan. Dia berpikir sulit berkembang jika kita cuma bikin ketika lebaran. Insting bisnis tersentuh, beruntung dia sudah dipoles pengalaman jualan keliling.

Deretan mobil menjadi alasan kuat. Dia ingin aktif menjajakan tape ketan. Pikiran buat jemput bola pun muncul. Carsim tidak betah lagi kerja di Jakarta. Pulanglah Carsim ke Tarikolot, tekadnya menjadi salah satu pengusaha tape ketan sukses.

Ia ingin menjadi usaha tape ketan modern. Lebih maju dibanding cuma mengharapkan lebaran. Usaha itu dia buka bermodal uang Rp.600.000. Uang tersebut dibelikan peralatan dasar dan bahan dasar. Sebagai satu langkah awal, dia juga mulai mensurvei tempat di kawasan Kuningan sampai Cirebon.

Lokasinya Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan, tetapi kenyataan tidak seindah rencana. Orang kala itu masih belum berpikir tapai ketan adalah jajanan harian. Orang masih berpikir itu buah tangan yang biasa dimakan kala waktu tertentu. Orang Kuningan sendiri lebih milih pergi ke Tarikolot ataupun Ciberurum/

Kondisi seperti itu terjadi salam 4 tahun. Dapat dibilang bisnisnya gagal total. Putus asa sudah datang ke pikiran Carsim. Dia sendiri padahal sudah menerapkan sistem konsinyasi. Bisnis dijalankan Carsim diberi perandaian seperti mebabat hutan sendirian. Karena dia menjadi satu- satunya pengusaha tapai ketan di Kuningan.

"...banyak menangis daripada tertawa," kenang dia. Ketika barang gak laku, mau dibawa pulang malu. Lalu terpaksa dia bagi- bagikan ke tukang becak. "Inginnya lari meninggalkan usaha."

Dia sudah putus asa. Sudah mau keluar dari bisnis tapai ketan. Tetapi ujungnya dia kembali berpikir lebih positif. Harapan tahun kelima akan ada perubahaan. Dia lantas ketemu seorang kenalan. Sambil bersedih hati dia menceritakan kepiluan usahanya. Dibalik itu dia menceritakan pula mimpinya dan ambisinya.

Sang teman lantas menawari tempat di kawasan Bundaran Cijoho. Dimana tempatnya ditawarkan gratis ia pakai. Sebuah pinjaman hingga dia sukses sekarang. Kesempatan ini tidak disia- siakan lewat bekerja lebih keras.

Titik balik usaha


Tahun 2000 -an menjadi titik balik pengusaha tape ketan ini. Ternyata faktor tempat sangat mempengaruhi jualannya. Banyak pelanggan datang. Dari mulut ke mulut namanya tersebar ke penjuru Kuningan. Disana dia menggunakan sebagai sarana gratis promosi. Dia juga menata barang dagangan agar lebih menarik lagi.

Papan nama usaha Pamela menjadi perbincangan masyarakat. Carsim pajang di depan usahanya terlihat jelas sekali. Orang tertarik datang karena nama unik. Mangkanya volume penjualan tape ketan Pamela jadi makin naik. Setiap harinya memproduksi 20kg beras ketan buat usahanya.

Kemudian naik dalam hitungan bulan sampai 50kg. Jelang lebaran nih bahkan sampai empat sampai enam kuintal produksi. Harga jualnya Rp.15 ribu per- 100 bungkus. Kemudian dia tarus di dalam ember plastik diberi nama Pamela. Lalu buat per- ember diberinya harga Rp.45 ribu isinya 100 bungkus.

Suami dari guru SD, Rusti Cahyadi, kemudian menawarkan kerja sama kepada Danasih. Dia membantu buat Danasih yang masih tinggal di kampung. Pasalnya Danasih juga sama larinya cuma bedanya kurang di produksi, keteteran. Mangkanya permintaan saat lebaran Danasih terbantu dan akhirnya makin laris manis.

Hasilnya justru tetangga lain ikutan. Yang mulanya cuma Danasih berbisnis di Tarikolot, kini, banyak lagi warga ikutan menjadi pengusaha tapai ketan. Carsim sendiri senang karena membantu ekonomi warga di sekitar.

Sukses Carsim terendus pihak BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), dimana dia diberi pelatihan. Tidak cuma dikenal di Kuningan tetapi mulai ke penjuru kota sekitar. Mangkanya tidak lah afdol jika datang ke Kuningan tidak membeli tapai ketan Pamela.

Dia bukan cuma pengusaha. Dalam dirinya ada kegigihan membangun tradisi lokal. Pria yang hobinya suka menyindiri di alam bebas ini, menemukan kelemahan, usahanya ketika dia melamun yakni pada proses pembuatan. Utamanya soal cuci beras karena kan jumlahnya ratusan kilogram tidak mungkin pakai tangan.

Kemudian ada kawan menawarinya alat pengaduk snack. Dia jual karena mau ganti usaha. Nah, karena ada kesempatan, Carsim beli kemudian diutak- atik dijadikan alat pencuci beras. Untung mesin tersebut dapat jalan meski tidak diperuntukan semestinya. Dan mesin tersebut mudah buat dijalankan siapa saja nantinya.

Langkah tersebut diikuti oleh pengusaha kecil lain. Mangkanya pembuatan tapai ketan di Tarikolot dan juga Cibeurum menggunakan mesin. Untuk memasaknya masih manual, biar tidak merubah rasa, cukuplah buat mencucinya saja. Carsim menjadi model bagi pengusaha lain dalam inovasi bewirausaha.

Kini, banyak sekali keagenan tapai ketan tersebar di kawasan tersebut. Tidak mudah memang merubah jiwa mereka sebagai petani. Mereka butuh contoh sukses. Kalau sudah mereka akan mengikuti sendiri dan mau diajari. Tidak berhenti disana Carsim juga melakukan inovasi aneka rasa.

Sangat penting menurutnya loh. Apalagi target pasaran Carsim mulai menyasar warga perkotaan. Karena ia pernah tinggal di Jakarta tau betul selera orang Jakarta. Varian rasa dibuat sesuai dengan rasa tapai ketan memang terkenal asam manis. Sekarang orang makan kayak jajan, buat teman minum kopi, atau lainnya.

Rasa vanilas, stroberi, dan lainnya, ternyata efektif menggaet pelanggan. Dia sendiri tengah fokus perihal pengemasan mencari ganti daun jambu air apa. Kan susah mencari apalagi kalau musim kemarau telah tiba. Cara ditempuh tetapi bagaimana agar rasanya tetap. Kemudian ia mengajak banyak orang budidaya jambu air.

Dia mampu meningkatkan kualitas tapai daerahnya, lebih awet, lebih enak, dan lebih bersih. Dia sadar pula bahwa soal kemasan menjadi hal penting bisnis kuliner sekarang. Rahasia sukses lainnya adalah tidak mau pakai bahan kimia. Semuanya dibuat secara alami tanpa bahan pengawet atau pemanis buatan.

Bisnis banyak saingan


Meskipun sudah memiliki banyak saingan. Dirinya mengaku tidak minder. Carsim selalu mengutamakan iklim persiangan sehat. Sampai sekarang sih tidak ada konflik dengan pengusaha tapai ketan lainnya. Dia menjelaskan meskipun bersaing, kan mereka sekampung, saling tetanggaan sudah kayak keluarga sendiri.

Tidak manfaat membawa pulang persaingan ke kampung. Oleh karenanya dia tidak segan membagi ilmunya tentang bisnis tape ketan. Dia juga menajaga baik hubungan dengan pegawai. Prinsipnya memanusiawikan mereka. Apalagi kebanyakan mereka adalah tetangga sendiri. Mereka yang hidup dalam kesusahan jaman sekarang.

Dia sebagai orang Sunda juga, memperlakukan karyawan halus, dan sudah dia terapkan semenjak Pamela cuma memiliki dua karyawan. Sekarang mah dia sudah punya 35 orang karyawan. Tidak ada seleksi khusus buat calon karyawan. Syaratnya ya kerjanya bikin tape ketan saja. "Mau bekerja membuat tape."

Kalaupun ada karyawan keluar, itu karena masalah ingin mencari pekerjaan lebih baik. Salam bisnis ini dia jalankan tidak ada perselisihan. Dia sadar bahwa pengusaha tidak membangun usaha sendiri. Dia juga rasa gembira kalaupun ada bekas karyawan Pamela membuka usaha serupa.

Untuk masalah gaji Carsim dikenal pemberi upah baik. Karyawan Pamela dapat upah diatas UMR yakni ia memberi Rp.30 ribu per- hari, sudah ada uang makan, bonus bulanan, dan THR. Ia tidak sungkan mengajak mereka liburan bareng.

Sejak tahun 2004 usahanya terbilang stabil, dan akhirnya Carsim mengajukan pinjaman ke bank bjb. Lalu dia mendapatkan bantuan program Peduli Jabar. Modalnya dapat Rp.10 juta dan lunas semua dalam waktu satu bulan. Sudah termasuk membayar angsuran pokok serta bungannya setiap bulan.

Pinjaman Carsim meningkat kemudian yakni Rp.20 juta. Kemudian berkali lipat, mulai Rp.50 juta, hingga Rp.200 juta. Pinjaman tersebut dirasanya bagus membantu UKM seperti dirinya. Dia sudah mandiri dalam hal berbisnis. Omzetnya sudah mencapai Rp.240 juta atau Rp.2,88 miliar per- tahunnya.

Sejak 2011 terhitung dia sudah 15 tahun bergelut dengan tapai ketan. Untungnya terbilang besar buat suatu UKM di kawasannya. Target dicanangkan Carsim ialah membuat tapai ketan makin populer. Inginya bisa bersaing dengan jajanan modern. Bersyukur keluarga mendukung usaha juragan tapai ketan Kuningan ini.

Contohnya sang istri, sebagai guru, dia selalu mengingatkan karyawan Carsim untuk menjaga kebersihan dan kerapian. Termasuk soal administrasi harus tertib. Dia serius mengembangkan konsep administrasi yang baik. Namun dia masih ragu mengambil tenaga profesional dalam bisnis tapai ketan.

Belum kuat bayar, jadi ya dia dan keluarga akan tangani sendiri saja. Pemasaran Pamela pun masih pakai cara keagenan biasa yang dianggapnya cocok. Mereka justru datang sendiri menawarkan diri menjadi agen Pamela. Cara bisnisnya melalui retail sederhana, dimana memberikan harga lebih murah agar ada untung.

Usaha ini dijalankan lewat keagenan tersebut. Melalui mereka tapai ketan tersebar ke penjuru Pulau Jawa. Diakui mereka, para agen, menjadi ujung marketing bisnis Pamela sekarang. Masalah utama ialah jarak dan waktu. Kan tapai ketan memiliki ketahanan sebentar paling lama cuma bertahan semingguan.

Oleh karenannya dia menyasar wilayah besar terdekat dulu, yakni Jakarta dan Bandung. Barulah percaya diri masuk ke kawasan Jawa Tengah bahkan Timur. Walaupun tapai ketan tidak tahan lama bukan berarti ini menghalangi Carsim berusaha loh. Dia sedang berpikir caranya memodifikasi agar tapai ketan tahan lama.

Walau dimodifikasi harapannya tidak akan merubah kekhasan. Jika 15 tahun lelau warga Tarikolot sukses jadi sentral tapai ketan di Kuningan. Harapan Carsim selanjutnya menjadikan kuningan pusatnya distribusi tapai ketan seluruh Indonesia.

Artikel Terbaru Kami