Sabtu, 03 Desember 2016

Pembuat Keramik Muda Menginspirasi Usaha

Profil Pengusaha Bregas Harrimardoyo 



Keberadaan mereka dianggap kurang. Banyaknya mesim mampu mencetak ratusan. Pengrajin keramik bisa dibilang dihitung jari. Kerajinan keramik dianggap terlalu sukar. Detailnya yang beda dari sekedar caranya membuat keramik. Perajin keramik mengalami kesulitan dalam regenerasi.

Banyak pemula merasa bosan. Prosesnya dianggap memakan waktu. Butuh tidak cuma kreatifitas tetapi juga kemampuan bersabar membakar. Dari tanah liat, caranya membuat, teknik glasir, serta pemahaman akan tungku, pokoknya rumit buat diturunkan.

Sementara itu kuliah jurusan perkramikan ada. Tetapi mahasiswanya seolah bisa dihitung jari. Mulai dari ITB, IKJ, ISI, dan UNJ, apakah ada contoh suksesnya. Tidak jarang mahasiswa malah pindah jurusan. Nah, orang tua sendiri terlihat skeptis dibanding jurusan kesenian lainnya, apa keuntungan finansial ahli kramik.

Mangkanya banyak anak muda dilarang- larang. Namun ternyata kalau ditekuni menghasilkan juga. Apalagi jumlah pesainnya dapat dihitung jari.

Bisnis seni


Ambil contoh Bregas Harrimardoyo. Sejak kecil dia sudah melihat ayahnya berkutat dengan kramik. Dia lambat laun mencintai kesenian tersebut. Ayah Bregas adalah pendiri Pakunden Pottery tahun 1987. Lalu ia mewarisi bakat membuat keramik. Dia mencontoh ayah iseng membuat keramik sendiri.

Tertarik karena biasa melihat ayah kerja di studio. "Saya sudah belajar sekitar umur 5- 7 tahun," jelasnya. Ia mulai serius ketika lulus SMA. Dia tertantang untuk lebih. Tertantang menyamai kepiawaian sang ayah mengolah keramik. Usia 16 tahun sudah mewarisi keahlian sang ayah membuat aneka keramik.

Dia melanjutkan Pakunden Pottery. Kelebihan studio ini adalah kesederhanaan keramik. Namun coraknya khas Indonesia mendetail. Inilah yang coba ditonjolkan Bregas. Keramik layaknya kanvas. Disana dia akan menorehkan lukisan. Kanvas jangan rumit- rumit. Yang terpenting apa polanya terurai cantik diatasnya.

Bregas fokus mencari corak Indonesia. Dituangkan dalam kanvas keramik sederhana cukup. Harganya jadi variatif dari Rp.40 ribu sampai Rp.5 jutaan. Dan sudah dapat ditebak 95 persen pembelinya adalah orang asing. Bahkan karyanya dibawa di galeri internasional, menuju Portland, Oregon, Amerika Serikat. 

Menjadi eksportir omzet Bregas dibilang tergantung. Tidak pasti tergantung ada pameran tidak. Jumlah yang dikirim juga tidak banyak. Meskipun begitu pendapatan Bregas bisa dibilang dollar. Justru pasaran lokal dianggapnya lebih susah. Untuk orang Indonesia butuh pendekatan bukan cuma nilai estetik saja.

Kalau orang asing kan begitu liat seni langsung tertarik. Orang Indonesia mikir dulu baru memutuskan mau beli atau tidak. Kalaupun ada pasti dari kalangan tingkat pendidikan dan ekonomi atas. Lima persen ia anggap memang kurang. Bregas tetap menggali pasar 5% ini melalui aneka upaya inovatif.

Turun temurun


Sang ayah terlahir di daerah bernama Pakunden, Semarang. Ibunya Ating, kelahiran sana asli dan ketika berjalan waktu Pakunden menjadi bagian Kota Semarang. Nama Pakunden ternyata berarti kendi atau juga disebut pot.

Sementara ayah Bregas aslinya dekat situ. Kemudian menikah dan ide bisnis tentang membuat kerajinan berbahan tanah liat muncul. Hasilnya sebuah aneka benda kecil- kecil berbekal tanah liat belakang rumah. Kemudian ayah yakin memperdalam ilmu otodidak, menghasilkan studio kecil bernama Pakunden.

Nama Pakunden juga merupakan persembahan buat sang istri. Lambat laun keahlian ayah Bregas makinlah terasah. Kemudian anak kecil bernama Bregas Harrimardoyo mulai membuat pernik kecil berbahan tanah liat.

Ketika mereka pindah ke Jakarta, ibu Bregas masuk kuliah IKJ jurusan batik. Kemudian dia ditawari oleh kampus mempelajari tentang pembuatan keramik. Namun dia menyerah karena terlalu teknikal. Disitulah ayah Bregas masuk mengambil alih kuliah tersebut. Padahal jurusan ayahnya adalah teknik mesin waktu itu.

Kemudian keterarikan akan membuat keramik makin kuat. Dipadukan akan kemampuan teknikal mesin. Ia membuat studio dengan mesin sendiri. Berjalan waktu dia dikenal menjadi pengrajin, maestro, dalam hal pembuatan keramik. Dia mulai mengikuti aneka pameran kesenian keramik.

Umur 14 tahun Bregas banyak ketemu sesama perajin keramik (teman ayah). Ketika lulus SMA dia dapat kesempatan masuk Arkeologi. Melalui arkeologi dia memasuki pemahaman akan keramik. Aneka bentuk karya orang dulu sesuai passion -nya akan membuat kesenian keramik.

Ibu Bregas sangat tertarik akan batik. Dia pembuat kroset. Dan idenya selaras dengan keahlian membuat macam pola etnik. Sementara itu sang ayah juga masih aktif. Dia akan setiap hari terlihat menggambar, lalu membentuk desain pola, membentuk keramik, dan memberika saran jika diperlukan oleh Bregas.

Dia punya saudara laki- laki, seorang arsitek. Sang anak, Yuka, suka ikutan Bregas mengerjakan keramik. Tanah liat datang dari Jawa Barat. Yang mana sumbernya sangat diteliti benar. Dia memilih membeli buat distok untuk enam tahun. Bahan bumbunya datang dari lokal sekitar. Sumber: www.ajourneybespoke.com

Artikel Terbaru Kami