Rabu, 21 Desember 2016

Kisah Raja Perak Malang Berbisnis Karena Gagal Karyawan

Profil Pengusaha Faishal Arifin


 
Siapa sangka Faishal Arifin pernah menjadi supir angkot. Pengusaha muda 28 tahun ini memulai segalanya dari nol. Sampai sekarang banyak orang menyebutnya Raja Perak. Ia berkisah setalah lulus kuliah jurusan ekonomi manajemen, Universitas Widya Gama, Malang, tahun 2008, kok susah ya mencari pekerjaan.

Untuk menunjukan bahwa kuliahnya tidak sia- sia. Dia banting stir menjadi pengusaha dadakan. Dia memilih jualan ayam bakar. Selepas berjualan beberapa lama, dia kemudian bangkrut, uangnya ludes juga dibakar api karena kiosnya kebakaran. Karena tidak ingin menyerah akan nasib, Faishal memilih merantau ke Kalimantan.

Di Kalimantan, pengusaha kelahiran 3 Juni 1987, ini juga gagal mendapatkan pekerjaan seperti di Malang. Dia bahkan ditolak masuk perusahaan tambang. Harapan merubah nasib seolah mau tertutup. Tidak mau menyerah kembali ke Kota Malang.

Bisnis perak


Faishal melihat banyak perajin batu permata. Muncul perasaan tertarik akan usaha tradisi tersebut. Lalu ia iseng mencoba ikutan mendalami. Semakin lama menumbuhkan minat akan usaha perhiasan. Pengalaman belajar perhiasan membuat dia nyaman. Bagaimana kalau nanti diseriuskan saja menjadi usaha di Malang.

Dia memboyong ilmu batu permata Kalimantan. Di Malang, Maret 2009, dia mulai membuat perhiasan yang modalnya hanya koran bekas. Tepatnya gambar perhiasan majalah bekas. Ditiru kemudian dijadikan perhiasan sendiri. Berjalan ke Pasar Comboran, Malang, menemukan majalah bekas bergambar perhiasan.

"...saya gunting dan kliping, itu yang saya jadikan modal," imbuh Faishal.

Pesanan pertama datang dari seorang ibu- ibu. Ia tidak menyangka. Bahkan pesanan tersebut tidak sedikit. Ia akhirnya malah kebingungan karena tidak punya peralatan.

Ia kemudian ingat seorang kenalan. Orang Malang juga yang pernah bekerja menjadi perajin. Kemudian ia mengajaknya menjadi mitra. Hasil untungnya dibagi dua, yang mana nanti juga dibelikan peralatan usaha bersama. Modalnya ala kadar ia bercerita cuma mengeluarkan uang Rp.150 ribu.

Faishal cukup membeli peralatan dari tukang perhiasan yang bangkrut. Lumayan lah, dijual murah, tetapi masih layak digunakan. 

Cuma modal nekat


Dia pernah berkeliling dari Banjarmasin- Martapura. Mulai mencari pekerjaan biasa, atau mencoba masuk menjadi pegawai BUMN, ataupun coba ikutan tes PNS. Gagal. Ia malah ketagihan belajar membuat aneka perhiasan di sana. Kembali ke Malang dia sempat urungkan niat menjadi pengusaha.

Ia sempat mencoba lagi. Mencari pekerjaan tetapi kembali gagal. Titik inspirasi mengembalikan niatan awal. Dia menemukan majalah bekas ketika jalan- jalan. Tidak memiliki uang sama sekali. Dia berjalan tanpa arah ke Pasar Comboran, Malang.

Dia bolak- balik ke pasar jalan kaki karena tidak punya kendaraan. Ayah dua anak ini kemudian menemukan majalah berisi katalog perhiasan. Nekat dia meminta majalah bekas tersebut. Beruntung sang penjual mau memberi majalah tersebut cuma- cuma. Sepulangnya dia gunting kecil- kecil kemudian ditempat dalam map.

Esok harinya dia lari ke pusat pemerintahan. Mencoba menawarkan gambar tersebut. Dia melewat aneka keribetan birokrasi. Tidak gampang memang apalagi dia menjual harapan. Sesampainya disana, seorang ibu- ibu tertarik, seolah menguji keseriusan Faishal bahkan dia rela memberikan DP yang diminta Faishal.

Padahal nih, gambarnya dari majalah luar negeri, dia cuma asal menawarkan saja. Hasilnya DP senilai 60% harga disepakati. "Kala itu, pemesan perhiasan tersirat rasa curiga," kenang Faishal. Karena tidak mau melepas kesempatan. Dia rela menyerahkan KTP asli dan fotokopinya menjadi jaminan.

Syaratnya harus jadi seminggu ke depan. Kemudian dia ingat kawan lama perantauan. Dan dengar- dengar dia sudah bekerja di toko perhiasan. Keduanya kemudian negosiasi dan saling sepakat kerja sama. Faishal akan dibantu sang kawan memenuhi pesanan. Selesai, hasilnya memuaskan sesuai harapan pembeli dulu.

Cuma bermula sebuah proyek tungga menjadi viral. Melalui mulut ke mulut usahanya mulai dikenal oleh orang. Pesanan makin banyak. Karena tidak sanggup sendiri. Dia mengajak rekan awalnya kembali tetapi lewat kerja sama lebih dari sekedar untung.

Dia diajak menjadi pegawai, menjanjikan insentif, dan memaparkan pandangannya ke depan. Faishal tidak mau sekedar menjual janji. Akhirnya sang kawan mau hingga sekarang masih setia. Dari banyak orderan, mereka melewati bersama dan diselesaikan dengan sangat baik.

Kesuksesan Faishal kemudian terdengar sampai ke Walikota Malang, Moch. Anton. Mbah Anton lantas menjadi pelanggan tetap buat aneka kesempatan. Menjadikan perhiasan Fasihal souvenir sampai ke tangan orang lain di luar daerah. Menjadi satu kebanggan bagi Kota Malang karena ada pengusaha perhiasan perak hebat.

Ia kemudian rajin diajak ke aneka pameran wirausaha. Lewat itu dia berkenalan dengan eksportir. Seorang eksportir bahkan mengajaknya menjual sampai ke Ethiopia. Sadar akan kekurangan tenaga kerja. Tetapi tidak mau hilang kesempatan, dia merekrut beberapa perajin kecil Malang, Wajak, dan Pujo, Kab. Malang.

Mereka dilatih kusus, diberikan bekal peralatan, dan semakin banyak saja perajin datang bergabung ke usaha dijalankan Faishal.

Jika diandaikan kalau saja tidak nekat. Nilai usahanya akan setara modal Rp.35 juta. Beruntung tekad keras menjadi modal sangat berharga. Serta keberuntungan disetiap keputusan Faishal.  Omzet dicapai sampai ke angka Rp.350 juta. Tidak cuma berproduksi dia juga memberika pelatihan kepada masyarakat sekitar.

Konsep social entrepreneurship dijalankan dia. Tujuannya adalah agar memberikan lebih banyak peluang buat masyarakat Malang. Lahirnya bisnis yang diberinya nama Silver 999, merupakan bukti bahwa dia bekerja keras dan tekun. Dibalik itu keuntungan tumbuh dengan tanggung jawab akan kepentingan sosial kita.

Silver999 meyakinkan kita. Lewat penelitian mereka yakinkan aman alergi. Tahun 2010, dia bekerja sama dengan PT. Sucofindo, melalukan jaminan sertifikasi bahwa produknya berstandar kesehatan. Untuk hal ini Faishal menjadi mitra binaan agar mudah verifikasi.

Jika sebelumnya hasil menyontek. Faishal meyakinkan produknya kin 100% desain sendiri. Katika ada boming batu permata usaha dijalankannya mampu meraup omzet Rp.500- 600 juta -itupun buat ekspornya saja.

Artikel Terbaru Kami