Jumat, 16 Desember 2016

Hampir Bangkrut Karena Pakai Uang Perusahaan

Profil Pengusaha Daropi Alex 


 
Pengalaman menjadi penjual membuatnya tegar. Namanya Daropi Alex, pernah menjadi salesman door- to- door paling bersemangat. Jadilah ia paham betul cara menjual. Pengalaman 11 tahun tentu sudah lah ia banyak makan asam garam dunia. Bermula dari penawaran kartu kredit kemudian salesman furnitur.

Dia dikenal pendiri PT. Alexis Cipta Furnitama. Bisnisnya distributor peralatan dan perlengkapan kantor. Ia akhirnya berani membuka usaha sendiri. Sejak 1996, lulusan ekonomi UPI YAI, beralih menjadi sosok distributor peralatan dan perlengkapan Datascript.

Bisnis sambil belajar


Alex melayani over head project (OHP), layar, hingga kursi ataupun furnitur kantor lainnya. Beda kan jika dia menjadi salesman kartu kredit. Sementara kartu kredit barangnya langsung. Usaha dijalankan bermula dari Alex dengan menjadi pegawai dulu.

Tidak mudah apalagi mencoba menembus perusahaan besar. Alex belajar lewat menjadi salesman kembali peralatan kantor. Menawarkan apa yang dia miliki sendiri ke perusahaan besar. Seluk peluk proyek pengedaan barang harus dikuasai. 

Lewat bekerja menjadi pegawai dulu ini gajian pertama Alex cuma Rp.450 ribu.

"Saya bisa belajar mandiri dan berwirausaha," Alex, menjelaskan alasannya bertahan. Tahun ke 10 barulah ia mendapatkan proyek besar. Tahun 2006 bisnisnya berjalan mendapatkan proyek dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP), proyek modernisasi sejumlah kantor.

Proyek tersebut langsung senilai Rp.1,6 miliar. Keberanian Alex dituntut untuk membuka peluang usaha mandiri. Dia lantas nekat merintis bisnis sendiri. Jadi sambil bekerja, dia menawarkan usahanya sendiri, jadi dia bekerja dengan dua kaki; Menjadi pengusaha juga bekerja menjadi pegawai.

Alex memang sengaja bekerja sambil belajar. Ia belajar banyak hal. Kemudian dia pahami bagaiman cara membuat peralatan kantor. Mulai dari bahan dan cara pembuatan, mulai dari meja kantor sampai kursi buat kantor. Ide bisnis sudah sejak 2007 ide akan bisnis peralatan kantor.

Produksi pertama ada di kawasan Cileungsi, Bogor, merekrut 20 orang pagawai. Uang dikeluarkan tidak butuh banyak. Usaha ini menggunakan Rp.7 juta. Alat serta bahan baku dipinjami orang. Proyek selesai ia barulah membayar. Dia tergolong nekat karena pengalaman menjadi produsen berbeda dari ditributor saja.

Bisnis nekat


Pengusaha baru Alex cukup terkejut. Kondisi pengelolaan memang beda kan. Saat menjadi pegawai jika ia bandingkan dengan pengusaha, beda! Pengusaha butuh dana buat pembuatan bahan baku dan gaji pegawai. Sementara menjadi distributor dia digaji. Juga dia cukup memasarkan tanpa memikirkan gaji siapapun.

Dia pernah melakukan kesalahan. Uang dari proyek malah dipakai pribadi semua. Bukannya buat gaji para karyawan, dia malah pakai buat kredit mobil dan uang muka rumah. Dia lupa menganggarkan keuangan buat bisnisnya. Bisnisnya sempat berhenti tiga bulan. Dana segar untuk oprasional tidak ada butuh waktu jelas dia.

Pegawai juga tidak dipekerjakan kembali. Inilah titik terendah usaha dijalankan oleh Alex. Waktu itu ia sempat stress. Mau jual mobilnya malah dilarang istri. Untung seorang teman memesan 600 buah kursi ke dia. Alex langsung tancap gas mobil barunya, mencari dana segar buat melanjutkan berproduksi pesanan.

Dapat dana Rp.50 juta, dia mampu membuka usaha kembali dari nol. Inilah proyek sebenarnya setelah dia sempat vakum tiga bulan, dan hampir menyerah. Tiga pekan 600 kursi selesai. Meskipun pengiriman kursi tepat waktu. Sayangnya, dianggap gagal lantaran kualitas kursi buatan Alex bisa dibilang buruk.

Tepatnya enam bulan kemudian semenjak proyek. Jika awalnya dia memproduksi furnitur kayu. Kemudian dia merubah arahnya ke produksi berbahan besi, plastik, hingga kain. Tidak segan Alex mengunjungi aneka pameran alat perkantoran di Malaysia, untuk mendapatkan informasi tentang bahan dan desainnya.

Alex belajar betul dari kegagalan pertama. Ia mulai fokus menata bisnis kembali. Alhasil, dalam waktu relatif singkat, 9 bulan saja dia membeli lahan seluas 250m2 di Kalimantan, Bekasi, yang lantas dijadikan workshop. Semua keuntungan bisnis ditaruh dijadikan workshop sendiri.

Proyek- proyek besar dia lalui. Tidak cuma disana, dia juga menjadi pemasok buat swalayan besar, seperti di Atria Living. Pegawai produksi menjadi 30 orang. Omzet bisnisnya sudah mencapai Rp.600 juta- 700 jutaan saban bulan. Permintaan membesar dia mulai meluaskan workshop miliknya lagi.

Dia beli gudang seluas 1000 m2. Pria Bangka ini kemudian membeli ruko. Tujuannya dijadikan galeri buat pemasaran langsung. Produk Alexis Cipta Furnitama memenuhi pemesanan distributor dan proyek. Juga menjadi perusahaan menjual ke para konsumen langsung. Mencakup ke rumah sakit, bank, dan institusi pendidikan.

Garansi produk diberikan 2 tahun. Ia mendapatkan nama dikalangan suplier bahan baku. Mereka mengincar Alexis menjadi klien mereka. Sejak 2011 rutin pula mengikuti pameran ke China. Dia juga menjadi mitra importir bagi perusahaan China. Kiblat bisnis ke China sampai mempekerjakan 70 orang produksi.

Artikel Terbaru Kami