Sabtu, 24 Desember 2016

Pelopor Bisnis Sambal Kemasan Sendiri ANT

Profil Pengusaha Hadianto 



Pengusaha veteran itu bernama Hadianto. Pria asal Belitung, Provinsi Bangka Belitung, yang sudah lama menjalankan bisnis sambal. Bahkan sebelum bisnis sambal ngetren seperti sekarang. Usaha sambal buatan Hadianto sudah pasti terjamin. Sudah 20 tahun dia melalang buana menjajakan sambal terasi ANT.

Pria asal Desa Air Saga, yang memulai bisnis lebih lama. Sebelum orang sadar bahwa rebon bisa dijadikan bahan mengejutkan. Sebelum orang Belitung sadar bahwa terasi itu enak. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang merasa tertanggu akan bau terasi. Sampai akhirnya mereka mencicipi lezatnya sambal terasi itu.

Hedianto memulai bermodal televisi. Dijualnya televisi menghasilkan Rp.300 ribu. Itulah modal awal dia berjualan sambal. Maklum kedua orang tua Hedianto hanya nelayan dan pedagang ikan asin.

Orang tua Hedianto juga membuat terasi. Berbahan udang rebon, yang diambil sendiri dari lautan. Alhasil mereka cuma menjual beberapa kali. Dimana ternyata banyak tengkulak pula menguasai. Mangkanya nih berjualan terasi bukan solusi bisnis. "Kondisi ini saya perhatikan hingga dewasa," ungkapnya.

Dia merasakan ada prospek. Namun bagaimana cara agar terhindar tengkulak. Hedianto pengen buat terasi sendiri. Alasan karena merupakan bumbu masak utama. Alasan lainnya adalah karena sudah biasa bergelut di laut. "...saya tertarik," Hedianto begitu semangat.

Bisnis ikonik


Uang Rp.300 ribu buat membeli alat dan bahan terasi. Ia mulai membuat terasi sendiri. Dan masalah pertama muncul yakni diusir warga. Karena kebauan mereka mengusir Hedianto. Untuk menghindari hal serupa ia memindahkan tempat produksi.

Hanya berbekal terasi kemudian menjadi sambal. Usaha dijalankan sejak 1996 sudah dikenal warga. Mulai baunya yang menggoda. Serta kelezatannya yang teruji bertahan 20 tahun. Pria 46 tahun ini selalu berani membuktikan analasisanya benar. Dibuktikan dengan mengangkat 3 orang karyawan pembuat sambal.

Semenjak majunya pariwisata Belitung. Berdampak positif pula buat bisnis sambal ANT. Jika 15 tahunan sudah bisnis sering tersendat. Akhir 2015 ini bisnis sambal milik Hedianto kian moncer. Sambal ANT menjadi ikonik pariwisata ketika orang berkunjung ke sana.

Dia juga menggaet Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan agar menjadikan sambal ANT tak sekedar sambal biasa. Prinsip harus memenuhi standar kesehatan dan bahan baku berkualitas.

Bisnis sambal ANT lantas dikembangkan ke kemasan botol, sambal terasi siap saji, yang mana dihargai Rp.11 ribuan. Kemudian ada terasi berbungkus tikar, isinya terasi setengah jadi, jadi harga per- tikarnya cuma Rp.9000. Penjualan sudah melalui galeri sepanjang Tanjung Pandan.

Terasi ANT sudah berjejer di toko- toko penjuru Belitung. Terasi 20 tahun tersebut dikenal memiliki rasa nikmat. Selain nikmat sudah terbukti sehat berkat verifikasi. Berasal dari udang rebon pilihan yang sudah difermentasi, bukan rebon busuk.

"Resep fermentasi ini saya yang menemukan," unggahnya.

Inilah kisah Raja Terasi dengan omzet Rp.75 juta- Rp.80 juta, dimana dia mampu menjual 1,5 ton. Dia bertekat menjadi pemain dominan di Belitung. Dia akan selalu meningkatkan kualitas terasi ANT. Harapan terbesar menguasai Belitung dimana 6 ton terasi luar masuk tiap bulan.

Ia dikenal sebagai pecetus fermentasi udang. Untuk rebon didatangkan dari Jawa dan Sumatera, seperti dari Lampung. Karena di daerah Belitung sudah tidak mencukupi. Produksi 100kg terasi mentah butuh setidaknya 120kg udang rebon. Beda jika terasi identik dengan udang busuk maka terasi Belitung tidak ada.

Bisa dibilang jauh dari mikroba berbahaya buat pencernaan. Berkat cita rasa otentik, setiap hari bisa capai 1000 pesanan botol terasi kering, belum basah. Agar bisnis makin berkembang dia mengajutkan kredit ke Bank Mandiri senilai Rp.25 juta dengan bunga 9 persen per- tahun, dari program Kredit Usaha Rakyat.

Artikel Terbaru Kami