Minggu, 18 Desember 2016

Bantal Burung Hantu Jumba Jamba Pengusaha Windy

Profil Pengusaha Windy Astuti Dhanutirto 


 
Ide membuat bantal siapa sangka menjadi uang. Berawal dari pilihannya resign dari pekerjaan. Dia yang dulu bekerja di bidang periklanan, sudah terbiasa melahirkan konsep ide tentang produk. Nah, kini, giliran dia bekerja sendiri lahirlah bisnis bantal imut.

Wanita bernama lengkap Windy Astuti Dhanutirto. Yang mana selalu gelisah akan pekerjaan monoton. Dia bermodalkan uang Rp.5 juta. Ia kemudian membuka bisnis bantal. Bantal bikinannya memiliki desain yang berbeda, unik, imut. Bantal bikinan Windya juga bisa dijadikan hiasan imut di rumah kamu.

Bisnis beda


Tahun 2011 iseng dia membuat produk yang diberinya nama Jumba Jamba. Berawal gambar iseng lantas ia jahit menjadi bantal. Dia membuatnya pakai tangan. Sampai pesanan datang, Windy baru membikinkan itu khusus buat pembeli.

Sampai siapa sangka permintaan meningkat. Maka Windy mulai belajar memakai mesin jahit. Bertahap tingkat produksi Windy meningkat. Jumba Jamba kebanyakan berbentuk aneka binatang. Yang paling imut adalah bantal berbentuk burung hantu. Dimana penjualannya tinggi mengundang banyak rejeki.

Ada burung hantu, gajah, ayam, dan kupu- kupu. Kesemuanya dibentuk imut dari ukuran aslinya. Setiap bantal diberikan nama identitas. Mereka dikumpulkan dalam tema kerajaan binatang. Pengalaman dalam pekerjaan, mulai membentuk ide, lantas riset, hingga membuat produk merepukan pengalaman gregetan.

Sementara dia bekerja keras, idenya cuma menjadi milik pemilik perusahaan. Kenapa tidak menjadi salah satu pengusaha. Mangkanya Windy memilih resign dan membuka usaha. Tidak memiliki latar belakang tentang kerajinan. Tidak bisa menjahit. Cuma pakai lem kain ditempel- tempel begitu sampai selesai.

Dan ketika seorang teman melihatnya suka. Ia langsung memesan dua buat anaknya. Akhirnya Windy jadi makin bersemangat mengembangkan usaha. Karena lem tidak aman buat anak, Windy nekat belajar jahit sendiri dari You Tube. Ia kemudian memakai konsep adopsi buat setiap bantal binatang bikinannya.

Ia ingin menjadikan bantal layaknya keluarga. Bagaimana membuat bantal seolah layaknya peliharaan. Dia menjadikan karekter Jumba Jamba berkarakter. Untuk binatang dia juga memikirkan bagaimana caranya masuk ke semua gender. Binatang kayak burung hantu, ayam, gajah, dianggapnya disenangi semua anak.

"Aku bikin bantal tapi tidak mau hanya sekedar bikin bantal," paparnya. Ia juga memikirkan marketing yang serius layaknya dia masih bekerja dulu.

Harus ada konsepnya. Apakah kebiasaan ibu dan anak lakukan dengan bantal. Buat dijadikan mainan apa itu dijadikan teman tidur. Juga termasuk apakah ibu suka mendongeng buat anaknya. Kan asik memakai bantal karakter macam Jumba- Jamba buat mendongeng.

Dari pemikiran tentang cerita kancil, tentang putri, dan jadilah kerajaan binatang beserta karakternya masing- masing. Ia sendiri yang membuat karakternya. Juga menerima pesanan karakter khusus. Buat yang satu ini desain khusus biasanya buat acara khusus. Dijadikan souvenir atau hadiah buat ulang tahun anak kita.

Dua cara dilakukan dia menjual produknya. Pertama melalui penjualan langsung. Kedua yakni lewat situs toko online www.jumbajamba.com. Ia kalau penjualan langsung juga pakai konsinyasi. Yakni menitipkan barang ke ritel modern di Bandung, sampai Bali. Di Jakarta masih menyusul perkembangan minat mereka.

Windy juga rajin mengikuti pameran. Gunanya mendapatkan kontak kerja sama. Melakoni bisnis ini bisa dibilang ada masalah krusial. Yakni menemukan pegawai tepat buat bisnis bantalnya. Pasalnya produk yang ia ciptakan lumayan rumit. Apalagi kalau permintaan mendadak per- proyek butuh tenaga khusus loh.

Mangkanya dia mempekerjakan dua orang freelance. Dia bekerja sendiri bersama sang Ibu, dan dua orang freelance itu. Masalah lainnya, adalah ia sempat salah menentukan harga barang awal. Sempat beberapa kali salah menentukan patner kerja. Karena tidak mempelajari dulu tentang profil calon rekan kerjanya.

Pernah nih, ketika Lebaran, dia ikutan bazar yang diadakan pusat perbelanjaan. Lupanya dia lupa kalau ketika bulan tersebut orang nyari baju atau kue. Bukannya mencari bantal. Alhasil dia salah menebak momen bisnis tersebut. Ujungnya dia tidak mendapatkan untung berlipat seperti pengusaha lain.

Masalah lain timbul ketika pembeli luar negeri datang. Dia tidak bisa menentukan harga jual. Karena kita tau pengiriman ke luar butuh biaya tambahan. Dan, meskipun bantal ringan, ternyata dikenai biaya berbasis volume. Tidak jadi kerja sama deh. Padahal pembelinya banyak orang Australia, Amerika, Jepang, Eropa.

Sekarang dia berproduksi 350 buah per- bulannya. Dimana modal awalnya cuma Rp5 jutaan. Jumlah 250 buat ritel dan 100 lagi buat yang mau custom di online shop. Harga dibandrol Rp.35 ribu buat bantal kecil dan Rp.270 ribu buat yang besar. Omzet capai Rp.10 juta per- bulan.

Artikel Terbaru Kami