Kamis, 29 Desember 2016

Juragan Beras Pasar Induk Paling Terkenal Nellys Jaya

Biografi Pengusaha Nellys Soekidi 


 
Terlahir sebagai anak pasangan petani. Hidup Nellys Soekidi tidak jauh dari beras. Namun kesuksesan dia sekarang bukan tanpa perjuangan. Pria yang dikenal sebagai juragan beras. Sekarang memang memiliki 5 kios dan satu gudang penyimpanan di PBIC, merupakan salah satu juragan beras besar asal Pasar Cipinang.

Lima kiosnya menduduki kawasan Pasar Induk Cipinang. Delapan toko lain juga tersebar di sekitaran Kota Jakarta alias Jabodetabek. Ada di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, dan Cengkareng. Omzetnya mencapai Rp.500 juta perhari atau Rp.15 miliaran perbulan.

Labar bersih sendiri dia tidak mau menyebut. Tetapi cukuplah kata Nellys, jualan beras itu punya untung sedikit tetapi awet.

Siapa sangka dia cuma menamatkan bangku SMA di Ngawi, Jawa Timur. Kondisi ekonomi keluarga Nellys memang sangat kekurangan. "Saya tamat SMA tahun 1990," tutur dia. Langsung pergi merantau ke Jakarta tanpa bekal. Mengadu nasib layaknya nasib perantau lainnya. Ia seolah terjebak hanya mampu bekerja asal- asalan.

Tanpa memiliki keahlian mau jadi apa di Jakarta. Nasib membawa Nellys kerja menjadi buruh proyek. Ya kalau ada proyek bangunan, jika tidak ada nasib Nellys digantungkan lewat mengamen. Lorong jalan, terminal becek, dan panasnya bus- bus dalam kota, membawa Nellys melihat masa depan samar.

Kalau ngamen dia mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Jika ngamen, dia tidak pernah melakukan hal melanggar aturan, kemudian suatu hari ketika mengamen dia bertemu seorang teman. Dia teman dari kampung Nellys.

Ternyata dia sudah bekerja di toko beras kawasan PIBC. Inilah awal perkenalan Nellys dengan bisnis juragan beras. Oleh temannya, ditawari kerja menjaga toko beras milik si boss. Waktu itu Nellys ingat tahun 1992 dia memulai semua perjalanan karir.

Bekerja di toko, Nellys diserahi bagian pembukuan lantaran otaknya encer. Dia ditugaskan mencatat nama dan jumlah barang keluar- masuk toko. Meskipun bekerja di tempat penting toh gajinya tetap ala kadarnya. Seorang sang boss mengejek Nellys lantaran cuma pengamen dan lulusan menengah atas.

Meskipun begitu dia tetap bersyukur. Segala upaya dilakukan agar tetap makan. Disisi lain tetap tidak lupa dia menabung. Uang pas- pasan apa yang bisa didapat Nellys. Ternyata banyak, yakni pengalaman bekerja berjualan beras, termasuk tentang pergudangan serta urusan pengeluaran atau pemasukan.

Dia mengembangkan kemampuan akuntansi atau pembukuan. Natural Nellys mengamati cara kerja di toko beras. Sifat supel membuat dia akrab dengan penyumplai beras, dari Cirebon dan Garut. Rasaya syukur dia coba terus panjatkan. Tidak punya uang banyak tetapi ketemu banyak kenalan. 

"Saya selalu berusaha jujur," ujarnya.

Sifat baik Nellys ternyata diamati rekan kerja atasannya. Para pemasok beras menilai sifat Nellys sangat menarik. Tahun 1993, dia memutuskan cabut dari pekerjaan, nekat dia mencoba peruntungan dari bisnis beras. Bekal dia cuma ilmu akuntansi seadaanya, sisanya adalah relasi dengan para pemasok beras.

Bisnis nekat


Bermodal Rp.3 juta dia mulai jualan di los Pasar Induk. Itu uang hasil nabung selama bekerja. Walaupun ia modal cekak tetapi dukungan relasi kuat. Kunci sukses juragan bera Nellys cukup selalu berlaku jujur, dan ditambah ketekunan mengerjakan usaha. Niscaya usaha kamu akan kayak usaha Nellys Jaya, toko miliknya.

Hubungan baik selalu dijaga dia, dengan pemasok asal Pula Jawa, dari Jawa Barat, Cibinong, dan Garut, dia rangkul. Siap membantu mereka buat menyalurkan beras mereka dengan harga baik. Uang modal Rp.3 juta cuma dapat 1 ton saja.

Beruntung karena memiliki relasi kuat. Dipercaya, mereka pemasok bahkan rela menggunakan sistem titip atau konsinyasi. Total berang dititip makin lama semakin besar. Bahkan sampai 15 ton hingga 20 ton perhari. Nellys akan membayar ketika beras sudah habis terjual. Ia dikasih waktu seminggu buat habiskan itu.

Kemampuan kesupelan Nellys terbawa dalam berbisnis. Mampu menjual barang mudah hingga tak jarang beras stok habis sehari, paling lama ya dua hari. Uang penjualan tidak mampir. Dia langsung bayarkan ke pemasok beras. Pembayaran cepat sampai pemasok semakin yakin bahwa dia orang yang tepat.

Tepat buat diajak kerja sama. Usaha jualan beras Nellys semakin berjaya. Penjualan semakin meningkat pesat saja. Uang untung diperolah ditabung. Tidak seperti juragan beras lain. Begitu sukses langsung lah berubah gaya hidup. Ia memilih bersabar fokus mengerjakan bisnis.

Ketika teman pedagang membeli mobil baru. Nellys memilih mengembangkan usaha. Pokoknya begitu ada untung sisanya buat ditabung. Uang tabungan apalagi kalau bukan buat nambah usaha. Cukup empat sampai lima tahun sudah dia menghasilkan kios khusus di Pasar Induk.

Harganya saja Rp.160 juta karena posisinya strategis. Dia juga mengajak orang bekerja buatnya. Dengan berbisnis menambah lapangan pekerjaan. Ia punya 34 orang karyawan. Nellys banyak menampung mereka yang masih saudara.

Usaha sukses Nellys sempatkan melanjutkan pendidikan. Dia beranggapan bahwa pendidikan merupakan juga hal penting. Mengembangkan hidup Nellys tidak selalu uang. Ia ambil jurusan manajemen. Disaat ia kuliah di perguruan tinggi, dia sudah punya istri dan dua anak.

Bisnis belajar


Bisnis tidak melulu uang. Ada pembelajaran kuat meningkatkan usaha kita. Uang banyak tanpa pengetahuan tidak cukup. Mangkanya dia memilih kuliah selaras dalam berbisnis. Semakin jeli melihat peluang bisnis kedepan. Dia menemukan itu ketika kembali ke Ngawi, Jawa Timur, menikmati hamparan persawahan.

Ide bisnis muncul. Dan dia laksanakan di Kota Ngawi. Nellys membangun satu pabrik penggilingan padi. Tahun 2008 dia mendirikan pabrik penggilingan bermuatan 25 ton perhari. Lantas bisnis selanjutnya dia membuka bisnis pusat kebugaran. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia lakukan bukan tanpa alasan.

Dia suka kebugaran atau fitness. Sela berbisnis dia juga aktif mengikuti aneka organisasi. Sudah 19 tahun bisnis berjalan semakin berkibar. Nilai aset Nellys setara Rp.9 miliaran. Uang Rp.3 miliar tidak ragu ia keluarkan buat membangun bisnis pabrik penggilingan padi. Pabrik itu berdiri di lahan seluas 4000 meter persegi.

Penggilingan beras dilengkapi juga penyimpanan beras. Sudah jadi pemasok besar, tetapi dia tidak mau buat membeli gabah dari petani. Pasalnya dia tidak mau membunuh penggilingan kecil. Lantas dia mulai mengajak mereka, penggilingan kecil, menjadi mitra bisnis.

Ia justru membeli dari penggilingan kecil juga. Dari penggilingan mereka dimasukan ke penyimpanan dia. Oleh Nellys diproses dengan mesin kembali. Agar meningkatkan kualitas beras buat dikirim ke Jakarta. Ia juga mengajak petani bekerja bersama. Kemudian dia akan mengembangkan kapasitas penggilang tersebut.

Bisnis pusat kebugaran di Pondok Kopi, Bekasi Barat, juga jalan. Dia menjaring 400- 500 orang anggota fitness. Ia merambah bisnis suplemen, berbagai macam makanan sehat, mulai dari jualan beras merah, susu kedelai, lain- lain.

Kesibukan lain, dia menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPD Perpadi DKI Jakarta). Sudah menjabat sejak 2009, juga menjabat Sekretaris Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Jakarta. Jabatan itu digunakan untuk memperbaiki keadaan Pasar Induk.

Ia mencontohkan cap negatif pedagang Pasar Induk. Sering dianggap apalah- apalah. Disini tuga Nellys membuktikan mereka tidak begitu. Salah satunya dengan kegiatan penggalangan bantuan. Membantu orang banyak termasuk ketika gempa Padang. Mereka menggalang empat kontainer berisis beras buat bantuan.

Artikel Terbaru Kami