Selasa, 06 Desember 2016

Pengusaha Telur Ayam Arab Wanita Juga Bisa

Profil Pengusaha Melati Fajarwati 



Tekun pantang menyerah. Itulah Melati Fajarwati. Bermula dari inspirasi bisnis tetangga terdekat. Wanita asal Pontianak ini. Mulai asik menggeluti bisnis ayam petelur. Warga Pontianak, Kalimantan Barat, masih umur 20 tahun memulai peternakan sendiri.

Dia melihat peluang mengembangkan ayam organik. Mela melihat peluang ayam Balqis. Itu loh ayam Arab yang mana cocok dengan keadaan lingkungan Kalimantan Barat.

Bahkan dia menang perlombaan kewirausahaan Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan.

"Saya melihat peluang cukup bagus, tetapi belum dikelola dengan baik," imbuhnya.

Ia merasa beternak masih sekedar hobi. Untuk menjalankan rencana dia membuat bisnis plan. Jika para wirausaha percaya diri dengan bisnisnya. Mela memilih mengikuti perlombaan tersebut. Mela memilih merecanakan kedepan bisnisnya. Perencanaan matang dibuat agar tidak sekedar beternak.

Mengikuti perlombaan Bank Mandiri juga. Kemudian dari kemenangan tersebut, uang hasil lomba Mela pakai buat modal usaha tambahan. Dari perlombaan pula namanya menggema. Bisnisnya mulai maju dan menghasilkan 4 ribu butir per- hari.

Harga telur dia jual Rp.2.500 -an. Kalau dilihat omzet perharinya mencapai miliaran. Untung bersih dia membuka sampai Rp.10 juta. Omzetnya mencapai Rp.4,3 miliar. Peternakan Melati, di daerah Parit Wak Wiji, Kabupaten Kubu Raya, membawa dia menjadi jutawan muda.

Telur ayam Melati tidak membuat alergi. Apalagi menimbulkan bisul atau jerawat. Protein dihasilkan juga lebih tinggi. Dimana omega 3 nya lebih nendang dibanding ayam jawa. Ayamnya diberi nama ayam arab. Tetapi sebenarnya merupakan perpaduan antara ayam belgia dan jawa.

Melati spesifik memberika makanan. Bahkan dibilang joran. Jika ayam biasa cukup makan pelet. Maka ia membuatkan dedak khusus, campuran kepala udang, sayuran, dan jamu khusus. Dimana resepnya ya di jamu itu agar ayam mampu memiliki stamina bertelur lebih banyak.

Dia sejak mula sadar tidak bisa sendiri. Mangkanya untuk mengembangkan bisnisnya dia bermitra. Dia lalu mengajak peternak lain bersama. Mereka menghasilkan telur lebih banyak. Pertumbuhan jumlah ayam juga mudah karena saling menolong.

Untuk distribusi Mela sudah merambah Jawa. Puluhan juta sudah dihasilkan Mela sendiri. Kreativitas ia tidak berhenti. Pengembangan bisnis lainnya adalah membuat kerajinan cangkang telur. Dia mengajak para pemilik warung mie instan dan jamu. Khusus limbah cangkang akan dijadikan kerajinan termasuk tas juga.

Artikel Terbaru Kami