Jumat, 09 Desember 2016

Cara Menghasilkan Uang dari Bubur Kertas

Profil Pengusaha Sumarsono 




Menjadi buruh takut diphk. Namun, karena diphk, justru Sumarsono bisa menjadi pengusaha. Pasalnya dia tidak mudah putus asa. Ketika tempat kerjanya kolaps dan bubar karena krisi moneter. Justru Sumarsono mengajar ambisi pribadi. Menjadi pengusaha berbekal kemampuannya di bidang desain grafis.

Tepatnya tahun 1989, ia pertama kali datang ke Jakarta, dia bekerja menjadi advertising outdoor. Untuk ini dia bekerja menjadi produksi dan grafis. Dia punya dasar pemahaman tentang gambar. Hingga, masuk di tahun 98', bisnis perusahaan tempat Sumarsono bekerja kolaps.

Dua tahun dia hidup bermodal pesangon. Tahun 2000, kemudian Sumarsono berusaha serabutan menjual aneka benda seni seperti patung atau lukisan. "Ada dua tahun menganggur," kenangnya. Dia beruntung tak cuma memiliki keahlian tetapi bakat alam.

Bakat seni


Keluarga Sumarsono kebanyakan seniman. Khususnya dia tinggal diantara para seniman patung. Kemudian dia mengingat kerajinan masa sekolah. Bubur kertas. Dia berpikir kenapa tidak dibikin sesuatu. Dipadu padankan selera seni Sumarsono. Dia yakin bahwa kertas koran dapat dijadikan kesenian bernilai tinggi.

Tidak mudah seperti dibayangkan Sumarsono. Ketika mencoba malah takaran air tidak seimbang. Sia- sia sudah tumpukan koran tersebut. Ia belum paham caranya menyampur. Namun pria ini terus berusaha dan semuanya otodidak.

Kegagalan demi kegagalan dilalui. Akhirnya 2007 Sumarsono berhasil membuat bubur kertas. Kemudian dia mengolahnya menjadi ornamen dinding. Dia bercerita ketika memulai bermodal minim. Dia nekatlah menjual sepeda motor. Dia kemudian menambah melalui pinjaman orang.

Modal dikumpukkan dia sampai Rp.60 juta. Uang digunakan buat peralatan daur ulang. Buat membeli cat minyak, kertas koran, dan biaya oprasional. Itulah modal pertama digunakan Sumarsono. Hasilnya jadi 11 unit panel ornamen siap jual. Ia menamainya LaxsVin Art, dipasarkan ke pasaran Cibinong, Jawa Barat.

Sebelum memulai membuat bubur kertas. Ia pernah mencoba pakai panel kayu. Bahan bekas sengaja dia pilih karena murah dan go green. Tidak cuma papan, ada pelepah pisang, kemudian terakhir bubur kertas, menjadi pilihan utamanya. Bubur kertas memiliki karakter khas ketika diberi sentuhan lukisan olehnya.

Awal dia membuat cuma dua dimensi. Meskipun aneka warna, hasilnya tidak begitu bagus, nah sejak itu ia juga mulai bereksperimen lewat tiga dimensi. Tahun 2006 akhirnya menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Tidak punya literatur khusus menjadi panduan. Ia cuma meraba menciptakan produk belum orang lain buat.

Lukisan panel berukuran 80x120 tersebut laris manis. Dalam tempo dua jam tinggal dua buah. Sehari dia bisa mengantungi untung Rp.4 juta. Memasuki tahun 2007, dia mulai diajak pemerintah setempat aktif mengikuti berbagai pameran kewirausahaan. Melalui pameran dia membangun brand mengajak orang beli.

Melalui pameran dia mendapatkan masukan baru. Katanya jualan Sumarsono kemahalan. Dan ukurannya terlalu besar. Sulit buat dibawa orang perjalanan jauh. Khususnya buat panel lukisan yang dibandrol harga Rp.1,5 juta. Pembeli asing mengeluhkan produknya berat sulit dibungkus dibawa pulang.

Berbekal masukan tersebut dia merubah gaya. Lantas dia membuat panel seberat lima kilogram. Ukuran tersebut cocok dengan batas bagasi 20kg di pesawat. Bisnis panelnya dijalankan Sumarsono mengajak 3 orang pegawai bekerja. Kertas koran didapatkan lewat pengepul. Seharinya memakai 300- 400 kilogram koran bekas.

Agar pengepul tetap menjual ke dia. Dirinya ikhlas menaikan nilai beli sampai Rp.2000 per- 1kg. Maka para pengepul mendapatkan untung Rp.1000. Biaya produksi untungnya rendah. Menekan harga jual tetap dia bisa lakukan. Ukuran 45x45 dibandrol Rp.75.000- Rp.100.000, produksinya sampai ribuan panel.

Harga pas


Ia mengatakan kenapa makin laris. Panel bikinanya murah. Bahkan ada diskon Rp.75.000 sebuah bila mau membeli enam. Kan orang biasanya beli satu kali satu panel. Hal lain agar jualannya makin mantab ialah ia membuat lukisan berserial. Jadi orang akan berpikir buat menambah koleksi membeli lebih banyak.

Uang muka 30% buat pemesanan sudah cukup. Ukuran segitu sudah menutupi biaya produksi. Dia juga jadi eksportir menjual sampai ke luar negeri. Dia mengandalkan pameran menggait eksportir. Baik dari Brazil ataupun Malaysia. Omzetnya naik dari Rp.20 juta menjadi Rp.30 juta per- bulan.

Uang segitu 20% nya dipakai produksi. Total Sumarsono tidak mengandalkan pinjaman bank sama sekali. Ia menjamin panel buatanya akan selalu berbeda. Akan ada desain baru setiap kali ada kesempatan. Juga ia akan aktif mengikuti aneka pameran.

Warna era 80 -an dihidupkan kembali lewat dominasi oranye. Meskipun beda desain ataupun ukuran, dia tetap menyasar rumah konsep minimalis. Warna dasarnya berusaha memakai hitam. Tujuannya agar dapat dengan mudah ngeblend dengan warna cat rumah apapun.

Tidak cuma jualan saja. Ia menularkan konsep daur ulang juga. Dia memberikan pelatihan umum. Menjadi pembicara berbagai kegiatan bertama daur ulang. Dari NTB, Serang, dan Jakarta dia telusuri menjadi ahli di bidangnya.

Dari menjadi pembicara dan pelatihan, eh ternyata, ia bisa menghasilkan uang juga. Terutama jika dia beri pelatihan khusus. Bisa mencapai Rp.2,5 juta buat pelatihan. Dia sendiri tidak khawatir banyak pesaing. Ia beralasan setiap orang punya gaya lukis sendiri. Ditambah jam terbang dia lebih banyak soal aspek bisnis.

Mereka akan mengangkat budaya mereka sendiri. Gaya lukisan mereka sendiri juga. Dibantu tiga orang karyawannya. Untung didapat bisa mencapai 50% nya. Atau dia bisa mengantungi uang Rp.30 juta. "Saya akan mangajarkan mereka yang mau belajar," tutur dia.

Artikel Terbaru Kami